Anarki dan Anarkisme

Posted on May 21, 2008. Filed under: ARTIKEL |

Oleh: Tjuan Gempa

Di awal abad kedua puluh, Peter Kropotkin, salah seorang propagandis anarki (sme) yang paling berpengaruh, diminta untuk menulis definisi anarkisme untuk Ensiklopedia Britannica :

“[…] dimana masyarakat yang dicita-citakan adalah yang tanpa pemerintahan—keharmonisan dalam masyarakat dicapai bukan dengan mematuhi undang-undang, atau suatu otoritas, namun melalui kesepakatan bebas yang dicapai diantara berbagai kelompok, wilayah dan profesi, yang bergabung secara sukarela—untuk produksi dan konsumsi—dan juga untuk pemenuhan berbagai macam kebutuhan dan aspirasi mahluk yang beradab.”

Di sini anarkisme mengartikulasikan tatanan sosial dimana tidak seorangpun bisa menindas atau mengekspolitasi orang lain; sebuah tatanan dimana setiap orang mempunyai kesempatan yang setara untuk mencapai perkembangan material dan moralnya secara maksimal. Definisi tradisional tentang anarkisme seperti yang ditunjukkan di atas, harus dipahami sebagai sebuah titik tolak, suatu artikulasi untuk merespon secara positif konteks suatu tatanan masyarakat dimana minoritas masyarakat (yang memegang otoritas dalam institusi negara, institusi agama, institusi pendidikan, institusi ekonomi dan beragam institusi elitis lainnya) memiliki wewenang untuk mengontrol beragam aspek kehidupan mayoritas masyarakat.

Visi-visi anarki tersebut adalah ideal-ideal yang kemudian harus dijelaskan sebagai kemungkinan dan potensi eksistensi umat manusia. Pada perkembangan selanjutnya, melalui beragam reinterpretasi, kita menemui beragam artikulasi anarki yang menekankan pada kontinuitas perjuangan yang tanpa batas untuk memperluas lingkup kebebasan, yang secara konsiten didasari pada:
Penentangan terhadap otoritas. Pada umumnya penentangan anarkis terhadap otoritas dikaitkan pada penentangannya terhadap institusi negara dan institusi agama. Namun penentangan anarkis terhadap otoritas adalah suatu penolakan terhadap keterasingan manusia (yang diatur oleh otoritas tersebut) terhadap kemampuan, potensi dan hasrat/kehendak manusia itu). Maka penolakan terhadap keterasingan ini juga mencakup penolakan terhadap segala bentuk otoritas yang tidak dapat dilegitimasikan dengan alasan rasional, termasuk bentuk-bentuk kepemimpinan dan perwakilan. Meskipun pada dasarnya anarki menentang otoritas, tentunya terjadi pengecualian-pengecualian-pengecualian dalam kondisi-kondisi kritis ketika kepemimpinan dan perwakilan yang bersifat temporer tidak dapat dihindari.
Pada konstruksi relasi-relasi manusia berdasarkan asosiasi bebas. Anarki bukan sekedar suatu proposisi negatif yang berkutat pada penolakan, tapi juga menggagas konstruksi relasi manusia yang (lebih) membebaskan. Elaborasi tentang konstruksi relasi sosial adalah perbedaan mendasar dalam praksis anarki dengan aliran-aliran politik lainnya. Proyek-proyek anarkis selalu menekankan pada relasi horisontal diantara para partisipannya, penekanan pada inisiatif individual dan pengembangan potensi individual. Anarki yang terbatas dalam ruang dan waktu, dipraktekan dalam proyek-proyek anarkis – dimana cara (untuk mencapai tujuan) dan tujuan anarki menjadi terintegrasi dalam konteks-konteks tersebut.

Di sini pentingnya memaknai anarki, secara berbeda dengan isme-isme lainnya – bahwa anarki menolak doktrin absolut. Sekaligus ini adalah juga kritik terhadap anarki(sme) tradisional yang absolutis dengan cetak biru masa depannya. Bahkan kita dapat menemui artikulasi anarki sebagai kontinuitas perjuangan untuk memperluas lingkup kebebasan yang terus menerus tanpa suatu definisi akhir, dari sejarawan anarkis di awal abad keduapuluh, Rudolf Rocker:

“ Saya adalah seorang anarkis bukan karena saya percaya dengan anarkisme, tapi karena saya percaya bahwa tidak ada suatu tujuan akhir”

Di awal awal abad keduapuluh satu ini, teori anarki telah mengalami perkembangan dan pembaharuan, seiring dengan persinggungannya dengan teori-teori dari beragam displin ilmu sosial, diantaranya pengadopsian dan pengadaptasian pendekatan yang dikembangkan beragam wacana post-strukturalis . Gerakan dan teori anarki dalam beberapa dekade ini, menjadi cukup lentur untuk “berbaur” dengan beragam gerakan yang secara umum disebut sebagai gerakan anti otoritarian dan gerakan sosial/politk baru, yang secara fundamental didasari pada politik non hirarkis, desentralis, otonom dan swa kelola.

Genealogi Kekuasaan

Anggapan umum yang menyederhanakan anarki sebagai suatu aliran pemikiran yang hanya berurusan dengan pemusnahan negara adalah suatu bentuk pemiskinan terhadap kekayaan intelektual dan wawasan anarki. Anarki bukanlah semata-mata penentangan terhadap negara, tapi merupakan artikulasi tentang kekuasaan yang melandasi relasi manusia, tentang kritik terhadap hubungan-hubungan antara kekuasaan dan keterasingan manusia terhadap dirinya sendiri, tentang rekonstruksi kekuasaan dan relasi-relasi sosial.

Anarki bertitik tolak dari antagonisme antara kekuasaan/dominasi pada satu sisi dan kooperasi dan subyektifitas manusia (kekuasaan positif) pada sisi lainnya.

Monarki-monarki merupakan bentuk kekuasaan absolut yang mendominasi rakyatnya pada zaman feodalisme; disusul oleh negara nasion (sebagai fenomena dominan dalam zaman modern) dalam bentuknya, oligarki dan totalitarian; sedangkan di sebagian besar wilayah di Asia dan Afrika terjadi dominasi oleh pemerintahan kolonial, sebelum wilayah-wilayah ini mencanangkan perjuangan-perjuangan kemerdekaan nasional, yang akhirnya juga membentuk negara nasion-negara nasion baru; saat ini, negara nasion dan neo liberal yang mengglobal, merupakan rezim-rezim yang mendominasi masyarakat secara simultan.

Anarkis awal di wilayah-wilayah di Eropa, melontarkan banyak kritiknya terhadap negara, karena memang negara merupakan mode dominasi yang dominan pada waktu itu. Meskipun sebenarnya anarki melontarkan kritik-kritiknya terhadap konsentrasi kekuasaan, pada segala bentuk hirarki yang dikonstruksi secara sosial – pada hirarki laki-laki atas perempuan, tua terhadap muda, atasan terhadap bawahan dalam dunia kerja, pemimpin dan institusi moral terhadap konstituennya dan lain sebagainya.

Negara menjadi tema sentral anarki karena negara memayungi beragam bentuk hirarki dan kekuasaan elitis, yang mempunyai dampak luas dan mendalam terhadap kehidupan sosial. Negara, dalam beragam bentuknya baik itu oligarki ataupun totalitarian, melalui birokrasi, menggunakan wewenangnya yang mengatur kehidupan mayoritas masyarakat, dan memonopoli kekerasan teroganisir (tentara dan polisi). Meskipun di tiap-tiap negara terdapat perbedaan-perbedaan spesifik pada derajat wewenang birokrat negara, partisipasi masyarakat, keragaman jenis institusi sektoral di tiap-tiap negara dan bentuk-bentuk monopoli kekerasan, pada dasarnya negara merupakan bentuk sentralisasi kekuasaan oleh minoritas untuk mengatur kehidupan populasi mayoritas.

Dalam negara dengan demokrasi yang paling liberal sekalipun, sistem-sistem pemilihan wakil rakyat tetap tidak dapat mengubah wajah negara. Sejarah parlementarisme Amerika, negara yang dianggap demokratis, menyingkap fakta bahwa parlemen pada awalnya merupakan tidak lebih dari kumpulan para tuan tanah (yang pada waktu itu masih lengkap dengan budaknya). Dan mereka berbicara bagaimana sistem parlementarian merupakan sebuah sistem yang akan menjamin kebebasan tiap-tiap orang dan pada saat bersamaan dapat melanggengkan previlase-previlase politik dan ekonomi mereka.

Elitisme sistem parlementarian ditunjukkan pada abad ke19 di Eropa. Di awal pembangunan sistem parlementarian, mayoritas anggota parlemen, adalah mereka yang ditunjuk oleh elit-elit yang berkekuasaan – anak-anak para tuan tanah, pengusaha, dan pengacara. Ini tentunya bukanlah demokrasi bagi ‘massa yang bodoh’.

Walter Lippmann seorang demokrat Amerika, ternyata juga seorang perintis apa yang dinamakan konsep mengenai rekayasa opini publik yang dia namakan order demokratis baru, yaitu demokrasi parlementer. Pertama ada peran yang diusung oleh mereka dari ‘kelas khusus’ , ‘orang yang bertanggung jawab’, yang mempunyai akses terhadap informasi dan pemahaman – baginya orang-orang inilah yang ‘bertanggung jawab’ untuk membentuk ‘opini publik’ yang baik’… mereka (yang tergabung dalam kelas khusus) berinisiatif, mengadministrasi dan menyelesaikan’ dan harus dilindungi dari ‘orang luar yang tidak mempunyai kesadaran dan rusuh’. Bagi Lippmann, bukanlah pada tempatnya untuk publik memberikan penilaian, tapi cukup untuk sekedar memberikan ‘kekuasaan’ pada ‘orang-orang yang bertanggung jawab’.

Pada tahap lanjut perkembangan Negara-nasion dan kapitalisme modern, praktek-praktek pengontrolan yang semakin sistematis diterapkan pada populasi, melalui beragam teknik pengontrolan, terutama ditujukan pada pengontrolan populasi dan kehidupan manusia/tubuh, melalui statistik dan probabilitas, terutama dalam bidang kesehatan masyarakat dan regulasi ancaman (resiko terhadap kehidupan populasi). Bentuk-bentuk pengontrolan yang termasuk pengelolaan keturunan (keluarga), pengumpulan dan pemetaan sistematis etnisitas dan agama masyarakat.

Negara, sebagai bentuk kekuasaan adalah relasi sosial – dari dirinya sendiri, negara tidak mempunyai kekuasaan – seluruh kekuasaannya berasal dari akumulasi kekuasaan yang diberikan warga negaranya dan dari waktu ke waktu negara mengambil alih lebih banyak kekuasaan dari warganya. Hukum, undang-undang, ritual kenegaraan dan seluruh citra kenegaraan – hanya bisa menjadi bermakna ketika terjadi “konsensus” (melalui pemaksaan, hegemoni dan secara subliminal ) antara negara dan warganya. Seluruh asumsi tentang kekuasaan negara, terlepas dari kekuasaan yang diberikan oleh atau diambil alih dari masyarakat, berarti bahwa secara bersamaan warga (negara)/masyarakat telah kehilangan kekuasaannya.

Negara/nasionalisme menggunakan loyalitas pada kesamaan bahasa, etnisitas, kultural dan tradisi dan mengerucutkannya pada bentuk-bentuknya yang chauvinis untuk melegitimasikan eksistensi negara dalam landasan yang seolah-olah merupakan pijakan bersama. Bentuk chauvinis, loyalitas tanpa batas inilah, yang menjadi esensi dari patriotisme, suatu bentuk keterasingan manusia (yang mengidap patriotisme) dari kesadarannya – kesadaran bahwa dia dan minoritas yang melanggengkan negara tidak mempunyai kepentingan-kepentingan umum. Seperti yang kita ketahui bahwa banyak sekali terjadi kontradiksi-kontradiksi dalam klaim-klaim negara nasion sebagai perluasan komunitas yang berpijak pada kesamaan biologis dan tradisi. Di sini kita dapat mengutip Benedict Anderson mendefinisikan nasion sebagai konstruksi sosial yang hanya berada pada tataran “dapat dibayangkan”, bagi mereka yang merasa menjadi bagian dari sebuah nasion. Negara nasion bisa dikatakan sebagai sebuah artefak yang mewarisi sejarah sistem dominasi manusia oleh manusia, tapi yang sampai sekarang masih mempunyai daya tarik yang sangat kuat dan belum dapat dilampaui.

Transformasi

Anarkisme merupakan sebuah arus yang cukup besar dalam gerakan kiri internasional dari tahun 1880 sampai 1920 an (Revolusi Rusia). Revolusi Spanyol 1936 merupakan gerakan anarkis terbesar yang pernah terjadi di dunia. Anarkisme secara tiba-tiba “menghilang” dari arus perlawanan terhadap kapital. Pasca Perang Dunia Dua, masyarakat dunia hanya mengenal dua ideologi besar yaitu “demokrasi representatif” (kapitalisme pasar bebas) atau komunisme (yang secara esensi adalah kapitalisme negara, ketika representasi yang dikenal adalah Rusia, Cina dan berbagai negara komunis yang menjadi satelit-satelitnya).

Penemuan kembali anarkisme adalah salah satunya berkat jasa dari orang-orang kiri yang sedang melakukan pencarian alternatif-alenatif dari marxisme ortodoks.

Situationist International yang berkembang di tahun 1960-1970-an merupakan kelompok-kelompok intelektual dan seniman-seniman avant-garde yang mencoba menjelaskan kapitalisme yang sedang mengalami transformasi. Menurut situasionis, alienasi yang dicermati oleh Marx telah menyusup ke setiap celah dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat tidak hanya terasing dari barang-barang yang diproduksinya, lebih jauh lagi masyarakat juga teralienasi dari kehidupannya dan hasratnya. Komoditas sebagai ciptaan yang mengalienasi, telah menguasai kehidupan sehari-hari. Kapitalisme moderen menciptakan “masyarakat tontonan” atau masyarakat konsumen yang menjanjikan kepuasan, tapi yang tidak pernah dipenuhinya. Revolusi Paris 1968 merupakan momen bagi para situasionis.

Di samping itu, adalah kritik Situasionist International terhadap anarkisme, pada kecenderungan beberapa pemikir anarkis yang bereksperimentasi dengan ide-ide melampaui realisasi praksis, sehingga seringkali teori anarkisme menjadi artikulasi teori yang tidak mempunyai koherensi.

Di Eropa, Autonomen Jerman Barat menciptakan militansi baru dalam resistensi urban. Para Autonomen adalah revolusioner anti otoritarian yang mengenyahkan seluruh label ideologis termasuk anarkis. Gerakan mereka diwarnai praksis direct action, seperti pertarungan jalanan dengan elemen-elemen represif dan fasistik dalam masyarakat (seperti neo-nazi), pendudukan gedung-gedung kosong untuk dijadikan ruang-ruang otonom komunal. Di tahun 1988, dalam sebuah aksi merespon pertemuan IMF/Bank Dunia, Autonomen menggunakan taktik bercadar dalam protes dan melakukan pengrusakkan properti – Black Bloc pelopor yang kemudian menginspirasi anarkis.

Hakim Bey menerbitkan bukunya “Temporary Autonomous Zone : Ontological Anarchy,Poetic Terorism” di pertengahan tahun 80-an. Boleh dikatakan bahwa buku ini menjadi suatu tonggak dalam diskursus dan praktek anti otoritarian. “Berhentilah berpikir tentang revolusi sosial yang akan datang”. Setiap revolusioner bisa mengobral janji revolusi tanpa bisa memberikan kepastian kapan ia akan datang. Sedangakan Hakim Bey bisa “menjanjikan” apa yang disebut uprising (yang bagi sejarawan adalah suatu revolusi cacat dan gagal ). Uprising yang diartikan disini bukan hanya sebatas even-even politik spektakular, tapi juga mencakup hal-hal seperti penciptaan komunitas-komunitas otonom dan ruang-ruang yang dibebaskan – dimana komunitas dan individu dapat menerapkan utopia temporer. Temporary autonomous zone (zona otonom temporer) menjadi suatu konsep dimana ideal bertemu dengan realita – ketika konsep “revolusi yang akan datang” menjadi suatu hal yang absurd yang deminya manusia kembali mereproduksi hirarki, elitisme dan dominasi (seperti dalam “partai revolusioner”, “serikat buruh birokratis” dan bahkan serikat buruh sindikalis). Mungkin juga tidak ada sesuatu yang benar-benar baru yang ditawarkan disini ketika anarkis sejak lama telah menerapkan konsep tentang pentingnya praksis anarki dalam kehidupan sehari-hari. Bey hanya membahasakannya dengan lebih lugas, menawarakan sintesa-sintesa baru tentang konsep anarki dan kaitannya dengan sejarah dan revolusi, menemukan kosa-kosakata yang lebih pas dan meluaskan penjelasannya dengan data-data yang lebih lengkap tentang contoh-contoh TAZ yang terjadi sepanjang sejarah.

Anarkisme tradisional merupakan doktrin sosial yang menyerap ide-ide Pencerahan – penekanannya pada esensi tentang “sifat alamiah” manusia yang mulia dan rasional dan doktrinnya yang mencetuskan tujuan-tujuan yang positivis. Poststrukturalisme, sebagai wacana kritis menantang ide-ide tentang sifat alamiah, esensi dan positivisme. Anarkisme juga mengintegrasikan analisis-analisis poststrukturalis tentang simbol, representasi dan pemaknaan dalam pengelolaan komunikasi dan informasi oleh kekuasaan dominan. Pendekatan-pendekatan postrukturalis menggagas pandangan kritis terhadap bahasa dalam konstruksi identitas, penyajian dan pendistorsian isu-isu.

Kekuatan Kontra dan Konstruksi Resistensi

Bagi kebanyakan orang, “neo-anarkisme” lahir dari rintik-rintik hujan dingin dan kabut beracun yang menyambut Protes terhadap WTO, November 1999. Neo anarkisme bukanlah anak haram dari gerakan sosial yang banyak bermunculan saat ini. Anarkisme sendiri telah bertransformasi selama beberapa abad. Aksi langsung di Seattle hanya merupakan sebuah momen yang memunculkan anarkisme kembali menjadi wacana publik. Anarkisme telah menyumbangkan praksis yang menarik perhatian banyak orang dalam momen historis Seattle. Sejak saat itu, anarkisme bukan saja turut membentuk gerakan anti kapitalis saat ini; anarkisme juga telah menunjukkan bahwa prinsip-prinsip kebebasan berpotensi untuk menggantikan demokrasi representatif dan kapitalisme. Ke manakah anarki setelah Seattle?

Ketidakpastian-ketidakpastian muncul ketika kita tidak lagi ingin berpretensi tentang harapan berdasarkan determinisme positif pencerahan, dan juga ketika kita menolak segala bentuk pesimisme superior yang menihilkan seluruh kapasitas, potensi dan kemungkinan umat manusia mengkonstruksi masa depan yang lebih baik. Namun tanpa bersikap terlalu optimistis, setidaknya cukup beralasan untuk mengatakan dinamika yang ada masih terus menerus menghadirkan peluang dan potensi.

Ketika kita menolak determinisme sejarah/ narasi megah, genealogi menyingkap sejarah sebagai antagonisme, diskontinuitas, ledakan-ledakan peristiwa, yang tidak memiliki logika universal. Di sini sejarah lepas dari segala bentuk determinisme, yang berarti bahwa masa depan berada dalam relung potensi dan kemungkinan – bahwa batas-batas tidak terdefinisikan. Kemudian memahami pembebasan sebagai suatu proses produksi dan reproduksi terus menerus yang berada dalam relung potensi untuk pengembangan dan artikulasi hasrat beragam subyektifitas. Narasi pembebasan ini harus menyediakan ruang-ruang yang berlimpah bagi eksperimentasi dan konstruksi, dekontruksi dan rekonstruksi, dalam teori dan praksis.

Dinamika pembebasan ini menolak ketunggalan dalam gerak, arah dan tujuan; menolak seluruh komando sentral; menolak segala jenis subordinasi pada hirarki; menolak seluruh jenis politik representasi dan mediasi. Tujuannya adalah pluralitas maksimum. Secara fundamental, konstruksi resistensi ini terkait dengan pembebasan kehidupan kontemporer. Ia bukan cakrawala mesianistis yang memberi janji penebusan, bukan suatu mesin politik, yang demi mencapai mencapai tujuannya (nanti) akan mengorbankan yang sekarang. Ia adalah kendaraan kemanusiaan, yang ingin berpijak pada kondisi sekarang; yang ingin melampaui alienasi kehidupan sehari-hari manusia (hirarki, identitas representatif, separasi antara kehidupan sehari-hari dan hasrat-hasrat).

Setiap gerakan resistensi saat ini harus menjadikan dirinya sebagai proyek konstruksi komunitas-komunitas yang mampu menjadi wadah untuk mengelaborasi dan mengartikulasikan hasrat kemanusian. Bahwa segala jenis proyek resistensi ini harus mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan yang memang layak untuk dikembalikan dan mencipta nilai-nilai baru seiring dinamika dan konteks.

Zona otonom temporer – penciptaan komunitas-komunitas otonom dan ruang-ruang yang dibebaskan. Self valorization adalah konsep yang dipakai marksis otonomis untuk merujuk pada penciptaan kesadaran, relasi sosial dan beragam swa-aktifitas yang merupakan alternatif dari yang berlaku dalam kapitalisme. Self valorization merupakan hal-hal yang menyangkut konstruksi atau titik tolak penataan masyarakat pasca kapitalis: “anarki bukanlah sesuatu yang dikonstruksikan nanti, tapi merupakan sesuatu yang berkali-kali tercetus dalam sejarah dan kehidupan kontemporer”.

Kita merujuk pada sejarah penerapan dan elaborasi tatanan berdasarkan relasi sosial non hirarkis, pengorganisasian masyarakat secara desentralisasi dan penerapan swa kelola dan otonomi. Mulai dari akhir abad 19 di Paris (1871), di Rusia (1917), Ukraine (1918-1921), Spanyol (1936), Hunggaria (1956). Beberapa contoh kontemporer rekonstruksi masyarakat yang bersifat anarkis adalah Zapatista di Meksiko dan pemberontakan di Argentina (2001-2004).

Dunia dikejutakan pada tahun baru 1994. Tentara Pembebasan Nasional (EZLN) yang dikenal dengan Zapatista mengguncang dunia dengan gerakan bersenjata pasca modern – yang berhasil melampaui catatan-catatan sejarah perjuangan bersenjata yang berideologi Maois dan Leninis – yang pada kenyataannya adalah penerapan rezim penindas baru terhadap rakyat yang mereka klaim akan mereka selamatkan. Gerilya bersenjata Zapatista ini disandingkan dengan pembentukan zona-zona otonom di tiga puluh komunitas tradisional di Chiapas (Meksiko Selatan).

Pasca modern karena gerakan ini mengembalikan otonomi dan kedaulatan pada masyarakat melalui demokrasi langsung dan konsensus dan BUKAN sentralisasi. Apa yang dilakukan Zapatista dari tahun 1994 adalah mengkonstruksi sebuah sistem demokrasi langsung. Mereka membentuk organisasi-organisasi dan jaringan pembuatan keputusan, yang melibatkan ratusan ribu orang. Seluruhnya terdapat 32 komunitas setara dengan kecamatan (municipalities), dimana dalam setiap municipality terdapat antara 50-100 komunitas.

Di Argentina, apatisme terhadap sistem politik yang ada memang telah terjadi sejak lama, namun di lain sisi kebangkitan kesadaran politik terjadi dengan begitu cepat menyusul krisis neo liberalisme pada Desember 2001. Krisis ekonomi dan politik yang berkepanjangan dan perkembangan-perkembangan dari protes-protes sosial yang terjadi telah melahirkan perubahan karakter dalam politik kerakyatan: tumbuhnya kekuatan rakyat yang terorganisir secara spontan yang bebasiskan demokrasi langsung dan yang indipenden dari kekuatan politik tradisional (partai politik dan serikat buruh) dan penyatuan antara kelas pekerja bawahan dengan apa yang dianggap sebagai kelas menengah Argentina. Seperti dinyatakan oleh salah satu kelompok sosiologis dan aktivis dari Buenos Aires bahwa bukanlah suatu kebetulan ketika organisasi-organisasi serikat dan politik menjadi termajinalkan selama protes-protes pada bulan Desember .

Asambleas Popular (dewan rakyat) dan Piqueteros (kelompok pekerja menganggur) merupakan dua jenis bentuk pengorganisiran kerakyatan yang paling signifikan perkembangannya selama krisis di Argentina. Kedua jenis gerakan tersebut, meskipun mempunyai banyak perbedaan, namun keduanya merupakan pengorganisiran yang dilakukan secara otonom oleh para pesertanya dan mampu menjalankan kegiatannya dalam jangka waktu yang cukup panjang, tanpa membangun sebuah struktur birokrasi (hirarkis) di dalamnya.

Piqueteros dan dewan-dewan rakyat yang terbangun menjadi tulang punggung radikalisme. Mereka yang terlibat di dalamnya sangat berhati-hati untuk terus-menerus mempertahankan sistem pengorganisasian horisontal. Evan Henshaw-Plath, aktivis media dari New York yang telah beberapa bulan membantu Indymedia Argetina menjelaskan :

Orang-orang tidak menemukan demokrasi langsung melalui kritik intelektual terhadap hakikat pemaksaan dalam sistem representasi, tetapi karena mereka menginginkan dan membutuhkan perubahan nyata dan mereka hanya melihat bahwa inilah (demokrasi langsung) satu-satunya jalan keluar.

Agenda-agenda dewan-dewan rakyat diantaranya adalah perencanaan anggaran partisipatif dan pengaktifan kembali sentra-sentra produksi lokal. Di beberapa wilayah lain, suatu sistem “politik-mikro” nampaknya telah merubah wajah perlawanan tradisional:

Piqueteros di beberapa wilayah telah mengakibatkan ketidak-berdayaan pejabat pemerintah lokal. Di bagian barat laut kota General Mosconi, para pekerja yang menganggur telah menjalankan sejumlah 300 proyek, yang termasuk, perkebunan sayur organik, sentra proses air dan klinik P3K. Sebagian dari proyek tersebut telah menunjukkan keberhasilannya .

Kebun-kebun sayur organik bermunculan di taman-taman publik dan di lahan-lahan terlantar – sebagai suatu tanggapan terhadap kelaparan yang berlangsung Dapur-dapur umum diadakan di bekas bangunan bar-bar dan rumah makan-rumah makan. Gerakan piqueteros telah menciptakan sistem ekonominya sendiri. Misalnya, Serikat Pekerja Menganggur (MTD) memproduksi batu bata sendiri untuk digunakan membangun rumah-rumah pada lahan-lahan yang telah mereka duduki .

Serikat Pekerja Menganggur di Solano (MTD de Solano), merupakan salah satu fenomena tentang konstruksi horisontal dan kekuatan kontra yang paling signifikan. Serikat ini mengartikulasikan politik radikal dengan cakupan lebih dari 800 keluarga – dengan pengembangan beragam proyek ekonomi, politis dan kultural, untuk mengatasi pengangguran, kelaparan dan pendidikan.

Tantangannya adalah untuk melanjutkan narasi insureksi yang memungkinkan – yang mungkin akan berkembang dari beragam ledakan temporer (uprising) dan ruang-ruang dimana praksis-praksis kontra kekuasaan dibangun. Saat ini kita menunggu suatu momen ketika intensitas resistensi temporer dan pembangunan kekuatan kontra mendorong proses menuju titik tolak-titik tolak selanjutnya. Seluruh proses ini hanya akan terdefinisikan oleh eksperimentasi-eksperimentasi para militan dalam artikulasi dan elaborasi desentralisasi, otonomi dan swa kelola.

Catatan Kaki
Post-strukturalis yang dimaksud pada konteks ini, adalah wacana-wacana yang sebagian besar merujuk pada reinterpretasi pemikiran-pemikiran Marx, contohnya yang dilakukan oleh gerakan Marxis Otonom di Itali dan Situationist International di Prancis; dan juga pengintegrasian teori dari para pemikir dari beragam disiplin ilmu social, seperti Michel Foucalt, Félix Guattari, Gilles Deleuze dan Jacques Lacan.
Transmisi pesan yang disampaikan melalui bawah sadar manusia dan tidak terdeteksi oleh panca indera.
Kolektif-kolektif anarkis yang menggunakan aksi langsung dalam pengrusakan properti dan vandalisme. Black Bloc menjadi terkenal dalam protes anti WTO, November 1999, di Seattle, Amerika.
Benjamin Blackwell. “Micropolitics and The Cooking-Pot Revolution in Argentina”. Z-Net, August 29, 2002 [online] .
Evan Henshaw-Plath.” The People’s Assemblies in Argentina”, Z-Net, March 08, 2002 [online], .
Blackwell, “Micropolitics”.
Naomi Klein. ‘IMF Go To Hell’. Toronto Globe and Mail, March 19, 2002. [online]

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

2 Responses to “Anarki dan Anarkisme”

RSS Feed for ANARKO99 Comments RSS Feed

tjuan lagi ngerjain apa? kontak me at ayahdeo@yahoo.com

I conceive this internet site has got some very good info for everyone😀.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: