Jurnal Anarki edisi 3

Posted on May 22, 2008. Filed under: JURNAL ANARKI |

Tatanan Dunia Baru diantara bangkai

blok timur dan blok barat

jurnal3Tidak dapat dipungkiri bahwa ‘buku sejarah’ kita, yang memang hanya berguna sebagai monumen historis, adalah kreasi dari ideologi orde-baru atau mungkin lebih tepat ‘sebuah prekondisi bagi tatanan dunia baru.’ Sekali lagi peristiwa 1960an menyimpan banyak praduga yang seringkali tidak perlu namun pantas dibahas. Jikalau dilihat dengan logika kekuasaan dan apa yang sedang berkembang sekarang ini, kebijakan-kebijakan multinasional yang telah sedemikian rupa menjerat, saya pikir kita tidak perlu lagi memicingkan mata untuk melihat kemana sebenarnya sejarah berpihak. Kemana dan apa tujuan dari peristiwa pembantaian kaum Komunis Indonesia, menyimpan skandal konflik perang dingin antara blok barat dan blok timur. Blok barat yang direpresentasikan sebagai Negara-negara barat pasca perang dunia dua yang mempercayai ‘kompetisi bebas kapitalisme,’ dengan blok timur yang diketuai Uni Soviet, yang katanya memiliki misi suci yaitu mensejahterkan seluruh jagad raya dengan Komunisme. Banyak asumsi yang mengarah pada skandal internasional yang dilakukan oleh konspirasi Negara barat terhadap pengikut komunisme di seluruh dunia, dan Indonesia adalah salah satunya. Indonesia tidak memiliki kursi yang spesial untuk dikasihani atas konspirasi ini, karena pada saat itu Vietnam, Kuba, Nikaragua, Afghanistan, Argentina, Chekoslovakia, Aljazair mengalami nasib yang kurang lebih sama. Namun di beberapa negara, ideologi komunis dapat berjaya dan memapankan kapitalisme birokratik.

Kemalangan Indonesia adalah keterbungkaman total pasca-pembantaian 60an ketika logika kekuasaan berganti dan bunglon berubah warna di dalam bentuk yang sama. Dapatkah kita nilai kekuasaan tersebut dari logika pra-pembantaian dimana Indonesia masih berbinar merah, dimana Lekra dan Pramoedya Ananta Toer masih memiliki taring diatas kebebasan berseni dan orang-orang Manifes kebudayaan yang menolak kehadiran kekuasaan di dalam seni diasingkan, ketika kesadaran dan perjuangan kelas hanyalah kamuflase perayaan Stalinisme. Dan dalam sekejap hiruk-pikuk merah pun hilang, sastrawan Lekra Pramoedya Ananta Toer diasingkan tidak hanya di dalam ruang lingkup profesi tapi juga geografi (diasingkan di Pula Buru). Pada era pasca-pembantaian, semuanya tampak bungkam, semuanya, termasuk orang-orang Manifes Kebudayaan yang katanya menolak kekuasaan di dalam seni; entah karena senang ‘seni dapat berekspresi lagi’ atau memang tidak memiliki daya untuk mengangkat kepalan tangan menentang kekuasaan; ataukah sebenarnya dari awal semua ini adalah kesalahan komando sentral PKI yang menyuruh pengikutnya untuk tidak mengangkat senjata dan melawan peluru tajam dengan menundukan kepala, yang menghantar hampir dari keseluruhan jumlah mereka ke dalam kuburan massal. Tidak banyak yang tahu jelas mengenai hal ini, tapi yang pasti sejarah tenang-tenang saja dan aspek kritis dipadamkan, ketika yang tampak setelah itu hanyalah perseteruan antara Pramoedya dan Goenawan Muhammad, film Shadow Play, Partai Rakyat Demokratik, bahkan permintaan maaf Gus Dur kepada partisan PKI yang masih hidup yang menurut intelektual sekaliber Goenawan Muhammad “sudah dapat menuntaskan problematika sejarah.”

Di dalam film New Rulers of the World, seorang jurnalis Inggris, John Pilger, mengkonfirmasikan bahwa pembantaian tahun 60an di Indonesia memang merupakan skandal internasional untuk melepaskan Indonesia dari jerat Stalinisme Soviet, walau ini hanyalah lapisan muka dari cita-cita mereka yang kemudian dilanjutkan dan di representasikan oleh IMF dan Bank Dunia. Namun di film ini, dengan tidak bermaksud merendahkan kemurahan hati John Pilger di dalam membeberkan agenda neo-liberal dan kejahatan korporasi multinasional, tapi sayangnya film Pilger ini juga hanya memberikan kita sebuah dikotomi antara blok barat dan blok timur. Film-film seperti Shadow Play juga mengambil peranan di era pasca-orba ini untuk membeberkan konspirasi internasional di era tersebut, walau pada akhirnya hanya menjadi tontonan apik teori konspirasi dan secara bersamaan mengkonfirmasi amnesia historis gerakan sosial di Indonesia.

Apabila membaca majalah “Pembebasan” (sebuah terbitan dari Partai Leninis Indonesia a.k.a Partai Rakyat Demokratik) ditujukan untuk mencari suatu titik terang dari amnesia histories tersebut, maka pilihannya adalah hitam dan putih. Partai ini mengkritik Stalinisme dan membela Lenin, namun keduanya menyatakan perbedaan di dalam ekspresi yang sama: mereka masih sama-sama percaya bahwa partai mereka harus berkuasa, kapitalisme korporatik harus digantikan dengan “Negara proletar”, dan kesadaran pekerja tidak dapat melampaui kesadaran partai; sebuah etos satu komando, satu kekuasaan dari atas kebawah melalui agen-agen partai, yang lebih pantas disebut sebagai “kediktatoran partai.” Leninisme masih bisa berkamuflase, imej Stalinisme masih menjadi oposisi kapitalisme barat, tapi setelah tembok berlin runtuh dan beralihnya Negara-negara blok timur menuju ‘tatanan dunia baru’ di awal pasca 60an, semua romantisme revolusi 1917 terbukti sebagai kesia-siaan belaka. Mirip agenda-agenda PRD yang mengklaim diri dialektis dengan cita-cita yang sangat romantis. Absolutisme Soviet di dalam tatanan dunia melahirkan momok palsu dari sosialisme dan mitos kekuasaan pekerja; perkembangan ini mengubah bentuk orisinil komunisme menjadi kapitalisme birokratik melalui proses degenerasi yang cukup pendek. Beralihnya sosialisme Bolshevik menuju kapitalisme birokratik di pastikan ketika Tentara merah berhasil membantai insurgen Ukraina yang dipimpin oleh Nestor Makhno juga Dewan Pekerja Kronstadt yang terjadi tidak lebih dari 6 tahun setelah “dunia lama” diusir dari Russia demi mimpi sebuah tatanan sosialisme yang baru.

Ken Knabb, di dalam bukunya Public Secrets, berpendapat bahwa pertikaian antara kubu timur dan barat sebenarnya menyimpan relasi yang menguntungkan satu pihak. Di dalam logika kekuasaan, atau lebih tepatnya logika kapital, pihak yang memiliki modal yang lebih banyaklah yang menjadi jawaranya. Kapitalisme korporatik telah melewati berbagai krisis namun berhasil melampauinya dengan teknik-teknik integrasi yang baru, terutama ketika perang dunia kedua berakhir dan dunia menyambut amerikanisasi yang pesat. Sebuah “pabrikasi” massa yang besar-besaran dimulai setelah produksi industri berkembang pada level yang lebih tinggi, ini dapat dilihat dari perkembangan estetika produksi yang dikondisikan untuk berefleksi pada kemajuan pesat teknologi. Pada saat ini, modal besar, effisiensi, tatanan sosial kondusif yang dapat memacu produksi lebih berpihak pada ideologi “laissez fare” barat dibanding kekuasaan birokrasi komunis yang bobrok.Namun disisi lain, walaupun komunisme Stalinis terbukti menjelma menjadi sebuah kediktatoran dengan imej sosialisme, secara simultan kapitalisme barat juga mencapai titik krisis di dalam transformasinya menuju sistem yang lebih lanjut. Kebutuhan kapital untuk terus memperlebar dominasi menyebabkan krisis yang berkepanjangan (invasi kapitalisme barat ke hampir semua Negara yang masih dijangkit komunisme demi prekondisi globalisasi membutuhkan adanya pembantaian dan konspirasi internasional yang terselubung), kebutuhan ini nyaris menjadi boomerang bagi kapitalisme barat. Gelombang perlawanan yang besar terjadi hampir diseluruh dunia; gelombang protes anti-perang yang dashyat terjadi di Amerika dan Perancis untuk menentang pendudukan tentara As di Vietnam dan Perancis di Aljazair, insureksi di berbagai Negara bagian Amerika Serikat yang mengangkat isu anti-perang, pembebasan perempuan, rasisme dan hak-hak sipil, dan yang paling essensial adalah pemberontakan pelajar di Paris yang juga secara bersamaan mendekonstruksi teori Marxis mengenai prekondisi revolusi dan kesakralan kelas pekerja. Krisis kapitalisme ini menemukan kesamaan visi dengan Stalinisme, karena keduanya hampir dilempar dari alur sejarah oleh krisis yang mereka sebabkan sendiri. Di satu sisi, kepercayaan masyarakat akan tatanan alternatif dari kediktatoran Negara-negara Stalinis kembali mengarah pada ideologi demokrasi liberal barat, walau disisi lain moncong imperial dari logika modal juga tidak dapat menyembunyikan lagi bentuknya. Rekuperasi yang terjadi bisa dilihat ketika pekerja Perancis mengabulkan lobi-lobi Partai Komunis Perancis untuk mundur dari pendudukan pabrik-pabrik, Beattles-Jimi Hendrik dan para lifestyle hippies, juga para sosialis-reformis yang menjadi fondasi demokrasi liberal sekarang ini. Ini adalah tahun-tahun ketika Stalinisme telah mati dan kapitalisme modern memperbaharui bentuknya menjadi wujud reformis—tanpa oposisi palsu dari Stalinisme, yang disaat bersamaan mengkonfirmasikan dikotomi timur dan barat, cukup sulit bagi kapitalisme modern untuk memperbaharui bentuknya dan meredakan krisis. Ken Knabb menyatakan hal ini dengan lebih jelas: “Walaupun pemimpin-pemimpin barat berpura-pura menyambut kejatuhan Stalinis baru-baru ini sebagai sebuah kemenangan alami bagi sistem mereka, tidak satupun dari mereka memperhitungkan kedatangannya dan merekapun tidak mengetahui apa yang akan mereka lakukan dengan masalah yang datang setelah itu selain dengan mengambil keuntungan dari situasi tersebut sebelum semuanya hancur berantakan. Korporasi multinasional yang monopolistik yang menyatakan “free-enterprise” sebagai sebuah obat mujarab cukup was-was bahwa kapitalisme pasar-bebas dapat saja meledak di dalam kontradiksinya sendiri jika tidak di selamatkan oleh beberapa gaya baru pseudo-sosialis yang menuntut reformasi.”

Di era neo-liberal yang mengikat seluruh relasi ekonomi politik dunia ke dalam satu ikatan dominasi imperium, sebuah alternatif tatanan masyarakat yang baru adalah sesuatu yang sangat urgen. Tapi ini jelas bukan sebuah alasan untuk kembali menjadi romantis. Sebuah alternatif harus melampaui logika kekuasaan yang sedang merongrong. Pertikaian antara Goenawan Muhammad dan Pramoedya apabila dilihat dari sudut dialektis sejarah, menjadi semata-mata sebuah dikotomi yang sama. Goenawan Muhammad, seorang turis intelektual pseudo-radikal sejati, figur yang mengklaim tidak berada diantara ekstremis kanan dan kiri, adalah sosok liberal yang merepresentasikan ideologi kapitalisme lanjut. Apalagi klaimnya sebagai kiri-tengah yang menjijikan dan kolaborasinya dengan Partai Amanat Nasional. Sedangkan Pramoedya, yang baru-baru ini muncul di dalam tabloid “Pembebasan” (ironisnya), sudah terlalu tua untuk tidak setuju dengan politik reformis-kerakyatan regenerasinya. Sekarang pilihannya bukan lagi go west ataupun go east, semenjak blok timur sudah tinggal arang, tetapi bentuk reformis di dalam gayanya yang berbeda-beda.

Agenda-agenda kaum reformis memang dapat menambal beberapa krisis yang disebabkan oleh kapitalisme lanjut, tapi disatu sisi juga membuat akselerasinya semakin meningkat. Fakta bahwa pekembangan baru-baru ini tidak dapat dilampaui oleh agenda-agenda reformis seperti: jerat ekonomi global yang menyebabkan kerusakan di tiap sisi (pengrusakan alam, kemiskinan yang meningkat yang juga menyebabkan kerusakan dimana-mana) dan tidak ada jalan keluar dari jerat ini selain tunduk sepenuhnya pada arus kapital dunia atau menghancurkannya sampai tuntas: menghapuskan sistem ekonomi komoditi yang menjadi basis dari kapitalisme neo-liberal dan institusi-institusi hirarkis yang mengakomodasinya. Ini memang merupakan sebuah agenda yang besar, namun yang saya takutkan adalah, solusi ini merupakan satu-satunya jalan untuk melampaui krisis.

Ini bukan saatnya lagi untuk memilih dan menonton panggung kehidupan kita. Bukan saatnya lagi terjebak diantara dua kubu kekuasaan yang memiliki logika yang sama: kanan dan kiri, Bush atau Castro, Goenawan atau Pramoedya, dan oposisi-oposisi lainnya antara para pemimpin yang selalu menyuruh kita duduk dan menonton. Memilih pemimpin adalah alienasi itu sendiri, pilar dari logika kekuasan yang memporak-porandakan kehidupan kita secara general. Tiap jam masyarakat porak-poranda karena kebijakan neo-liberal, tiap hari orang mati kelaparan, dan tiap saat hutan dibabat habis demi kepentingan korporasi. Semua yang ada di dalam hidup kita; lingkungan, udara, dan ekologi, semuanya direnggut demi kebutuhan sebuah kerajaan ekonomi global. Setiap jentik dari bagian hidup kita bergantung pada keserakahan logika kapitalisme. Dan solusi yang kita dapatkan hanyalah reformasi yang tidak akan pernah dapat melampauinya ataupun lsm-lsm yang menambal satu krisis dan menghasilkan krisis di berbagai tempat. Gerakan sosial Indonesia harus dapat mengatasi amnesia historis ini dan menemukan alternatif total, dan juga tidak terjebak di dalam dunia para pemimpin maupun petualang intelektual yang selalu ingin berada di jalur yang aman, yang akan selalu berkata “bahwa semuanya akan baik-baik saja apabila reformasi dilaksanakan dengan benar oleh pemimpin yang benar juga.”

Amati ini baik-baik, semua pertimbangan diatas mengacu pada satu konklusi, bahwa masyarakat yang terbebaskan hanya dapat diciptakan melalui partisipasi aktif dari masyarakat itu sendiri, bukannya dari organisasi hirarkis yang mewakili mereka. Bukan juga dalam acuan memilih pemimpin-pemimpin baru yang “lebih bertanggung jawab” dan blablabla., tapi menghindari adanya perpindahan kekuasaan ke tangan segelintir orang dan menyerahkan independensi masyarakat dalam menentukan kehidupan mereka sendiri. Ketika semua proyeksi tontonan, ilusi kepemimpinan, benar dan salah, baik dan buruk lenyap, yang ada tinggal kita sendiri, dan berbarengan yang lain menginisiasikan perubahan secara otonom, dan ini saya pastikan tidaklah semudah memilih dan menurunkan pemimpin. Ini semua ada di tangan kita. Pilihannya sekarang adalah mengambil alih panggung sejarah (tidak menontonnya dari kejauhan) atau menelan pil amnesia historis dan kembali pada alur dunia yang repetitif. Ya Basta! Enough.

Free-spirit dan anarkis komunis inggris abad 17 Para Ranters dan Diggers

Gerakan free-spirit anarkis, perlahan-lahan berkembang menuju bentuk yang lebih konkrit pada abad ke 17 di Inggris. Gerakan ini menamai diri mereka sebagai Ranters dan Diggers. Pada masa tersebut kerajaan Inggris sedang mengalami revolusi dan perang sipil yang tidak berkesudahan. Raja dihukum mati diikuti dengan bertahtanya kediktatoran Cromwell. Kejadian-kejadian ini semakin meyakinkan hati masyarakat bahwa hidup mereka tidak akan pernah berubah. Karena situasi krisis ini, anarkisme mulai subur dihati para pemberontak, para prajurit yang kecewa oleh perang, petani miskin, dan para penghuni pinggiran di kota-kota.

Ribuan Ranters di London memiliki tempat berkumpul (Tavern) yang mereka juluki sebagai—‘the true House of God’—tempat dimana mereka minum-minum, bersenang-senang, bernyanyi, bersiul, berkata kotor, dan ‘berbicara tanpa henti’—inilah yang mereka maksud sebagai Rant ( berbicara terlalu banyak ). Para Ranters ini adalah pasifis, mereka lebih memilih mabuk setiap hari daripada berperang dan membunuh satu sama lain; namun disisi yang lain mereka juga menyatakan bahwa dosa itu tidak ada; bagi mereka ‘mengumpat, bermabuk-mabukan, perzinahan, dan pencurian itu sesuci tuhan.’ Di mata mereka juga: ‘keseimbangan, persamaan dan komunitas akan membangun kasih sayang, perdamaian, dan kebebasan sempurna yang universal.’

Gerakan inipun dengan waktu yang singkat menjadi popular diseluruh dataran Inggris, sehingga Cromwel memutuskan untuk bertindak tegas. Banyak dari para Ranters ditangkap dan dipenjara bahkan di hukum mati karena perilaku mereka yang dianggap menghina sensibilitas borjuis. Sebagaimana yang pernah dikatakan Cromwell mengenai seorang Ranter: ‘wanita ini terlalu kotor seperti binatang, kupikir ia tidak pantas hidup.’

Pada tahun 1640an terjadi musim panen yang buruk diikuti dengan kenaikan harga makanan dan pajak, pada saat yang bersamaan perang berakhir dan membuat ribuan prajurit menggelandang di jalan. Dan diseluruh Inggris bagian selatan: ‘para kaum miskin berkumpul bersama di dalam kelompok-kelompok dan merampas jagung-jagung yang akan di bawa ke pasar, mereka membagi-bagikan jagung rampasan tersebut yang lainnya dan berkata bahwa mereka tidak mau kelaparan, karena itu suatu keharusan untuk menghapuskan seluruh peraturan dan pemerintah, dan kelaparan akan memecah menerobos dinding-dinding batu.’

Di Burford tahun, 1649, seluruh rejimen memberontak namun dengan sekejap di tundukan secara keji. Di Walton-Thames, para tentara mendobrak sebuah gereja dan mengumumkan penghapusan dari pajak, kependetaan, kehakiman, dan injil. Di dekat bukit St.George di hari yang sama, 30 wanita dan pria, yang dipimpin oleh Gerard Winstanley, menggali lahan kosong dan mulai menanam benih di lahan tersebut.

Seorang pengamat dari kejadian tersebut menulis,‘Mereka mengundang semua orang untuk menolong mereka’, dan berjanji akan memberikan mereka daging, minuman dan pakaian. Mereka mengatakan kalau jumlah mereka akan bertambah menjadi 4 atau 5 ribu orang di dalam jangka waktu sepuluh hari.

Komunitas Digger arahan Winstanley ini tidak pernah melebihi jumlah 50 orang, walau kelompok-kelompok lainnya muncul di seluruh daratan Inggris.

Dari awal mulanya komunitas Digger ini sudah mengalami penolakan bahkan penyerangan dari penduduk lokal yang ‘berada,’ mereka menghancurkan perumahan komunitas tersebut, bibit-bibit dan alat menggarap tanah juga di rampas. Kaum Diggers beberapa kali di gebuki dan Winstanley sendiri dipenjara dua kali. Pada bulan maret 1650, ketika gubuk-gubuk mereka yang baru di bakar dan mereka semua terancam untuk dibunuh, para Diggers menyerah dan menghentikan aktifitas mereka.

Eksperimen mereka ini menginspirasikan Winstanley untuk menorehkannya diatas kertas. Tulisan yang berjudul The Law of Freedom yang diterbitkan di tahun 1652 ini adalah tulisan yang pertama kalinya di dalam sejarah memberi penjelasan yang seksama mengenai komunisme-anarkis. Winstanley memulainya dengan tuntutan agar semua orang dapat memiliki alat-alat bertani juga benih dan tanah bersama-sama dan memproduksinya secara bebas untuk semua. Semua orang yang masih sehat harus bekerja bersama dan tidak satupun orang memiliki hak untuk memiliki pekerja. Anak-anak pertama-tama harus diajari oleh orang tua mereka untuk mempelajari pertukaran, seni, ataupun ilmu pengetahuan agar mereka dapat mengambil peranan di dalam kerja-kerja produktif di masa depan. Politik akan di desentralisasikan; Negara tidak lagi diperlukan ketika semua orang terlibat di dalam administrasi komunitas-komunitas mereka sendiri. Pegawai publik tetap diperlukan, dan akan di pilih setiap setahun sekali.

Tapi fondasi utama dari rencana Winstanley adalah penghapusan dari kepemilikan pribadi atas tanah-tanah sebagai basis dari kebebasan yang sebenarnya. Akses yang setara untuk semua sumberdaya alam adalah esensi dari kebebasan dimana kebebasan yang lainnya akan menyusul:

Perhatikanlah bahwa Inggris dapat menjadi masyarakat yang bebas apabila saja kaum miskin yang tidak memiliki tanah dapat memiliki kesempatan bebas untuk menggali dan memanfaatkan sumberdaya yang dimiliki bersama dan juga untuk hidup senyaman para tuan tanah di pemukiman mereka. Dan itu bukan hanya sumber daya alam yang seharusnya diambil alih dan dimanfaatkan oleh masyarakat, namun keseluruhan dari sumberdaya dan lahan-lahan kosong di Inggris dan diseluruh dunia harus diambil alih oleh masyarakat dengan kebijaksanaan, dengan tidak mengklaim adanya kepemilikan pribadi namun mengambil alih bumi sebagai harta karun bersama.

William Godwin tentang Pendidikan

William Godwin (1756-1836)

Tak ada yang bisa lebih menyedihkan… Hanya ada satu keberatan cukup besar yang nampaknya menentang segala keutamaan ini [menentang suatu pendidikan libertarian]. Si pengajar ketakutan sejak awal, dan berkata: Bagaimana mungkin saya bisa membuat kerja literatur menjadi suatu obyek yang menyenangkan, lagi pula, bagaimana mungkin saya bisa menjaga kesenangan ini dengan segala daya kekuatannya kendati ada kemerosotan semangat yang akan terjadi setiap hari, dan kendati ada perubahan kualitas yang terjadi pada hampir segala gairah manusia, bahwa semangatnya sirna seiring surutnya kebaruan obyek itu?

Tetapi marilah kita tidak tergesa-gesa untuk mengakui hal ini karena suatu keberatan yang tak tertanggungkan. Kalau rancangan yang dikemukakan di sini memperbesar kesulitan guru di satu titik tertentu, biarlah diingat bahwa ini meringankan dia dari beban yang tak tertanggungkan dalam hal-hal lain.

Tak ada yang bisa lebih menyedihkan daripada kondisi guru dalam corak-corak pendidikan masa kini. Dia adalah yang terburuk dari para budak. Dia diasingkan ke pemenjaraan yang paling buruk… Seperti orang malang yang ditimpa nasib sial di sebuah kota yang hancur-lebur, dia dihancurkan agar yang lain bisa hidup… Dia dipandang sebagai seorang tiran oleh orang-orang yang berada di bawah wilayah hukumnya, dan dia memang seorang tiran. Dia merusak kesenangan-kesenangan mereka. Dia memberi kepada masing-masing siswa sebagian dari kerjanya yang tidak dia senangi. Dia memantau ketidakberesan dan kesalahan mereka. Dia terbiasa berbicara kepada mereka dengan nada mendikte dan mengecam. Dia adalah sang pesuruh untuk menghukum kebodohan mereka. Dia hidup sendirian di tengah kumpulan banyak orang. (“Tentang Komunikasi Pengetahuan”, Enquirer, IX.)

Bagaimana sebenarnya kita belajar?

Belajar dengan gairah adalah aktivitas yang sesungguhnya; tanpa gairah, belajar tak lain hanyalah aktivitas semu dan sekedar olok-olok. (“Tentang Komunikasi Pengetahuan”, Enquirer, IX.)

Manusia adalah mahluk yang senang bertindak dari dirinya sendiri; dan tindakan yang dilakukan dengan cara ini mengandung kesehatan dan tenaga yang jauh lebih besar ketimbang tindakan yang kepada itu dia digerakkan secara kuat oleh kehendak yang asing bagi kehendaknya sendiri. (“Tentang Pilihan dalam Membaca”, Enquirer, XV.)

…Saya ingin sekali merangsang seorang individu tertentu untuk mencapai pengetahuan. Satu-satunya metode yang mungkin dimana saya bisa membangkitkan gairah seorang mahluk yang peka agar melakukan suatu tindakan sukarela, adalah dengan memunculkan motif. Motif itu ada dua macam, intrinsik dan ekstrinsik. Motif intrinsik adalah motif yang muncul dari sifat yang inheren dari hal yang direkomendasikan. Motif ekstrinsik adalah motif yang tidak memiliki hubungan konstan dan permanen dengan hal yang direkomendasikan, namun tergabung ke dalamnya secara kebetulan atau karena kesenangan individu tertentu.

Jadi, saya bisa merekomendasikan suatu jenis pengetahuan tertentu dengan menunjukkan keunggulan-keunggulan yang niscaya akan hadir saat pengetahuan itu didapat, atau akan mengalir dari penguasaan pengetahuan itu. Atau, di sisi lain, saya bisa merekomendasikannya secara despotis, dengan rayuan atau ancaman, dengan menunjukkan bahwa upaya gigih untuk mempelajarinya akan saya sambut dengan senang hati, dan pengabaiannya akan saya tanggapi dengan rasa tidak senang.

Yang pertama dari kelas-kelas motif ini tak ragu lagi adalah yang terbaik. Digerakkan oleh motif seperti itu adalah kondisi yang murni dan sejati dari seorang mahluk rasional. Dengan mempraktekkannya, niscaya memperkuat penilaian/pertimbangan. Ia mengangkat kita dengan suatu rasa kemandirian. Ia menyebabkan orang bisa berdiri di atas kaki sendiri, dan merupakan satu-satunya metode yang dengan itu orang bisa dibuat benar-benar menjadi seorang individu, mahluk, bukan dari keyakinan yang implisit, melainkan dari pemahamannya sendiri. (“Tentang Komunikasi Pengetahuan”, Enquirer, IX.)

…Pendidikan publik selama ini selalu mencurahkan energinya dalam mendukung prasangka; ia bukan mengajarkan kepada murid-muridnya kegigihan yang akan membawa setiap dalil kepada pembuktiannya, melainkan mengajarkan seni untuk mensucikan ajaran-ajaran seperti itu karena berpeluang untuk dimapankan. Kita mempelajari Aristoteles, atau Thomas Aquinas, atau Bellarmine, atau hakim ketua Coke, bukan agar kita bisa mendeteksi kesalahan-kesalahan mereka, tetapi agar pikiran kita bisa dipenuhi dengan absurditas-absurditas mereka. Ciri ini nampak di setiap spesies kemapanan publik… pelajaran-pelajaran utama yang diajarkan adalah pemujaan yang bersifat tahayul kepada gereja Inggris, dan membungkuk hormat kepada setiap orang yang mengenakan jas necis. Semua ini bertentangan dengan kepentingan umat manusia yang sesungguhnya. (Keadilan Politik, VI, viii.)

Milton telah menulis sebuah puisi sublim tentang cerita konyol perihal memakan sebuah apel, dan tentang dendam abadi yang dideklarasikan oleh Sang Maha Kuasa terhadap seluruh umat manusia, karena nenek moyang mereka bersalah atas pelanggaran yang kelam dan menjijikkan ini. Tujuan puisi ini, sebagaimana dikatakan Milton kepada kita, adalah untuk menjustifikasi cara-cara Tuhan kepada manusia. (B. I, ver. 25). Namun, salah satu hal paling mengesankan yang dengan sendirinya terlihat dari topik ini ialah, bahwa moral yang sesungguhnya dan kesimpulan jelas dari sebuah karangan seringkali tersembunyi selama berabad-abad dari para pembacanya yang paling giat. Kitab-kitab telah diturunkan dari generasi ke generasi sebagai guru sejati yang suci dan perwujudan cinta Tuhan, yang mewakili dia sebagai sesosok despot[1] yang bersifat tirani dan tanpa belas kasihan, sehingga apabila kitab tersebut dipertimbangkan dengan cara-cara selain lewat medium prasangka, maka kitab tersebut tidak bisa mengilhamkan apapun selain kebencian. Nampak bahwa kesan yang kita peroleh dari sebuah buku bergantung kurang-lebih pada isi sebenarnya, ketimbang pada situasi pikiran dan persiapan yang dengan itu kita membacanya. (“Tentang Pilihan dalam Membaca”, Enquirer, XV.)

Apa yang sebaiknya dipelajari anak-anak?

Apakah benar-benar perlu bagi seorang anak untuk mempelajari sesuatu sebelum dia bisa memiliki ide tentang nilai dari sesuatu itu? Adalah mungkin bahwa tidak ada sesuatu pun yang sungguh penting bagi seorang anak untuk dipelajari. Tujuan sesungguhnya dari pendidikan remaja adalah untuk menyediakan, bagi remaja usia lima sampai dua puluh tahun, suatu pikiran yang teratur rapi, aktif, dan siap untuk belajar. Apapun yang akan mengilhami kebiasaan-kebiasaan industri dan observasi, akan bisa menjawab tujuan ini secara memadai. (“Tentang Komunikasi Pengetahuan”, Enquirer, IX.)

…Kalau prinsip-prinsip yang kita baca melulu menumpuk dalam pikiran kita, tak berkembang dan tak berubah, tak ragu lagi bahwa prinsip-prinsip itu hanya akan membuyarkan pikiran kita. Namun, kalau kita membaca dengan semangat yang wajar, barangkali kita tidak bisa membaca terlalu banyak: dengan kata lain, kalau kita memadukan refleksi-refleksi kita sendiri dengan apa yang kita baca; kalau kita membedah ide-ide dan argumen-argumen penulis kita; kalau dengan mencari sumber-sumber tambahan, kita berupaya keras untuk menjernihkan ingatan akan dia dalam pikiran kita; kalau kita membandingkan bagian dengan bagian, mendeteksi kesalahan-kesalahannya, mengembangkan model-model baru dari prinsip-prinsipnya, mengambil darinya bagian-bagian yang memang sangat bagus, dan menjelaskan di dalam diri kita alasan ketidaksepakatan maupun kesepakatan kita, maka seorang pembaca yang bijak akan memiliki ide yang jumlahnya jauh lebih banyak, yang lalu-lalang di pikirannya, ketimbang ide-ide yang disajikan kepadanya oleh si penulis. (“Tentang Belajar”, Enquirer, XI.)

Belajar adalah sekutu, bukan lawan, dari jenius… orang yang membaca dengan semangat yang wajar, jarang sekali akan bisa membaca terlalu banyak. (“Tentang Belajar”, Enquirer, XI.)

Kebebasan dan pengetahuan

Dengan cara apa nalar, yang bebas dari corak-corak dan praktek-praktek dunia yang umum diterima, mengajari kita untuk mengkomunikasikan pengetahuan? Kebebasan adalah salah satu yang terbaik dari semua keunggulan duniawi. Karena itu, saya akan mau mengkomunikasikan pengetahuan tanpa melanggar—atau dengan sesedikit mungkin kekerasan terhadap—kemauan dan penilaian individu orang yang akan diajar. (“Tentang Komunikasi Pengetahuan”, Enquirer, IX.)

Berbicaralah dengan bahasa kebenaran dan nalar kepada anakmu, dan tak usah khawatir akan hasilnya. Tunjukkanlah kepadanya bahwa apa yang anda rekomendasikan itu berharga dan dikehendaki, dan tak usah cemaskan apapun, melainkan bahwa dia akan menghendakinya. (Keadilan Politik, I, iv.)

Kalau sesuatu itu benar-benar bagus, ia bisa ditunjukkan sebagai benar-benar bagus. (“Tentang Komunikasi Pengetahuan”, Enquirer, IX.)

…Karena tujuan sebenarnya dari pendidikan bukanlah untuk membuat murid hanya menjadi duplikat dari pengajarnya, maka justru harus disambut dengan sukacita, bukan diratapi, bahwa beragam bacaan akan membawanya kepada latihan-latihan pemikiran baru… (“Tentang Pilihan dalam Membaca”, Enquirer, XV.)

Kalau kita menginginkan anak-anak kita untuk terus-terang dan tulus dalam perilakunya, kita harus menjaga agar keterus-terangan dan ketulusan tidak menjadi sumber keburukan bagi mereka… penghukuman tidak akan mendapat tempat dalam sebuah sistem pendidikan yang benar-benar bagus; bahkan raut marah dan kata-kata omelan akan sepenuhnya dijauhkan. (“Tentang Penipuan dan Keterus-terangan”, Enquirer, XII.)

Telah ditunjukkan bahwa kesan yang kita peroleh dari sebuah buku, sedikit-banyak tergantung pada isi sesungguhnya dari buku itu ketimbang pada sifat pikiran dan persiapan yang dengan itu kita membacanya. Karena itu, nampaknya ini harus dilanjutkan dengan prinsip bahwa, seorang pengajar yang terampil tidak perlu terlalu cemas untuk menghargai buku-buku yang akan dipilih muridnya sebagai bahan bacaan. Dalam hal ini, ungkapan terkenal dari rasul Paulus dapat diakui kebenarannya: Bagi orang yang murni, segala sesuatu itu murni. (“Tentang Pilihan dalam Membaca”, Enquirer, XV.)

Percayakanlah [siswa itu] sampai tingkat tertentu pada dirinya sendiri. Perkenankan dia dalam beberapa hal untuk memilih bahan bacaannya sendiri. Akan ada bahaya kalau harus ada sesuatu yang harus dipelajari dan monoton dalam pemilihan yang harus kita lakukan bagi siswa itu. Perkenankan dia untuk menjelajahi rimba literatur. (“Tentang Pilihan dalam Membaca”, Enquirer, XV.)

…Anak-anak haruslah diajak ke diskusi yang sesungguhnya, bukan ke kancah diskusi olok-olok yang memalukan. (“Tentang Penalaran dan Perdebatan”, Enquirer, XI.)

Pengetahuan dan kekuasaan

Tidak ada kesenjangan di antara umat manusia yang memungkinkan seorang manusia untuk mencengkeram beberapa manusia lainnya dalam ketertundukan, kecuali sejauh mereka memang mau ditundukkan. Semua pemerintahan didirikan berdasarkan opini. Orang-orang di masa kini hidup dalam suatu bentuk tertentu, karena mereka menganggap sebagai kepentingan mereka untuk melakukan hal sedemikian itu. Satu bagian sesungguhnya dari sebuah komunitas atau imperium dapat dicengkeram dalam ketertundukan dengan paksaan; tetapi ia tidak bisa berupa paksaan personal dari sang despot mereka; ini pastilah paksaan dari satu bagian lainnya dari komunitas tersebut, yang memegang pendapat bahwa adalah kepentingan mereka untuk mendukung kekuasaannya. Hancurkanlah opini ini dan sistem yang dibangun berdasarkan opini ini, hingga runtuh ke tanah. (Keadilan Politik, II,iii.).

[1] Orang yang memerintah dengan sewenang-wenang

Seni abad 19 dan Anarkisme

Resurgensi anarkisme di akhir abad ke 19 mendapatkan dukungan tidak hanya dari pekerja industri tapi juga seniman-seniman avant-garde Perancis, khususnya para pelukis and penyair. Pada saat itu puisi aliran Simblolis sudah mendapatkan reputasi sebagai aliran sastra pemberontakan. Figure-figur utamanya seperti—Arthur Rimbaud, Paul Verlaine, Stephane Mallarme, dan Charles Baudelaire—menjadikan puisi mereka di dalam oposisi keras terhadap dogma mapan dari struktur dan sifat yang kaku. Aliran Simbolis ini menekankan bahwa penyair harus bebas untuk menciptakan dan menggunakan bentuk menurut kemauan mereka sendiri. Yang lebih penting lagi, panduan prinsip-prinsipnya harus menjadi keunikan dan pengalaman subjektif dari penyair itu sendiri. Syair yang baik diciptakan dan dimengerti dengan membiarkan kebebasan total imajinasi untuk meginterpretasi. Sebagaimana yang dijelaskan oleh penyair Simbolis Stuart Merril:

‘Apa yang menjadi kekuatan dari teori simbolis adalah anarkinya itu sendiri. Yang menuntut penyair agar menjadi signifikan, dalam konteks individu, dan dari situ mereka memperlihatkan diri mereka sendiri di dalam pikiran dan emosi dengan menggunakan imaji-imaji semungkin-mungkinnya. Aliran Simbolis adalah anarkisnya sastra.’

Karya Stirner The Ego and its Own di konsumsi lingkup luas dari lingkaran aliran Simbolis dan penulis-penulis seperti Felix Feneon, Gustave Kahn, Emilie Verhaeren, Bernard Lazare, Pierre Quillard dan Paul Adam yang secara terbuka menerima anarkisme, yang lanjut hari mengomentari and menjuluki Ravachol, seorang anarkis penjahat, dengan berkata ‘seorang santo telah lahir diantara kita.’

Dukungan terhadap anarkisme bahkan lebih kuat diantara para pelukis. Seorang seniman Impresionis, Camille Pissarro, secara regular menghasilkan litograf untuk Koran La Revolte, walaupun sering sama sekali tanpa imbalan uang, Camille menyelamatkan Koran ini dari kebankrutan dua kali dengan membayar semua hutang-hutang Koran tersebut. Figure-figur kunci dari gerakan neo-impressionis seperti—Paul Signac, Henri Edmond Cross, Charles Angrad, Theo Van Rysselberghe dan Maximilien Luce—diantara mereka, yang juga anarkis dan sering memberi kontribusi pada publikasi-publikasi anarkis. Anak-anak Pissarro tumbum menjadi pelukis dan anarkis. Buku The Anarchist Peril, yang terbitkan pada tahun 1894, berisi dua belas lukisan karya anak-anak dan cucu Pissarro, mereka adalah Lucien, Georges, Felix, dan Rodo, dan di tahun 1901 Lucien mengilustrasikan sebuah buku anak-anak yang ditulis oleh penulis anarkis Jean Grave. Octave Mirbeau, seorang anarkis dan novelis, mendeskripsikan keluarga Pissarro:

‘….di dalam masa tua, dikelilingi oleh anak-anaknya, yang semuanya menjadi seniman, yang berbeda-beda! Semuanya mengikuti sifat alami mereka sendiri. Ayahnya tidak mengajari mereka teori, doktrin, pandangan dan perasaan yang dimilikinya. Ia membiarkan anak-anaknya untuk mengembangkan sendiri visi dan intelejensi individual mereka sesuka hati.’

Di dalam kata-kata Pissaro: ‘Sungguh indah dan membahagiakan bahwa anak-anak ini memiliki cinta terhadap seni. Zaman kita ini sungguh menyedihkan sampai-sampai kita hanya bisa merasakan hidup kita di dalam mimpi yang indah.’

Dada: anti-seni

Semasa perang dunia, Negara Swiss yang netral menjadi surga bagi kaum radikal, pembelot, pasifis, dan para seniman yang melarikan diri dari kegilaan perang. Pada tahun 1916 Sebuah grup bernama Cabaret Voltaire di Zurich, yang beranggotakan Hugo Ball, seorang penyair muda dan sutradara teater, Emmy Hennings, seorang penyanyi dan penari kabaret, memulai sebuah gerakan yang bertujuan untuk menghancurkan seni dan menyerang keseluruhan tatanan borjuis.

Banyak seniman yang berasal dari berbagai macam gerakan seni seperti—kubisme, ekspresionisme, post-symbolisme, dan futurisme—bergabung untuk membentuk grup seniman avant-garde radikal internasional yang mengkerucut menjadi Cabaret. Pada tanggal 14 bulan Juli, penyair anarkis, Tristan Tzara mendeklamasikan syairnya Manifesto of Mister Fire Extinguisher. Dada telah lahir. Syair ini di ciptakan untuk membawa sebuah iklim kekacauan, ketidakteraturan dan kontradiksi yang berapi-api untuk menghancurkan—untuk ‘menegasikan’—tatanan yang mapan. Dada pun menjadi semakin abstrak dan eksrim. Karya The Admirals Seeks a House to Rent dibaca oleh beberapa orang dengan bahasa yang berbeda-beda secara bersamaan, yang diringi dengan siulan, bunyi bell, letupan, drum, dan pukulan diatas meja. Tzara di dalam tulisannya Notes for the Bourgeois, menjelaskan syairnya: ‘memberikan kemungkinan bagi para penonton agar menghubungkannya ke dalam porsi yang sesuai bagi diri mereka dengan elemen karakteristik personalitas mereka sendiri …’

Para Dadais menyerang seni tanpa lelah karena mereka melihatnya sebagai simbol utama dari kultur borjuis. Namun di saat yang bersamaan mereka juga percaya bahwa seni dapat di re-definisikan kembali agar menjelma menjadi pengalaman yang sepenuhnya di dalam hidup. Dengan demikian Dada mempunyai dua tujuan: pertama, untuk menghancurkan tatanan sosial melalui seni; kedua, mencapai kebebasan total melalui seni. Kebebasan yang mereka maksud bukan hanya semata-mata mengakhiri tirani dari budaya borjuis,. atau semakin leluasanya kebebasan politik, tapi pembebasan total dari tatanan itu sendiri. Karena itu, mereka melihat penghapusan dari logika dan rasionalitas yang berkuasa, adalah sesuatu yang normal dan lumrah. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Hans Richter:

‘Seni harus membentuk jalannya menuju fungsinya yang baru dimana hanya dapat diketahui setelah negasi total akan segala sesuatunya yang pernah eksis sebelumnya—sampai saat itu, kekacauan, destruksi, perlawanan, ‘confusion.’ Dan kesempatan untuk peranan ini bukanlah ekstensi dari sudut pandangan Seni, namun sebuah prinsip akan pembubaran dan anarki di dalam Seni—anti-Seni.’

Dada menginginkan untuk mendobrak batas-batas yang menghalangi dan kondisi dari pikiran yang sadar, batas-batas yang menghalangi kreasi maupun kesadaran akan kebebasan di dalam pikiran yang dipusingkan oleh kontradiksi-kontradiksi absurd dunia modern—sebuah dunia dimana, sebagai contoh, pemerintah mengeksekusi penjahat dikarenakan kejahatan pembunuhan tapi secara bersamaan mengambil keuntungan dari pembantaian manusia dimana pemerintah sendiri terlibat. Dada melihat batasan-batasan ini dapat dihancurkan dengan membukan jalan bagi irrasionalitas, dan ketidakteraturan, dan dari sini akan membuka kemungkinan sebuah dunia baru, sebuah perubahan, dimana batasan-batasan dan aturan musnah, yang ada hanya spontanitas dan kreatifitas individu—sebuah dunia Seni.

Pemberontakan di Berlin tahun 1918 memberikan kesempatan bagi para Dadais untuk membawa ide mereka ke tingkat praktik. Richard Huelsenbeck dan Raoul Haussman berangkat ke kota dan pada bulan April membentuk Dewan sentral Dadais Revolusioner. Manifesto mereka menginginkan:

Serikat revolusioner internasional kaum intelektual yang kreatif dari pria dan wanita di dalam basis komunisme radikal.

Introduksi dari penggangguran progresif melalui mekanisasi yang komprehensif di tiap sudut aktifitas. Hanya melalui pengangguran, terbuka kemungkinan bagi individu untuk mencapai kepastian sebagai kebenaran dari hidup dan pada akhirnya membiasakan diri dengan pengalaman.

Pengambil-alihan yang urgen dari kepemilikan—yaitu, sosialisasinya—dan pemanfaatan komunal bagi semuanya. Selanjutnya, ereksi dari kota yang bergairah, taman-taman yang dimiliki oleh masyarakat sebagai suatu keseluruhan dan mempersiapkan kemanusiaan untuk sebuah kebebasan yang sebenarnya.

Para pastur dan para guru diwajibkan untuk setia pada ‘Dadaist Articles of Faith.’

Penggunana syair Dada sebagai sebuah doa resmi Negara.

Gereja-geraja diwajibkan untuk mengadakan pertunjukan musik dan puisi Dadais.

Pembentukan 150 sirkus-sirkus demi pencerahan bagi proletariat.

Pembuatan regulasi dari seluruh relasi seksual menurut kepercayaan Dadaisme Internasional dengan pendirian dari sebuah Lembaga Seksual Dadais.

Dewan Revolusioner Berlin merespons para Dadais dengan berencana mengangkat Huelsenbeck sebagai komisaris dari Fine Arts! Diantara Huelsenbeck terdapat juga para seniman seperti Frans Jung, John dan Weiland Heartfield, George Grosz, Walter Mehring, Hans Richter, dan Kurt Schwitters.

Sementara itu di Cologne, Marx Ernst dan Johannes Baargeld membentuk Dada Conspiracy of the Rhineland. Majalah anarkis mereka yang bernama Der Ventilator terjual sebanyak 20 ribu eksemplar sampai ketika majalah ini disupresi oleh Polisi. Di tahun 1920, Hans Arp bergabung untuk mengadakan ekshibisi Dada besar-besaran untuk pertama kalinya. Satu-satunya jalan masuk menuju ekshibisi tersebut, yang di adakan di sebuah halaman tertutup di belakang sebuah kafe, adalah melewati sebuah tempat buang hajat umum. Ketika pengunjung memasuki tempat ekshibisi, mereka akan disambut oleh seorang gadis muda, yang berpakaian seakan-akan hari itu adalah hari komuni katolik pertamanya, sembari mengeluarkan kata-kata cabul. Diantara ekshibisi ada seni pahat karya Ernst yang dibuat dari kayu yang sangat keras dengan menggunakan kapak, diatasnya tertera sebuah tulisan yang mengundang orang-orang untuk menghancurkan kerja.

Kembali ke Berlin, anarkis dan Dadais Johanes Baader mengklaim dirinya sebagai ‘Superdada, President of the League of Superdadaist Intertelluric Nations and Representative of the Desks of Schoolmasters Hagendorf.’ Disebuah upacara pentahbisan pemerintah Jerman yang baru di tahun 1919, Baader menyebarkan poster ke pengunjung dan penonton, yang menominasikan dirinya sebagai Presiden dari dunia.

Outro: elegi untuk Revolusi

How many stopped writing at thirty? How many went to work for Time? How many died of prefrontal Lobotomies in the Communist Party? How many are lost in the back wards Of provincial madhouses? How many on the advice of Their psychoanalysts, decided A business career was best after all? How many are hopeless alcoholics?

Diatas adalah sebuah potongan puisi Rexroth yang saya ambil dari tulisan Ken Knabb Relevance of Rexroth. Sebuah puisi yang menyiratkan kekecawaan sekaligus sebuah panggilan. Panggilan untuk Revolusi? Mungkin saja, apabila dihubungkan dengan kehidupan si penyair, yang tidak lepas dari aktifitas politik radikal

Namun bukan hidup Rexroth yang ingin saya tulis disini. Sudah banyak tulisan mengenai Rexroth sebagaimana hidup yang telah ia jalani. Mari tinggalkan Rexroth dan melihat ke diri kita sendiri.

Harapan generasi revolusioner hampir berakhir. Ketika yang kita lihat hanya sebatas imaji-imaji dan bukan aksi. Perkembangan pasca hc/punk, pasca 98, pasca-pasca dan pasca lainnya hampir tidak membawa kita kemana-mana selain sebuah jalan menuju situasi yang sama. Generasi revolusioner masih terlihat diseberang kabut, dan yang sudah melewatinya berada di persimpangan, kadang melihat sebuah jalan, kadang berhenti di jalan buntu. Kekosongan yang tidak dapat dilampaui.

Banyak yang bilang perkembangan semacam ini lebih menuju kepada alasan yang realistis. Kebutuhan untuk mencari uang, hidup enak, aman, santai, tanpa ada gangguan dan resiko. Sebuah impian zaman modern. Kesadaran manusia yang kembali belajar di sekolah untuk mengenal kembali kompromi.

Tapi ada juga yang kembali, bukan hanya kompromi ‘secuil demi cuil,’ tapi sepenuhnya, kembali memberi dedikasi pada dunia tua yang membusuk. Diantara bar-bar para eskapis yang frustasi, dikamar isolasi yang absurd, dan diantara desakan-desakan untuk‘survive,’ banyak dari kita sudah terbantai dan susah bangun lagi. Atau mungkin saja sudah mati.

Jurnal ini adalah cara untuk menemukan harapan. Mencoba merangsang reaksi kimi individual untuk bangun dari mimpi dunia lama dan membuka mata terhadap ‘sistem dunia lama’ dengan seperangkat mesin dominasinya yang terus-menerus memporak-porandakan kehidupan kita. Martin Luther King pernah berkata, “Hanya ketika cukup gelaplah maka kita bisa melihat bintang di angkasa,” untuk memberi semangat pada perjuangan hak-hak sipil di tahun 60an. Seperti elegi ini, juga seperti puisi Rexroth, yang juga bukan sekedar kecewa, tapi bertanya, apakah mati lebih baik daripada hidup? Apakah petualangan, cinta, persahabatan, konfrontasi dan hasrat adalah sesuatu yang dapat disubstitusikan dengan kepatuhan? Dengan segala kenyamanan dunia modern dan televisi?

Rexroth mengiba dan bertanya dalam syairnya, betapa banyak yang telah mati. Mati memang bagian dari hidup, tapi seperti yang dikatakan oleh Zarathustra, banyak yang mati terlalu telat dan mati terlalu dini.’ Dimanakah seharusnya kita mati disaat yang tepat, sebuah doktrin yang ganjil untuk mempertimbangkannya. Tapi Zarathustra memiliki jawabannya, dengan mengumandangkan sebuah alasan mati yang baik: ‘to die thus is a best death; but the second best is: to die in battle and to squander a great soul.’ Maksud Zarathustra, mati haruslah alami, sealami ketika organ-organmu sudah tidak bisa bekerja lagi, namun sebelum itu pertarungan masih harus dihadapi, bukannya menyerah tanpa syarat kepada ‘demoralisasi.’

Apa itu “anarkisme”? apa itu “anarki”? siapa sih para “anarkis” itu?

Anarkisme adalah sebuah ide tentang hidup dengan cara yang lebih baik. Sedangkan Anarki adalah sebuah cara untuk hidup.

Anarkisme menganggap bahwa pemerintahan ( Negara ) itu bukan saja tidak diperlukan tapi juga berbahaya. Para anarkis adalah mereka yang mempercayai anarkisme dan memiliki hasrat untuk hidup di dalam anarki sebagaimana yang pernah dilakukan oleh para leluhur kita dulu. Mereka yang mempercayai pemerintahan ( seperti kaum liberal, Marxis, Konservatif, sosialis dan fasis ) dijuluki sebagai “statist.”

Awalnya anarkisme mungkin terkesan sangat negatif – karena oposisinya yang mentah. Namun sebenarnya, para anarkis memiliki banyak ide positif mengenai hidup di dalam sebuah masyarakat tanpa pemerintahan. Tidak seperti para Marxis, Liberal dan konservatif, mereka sama sekali tidak menawarkan sebuah cetak biru dari masyarakat.

Apakah para anarkis itu adalah “bomb thrower”?

Tidak – setidaknya apabila kita membandingkannya dengan Pemerintah Amerika Serikat, yang lebih sering melempar bom ke Iraq setiap harinya dibanding para anarkis di dalam 150 tahun aktifitas gerakan mereka. Kenapa sih kita tidak pernah mendengar julukan “bomb throwing president”? mana yang lebih berbahaya jika para anarkis yang melempar bom dengan kapasitas individual yang setara dengan militer Amerika Serikat yang vertikal dan dominan?

Para anarkis telah aktif bertahun-tahun di berbagai Negara, di bawah pemerintahan otokratik sampai ke pemerintahan yang demokratik. Kadang ketika berada di dalam kondisi akut yang represif, beberapa anarkis merasa relevan untuk melempar bom. Namun banyak pengecualian untuk aksi semacam ini. Stereotip “anarkis pelempar bom” tersebut di buat oleh politisi dan jurnalis di akhir abad 19, dan sampai sekarang mereka masih sering menggunakannya, bahkan julukan tersebut adalah sesuatu yang terlalu dilebih-lebihkan.

Apakah pernah ada tatanan masyarakat anarkis yang benar-benar bekerja?

Ya, ribuan dari tatanan masyarakat anarkis pernah bekerja. Pada permulaan sejuta tahun ataupun lebih, seluruh manusia hidup sebagai ‘hunter-gatherers’ di dalam kelompok-kelompok kecil yang egaliter, tanpa ada hirarki maupun otoritas. Mereka ini adalah para leluhur kita. Masyarakat anarkis pernah sukses, kalau tidak, cukup diragukan keseluruhan dari kita sekarang ada disini. Negara baru berumur beberapa ribu tahun, dan memakan waktu cukup lama bagi Negara untuk menyingkirkan ‘masyarakat anarkis yang terakhir,’ seperti para San ( Bushmen ), para orang-orang kerdil dan suku Aborigin Australia.

Tapi bukankah kita tidak dapat kembali ke dalam cara hidup semacam itu?

Hampir semua dari pada anarkis akan setuju dengan pendapat tersebut. Namun bagi para anarkis, untuk mempelajari masyarakat semacam ini, tetap menjadi sebuah pembuka mata yang dapat kita manfaatkan dari ide-ide mereka yang berguna seperti: kerjasama, individualisme, dan sistem sukarela yang di praktekan oleh masyarakat tersebut. Ambil satu contoh, para anarkis dan ‘tribesmen’ seringkali memiliki metode resolusi konflik yang sangat efektif termasuk mediasi dan arbitrasi yang tidak terikat. Metode-metode mereka seringkali berhasil daripada sistem legal kita, karena keluarga, persahabatan, lingkungan para tetangga yang berselisih akan mencoba saling mendamaikan dan dibantu oleh kepercayaan dan simpati diantara mereka, lalu mencari resolusi yang masuk akal dari masalah yang dihadapi. Di tahun 1970an dan 80an, akademisi mengamati bahwa beberapa ahli mencoba mentransplantasikan metode semacam ini ke dalam sistem legal Amerika. Namun secara alami transplantasi ini pelan-pelan menghilang, karena metode semacam ini hanya dapat berhasil di sebuah masyarakat yang bebas.

Para anarkis itu naïf: mereka pikir sifat alami manusia itu pada dasarnya baik.

Tidak seperti itu. memang benar bahwa anarkis menolak ide-ide moral maupun dosa besar. Ide-ide semacam ini kepunyaan dari agama dimana kebanyakan orang tidak lagi mempercayainya. Tapi anarkis juga tidak sepenuhnya percaya bahwa sifat alami manusia itu pada dasarnya baik. Mereka melihat manusia sebagaimana tindakannya. Kenyataannya adalah manusia bebas dari segala macam ‘esensi’ ( sifat alami ). Kita yang hidup di dalam kapitalisme dan sekutunya, yaitu Negara, adalah orang-orang yang tidak memiliki kesempatan untuk menjadi apapun yang kita inginkan.

Meskipun para anarkis seringkali memperlihatkan bentuk moral yang baik di dalam masyarakat, sebanyak mereka terlihat memiliki kepentingan yang tercerahkan. Anarkisme bukanlah doktrin pengorbanan diri, walau banyak dari para anarkis berjuang dan mati dikarenakan apa yang mereka percayai. Para anarkis mempercayai bahwa memperjuangkan basis mendasar dari ide mereka akan menciptakan kehidupan yang lebih baik kepada semua orang.

Tapi bagaimana kamu mempercayai kalau orang-orang tidak akan saling mengorbankan satu sama lain tanpa adanya kendali Negara akan kejahatan?

Apabila kamu tidak percaya kalau orang-orang biasa tidak akan mengorbankan satu sama lain, lalu bagaimana bisa kamu percaya kalau Negara tidak akan mengorbankan kita semua? Apakah mereka yang berada di kekuasaan adalah orang-orang yang tidak mementingkan diri sendiri, penuh dedikasi dan lebih superior dari orang-orang yang mereka kuasai? Semakin kamu memiliki kepercayaan kepada sesamamu, semakin banyak alasan bagimu untuk menjadi seorang anarkis. Dibawah anarki, kekuasaan disebarkan dan direduksi. Setiap orang memiliki satu, dan tidak ada satupun yang memiliki lebih. Dibawah Negara, kekuasaan dikonsentrasikan, dan kebanyakan masyarakat tidak memilikinya sama sekali. Bentuk kekuasaan seperti apa yang akan kamu lawan?

Tapi—realistis ajalah—apa yang bisa terjadi kalau polisi itu nggak ada?

Sebagaimana seorang anarkis Allen Thornton mengamati, “bisnis polisi bukanlah untuk melindungi; bisnis mereka adalah balas dendam.” Mari lupakan Batman yang mengelilingi kota dengan memerangi kejahatan yang sedang terjadi. Patroli polisi tidak mencegah kejahatan atau menangkap kriminal. Ketika patroli polisi berhenti diam-diam di lingkungan masyarakat kota Kansas, rating kejahatan masih berada di peringkat yang sama. Namun ketika masyarakat bersama-sama menjaga lingkungan mereka dan saling memperingati akan kejahatan, penjahat akan memilih lingkungan masyarakat yang hanya dijagai polisi. Bagi para kriminal daerah seperti itu tidak terlalu beresiko.

Tapi Negara modern telah sedemikian dalam terlibat di dalam peraturan keseharian. Hampir setiap aktifitas memiliki semacam hubungan dengan peraturan Negara.

Memang benar – tapi ketika kamu memikirkannya lagi, kehidupan sehari-hari kita hampir semuanya adalah anarkis. Cukup jarang kamu menemui polisi kecuali ketika mereka sedang menilangmu karena mengemudi terlalu cepat. Perencanaan sukarela dan saling mengerti hadir di hampir semua aktifitas. Sebagaimana anarkis Rudolph Rocker menulisnya: “fakta bahwa di bawah despotisme pun hubungan personal manusia dengan sahabat-sahabatnya direncanakan dengan persetujuan yang bebas dan kerjasama yang solider, tanpa hubungan semacam ini kehidupan sosial tidak mungkin terjadi.”

Kehidupan keluarga, membeli dan menjual, persahabatan, penyembahan, seks, dan waktu luang adalah anarkis. Bahkan ditempat kerja, yang dilihat oleh para anarkis sebagai bagian dari Negara, para pekerja masih dapat bekerjasama diam-diam, terlepas dari genggaman bos, dengan tujuan untuk meminimalisir dan juga agar cepat menyelesaikan pekerjaan. Beberapa orang mengatakan kalau anarki itu tidak bekerja. Namun segala hal yang dikerjakan Negara berada di dalam sebuah fondasi anarki, bahkan di ranah ekonomi.

Bukankah para anarkis itu ateis? Kebanyakan orang bukanlah ateis.

Kamu tidak perlu menjadi seorang ateis untuk menjadi anarkis. Anarkis menghargai semua kepercayaan pribadi individu. Secara historis, kebanyakan anarkis menjadi ateis karena institusi agama dalam sejarah selalu menjadi sekutu dari Negara, dan juga karena mencegah orang-orang berpikir untuk dirinya sendiri. Semua anarkis menolak aliansi tidak suci antara agama dan Negara dimanapun itu, entah di Iran, Israel, ataupun di Amerika Serikat. Tapi ada juga anarkis-anarkis religius yang inspiratif seperti para anarkis Kristen ( Leo Tolstoy, Dorothy Day ), anarkis yahudi ( Paul Goodman ), anarkis muslim ( Hakim Bey ), dan para anarkis yang menganut pagan dan kepercayaan-kepercayaan relijius timur lainnya.

Budaya?

Anarkisme selalu menjadi inspirasi bagi individu-individu kreatif yang memperkaya budaya. Penyair anarkis seperti Percy Bysshe Shelley, William Blake, Arthur Rimbaud dan Lawrence Ferlinghetti. Essais anarkis Amerika seperti Henry David Thoreau dan di abad 20 seperti, si anarkis katolik Dorothy Day, Paul Goodman, dan Alex Comfort ( The Joy of Sex). Anarkis akademisi seperti ahli linguistik Noam Chomsky, sejarawan Howard Zinn, dan anthropologis A.R Radcliffe-Brown dan Pierre Clastres. Terlalu banyak Sastrawan anarkis di dalam daftar, mungkin yang lebih dikenal seperti Leo Tolstoy, Oscar Wilde, dan Mary Shelley ( penulis Frankenstein ). Pelukis anarkis seperti Gustav Courbet, Georges Seurat, Camille Pisarro, dan Jackson Pollock. Anarkis-anarkis kreatif lainnya seperti musisi John Cage, John Lennon, dan band CRASS, masih banyak lagi.

Misalnya pendapatmu tepat bahwa anarki itu adalah sebuah cara hidup yang lebih daripada sistem (Negara) yang ada sekarang ini, bagaimana kamu dapat menyingkirkannya apabila Negara memang sekuat dan seopresif seperti yang kamu bilang tadi?

Para anarkis selalu memikirkan pertanyaan seperti ini. Dan mereka tidak memiliki jawaban yang mudah. Di Spanyol, pada tahun 1936 kaum anarkis mencapai jumlah jutaan orang dan militer sedang mengusahakan kudeta, mereka membantu pekerja mengambil alih pabrik-pabrik dan secara bersamaan melawan fasis di garda depan. Mereka juga membantuk petani-petani untuk membentuk kolektif-kolektif di desa-desa. Para anarkis juga melakukannya di Ukraina sekitar tahun 1918-1920, dimana mereka terpaksa harus melawan tentara Czar dan Komunis. Namun cara-cara tersebut bukan lagi cara yang akan digunakan kalau kita ingin menyingkirkan sistem di abad 21 ini.

Apabila mempertimbangkan revolusi-revolusi yang menyingkirkan komunisme di Eropa bagian timur, banyak kekerasan dan kematian yang terjadi, kejadian ini melebihi Negara-negara lainnya. Tapi apa yang dapat menurunkan para politisi, birokrat, dan jendral-jendral—musuh-musuh yang sama yang kita hadapi—hanya karena mayoritas dari populasi menolak untuk bekerja atau melakukan apapun yang akan membuat sistem yang sudah busuk ini untuk terus berjalan. Apa yang bisa dilakukan oleh pemimpin-pemimpin di Moskow ataupun Warsaw ketika ini terjadi, menjatuhkan bom nuklir ke diri mereka sendiri? Membunuh semua pekerja yang bekerja demi kehidupan mereka?

Kebanyakan anarkis telah lama mempercayai metode yang mereka sebut sebagai ‘pemogokan besar-besaran’ dapat menjadi bagian penting untuk menyingkirkan negara. Yaitu, suatu penolakan atas kerja secara kolektif.

Jika kalian semua menentang pemerintahan, kalian pasti menentang demokrasi.

Apabila demokrasi berarti masyarakat mengambil kendali atas hidup kita sendiri, maka semua anarkis adalah, sebagaimana yang dikatakan seorang anarkis Amerika Benjamin Tucker sebagai, “demokrat Jeffersonian yang tidak pengecut” – satu-satunya demokrat yang sejati. Namun itu bukanlah demokrasi sebenarnya. Di kehidupan nyata, sebagian orang ( di Amerika, hanya segelintir orang ) memilih para politisi yang akan megnendalikan kehidupan kita dan membuat peraturan-peraturan dengan menggunakan birokrat-birokrat yang tidak dipilih juga polisi untuk menjalankannya tanpa mempertimbangkan apakah mayoritas menyetujuinya atau tidak.

Sebagaimana yang pernah ditulis oleh filsuf Perancis Rosseau ( bukan anarkis ), di dalam demokrasi, masyarakat hanya bebas di saat mereka memilih, dan di momen-momen selain itu mereka adalah budak-budak pemerintah. Dan para politisi di kantor juga para birokrat biasanya berada di dalam kendali yang kuat dari bisnis-bisnis besar, bahkan seringkali dibawah kendali bisnis-bisnis yang mempunyai kepentingan tertentu. Semua orang mengetahui fakta ini. Tapi sebagian orang terus-menerus mendiamkannya karena mereka juga mendapatkan keuntungan dari para pemegang kekuasaaan. Yang lain tetap mendiamkannya karena mereka tahu kalau protes itu sia-sia dan mereka beresiko di cap sebagai “ekstrimis” atau bahkan “anarkis” (!) jika memang seperti ini, demokrasi memang hebat ya!

Well, kalau kamu tidak memilih petugas pemerintahan untuk membuat keputusan, jadi siapa yang akan melakukan hal tersebut? Jangan bilang kalo kamu akan mengatakan kalau semua orang bebas melakukan apa saja yang mereka inginkan tanpa mempertimbangkan yang lain.

Kaum anarkis memiliki banyak ide mengenai bagaimana keputusan akan diciptakan di dalam sebuah masyarakat yang bersifat sukarela dan kooperatif. Kebanyakan anarkis percaya kalau masyarakat seperti ini harus berbasis komunitas lokal yang cukup kecil agar orang-orang saling mengenal satu sama lain, atau setidaknya orang-orang akan menjalin pertalian seperti keluarga, persahabatan, dan berbagi pandangan maupun kepentingan satu dengan yang lainnya. Dan karena ini adalah sebuah komunitas lokal, masyarakat akan memiliki pengetahuan bersama atas komunitas dan lingkungan mereka. Mereka akan menyadari bahwa mereka harus hidup dengan konsekuensi atas keputusan yang mereka buat. Tidak seperti politisi dan birokrat yang memutuskannya untuk masyarkat ( yang bahkan tidak mereka kenal ).

Para anarkis percaya bahwa keputusan harus selalu dibuat di dalam level sekecil mungkin. Setiap keputusan dimana para individu bisa memutuskannya untuk diri mereka sendiri, tanpa mencampuri keputusan individu lainnya, yang juga harus membuat keputusan mereka sendiri. Setiap keputusan yang dibuat oleh kelompok kecil ( seperti keluarga, konrgregasi relijius, organ-pekerja, etc ) sekali lagi adalah keputusan mereka sendiri dan tidak diperkenankan mencampuri keputusan kelompok yang lain. Keputusan-keputusan antar kelompok yang menyebabkan benturan yang signifikan, jika benar-benar dikhawatirkan oleh semuanya, dapat membentuk sebuah dewan ekstra untuk bertemu dan menangani masalah.

Dewan komunitas semacam ini bukanlah legislator. Tidak ada satupun yang dipilih. Masyarakat harus berbicara untuk diri mereka sendiri. Dan ketika mereka akan membicarakan isu lebih spesifik disitu, mereka cukup sadar bahwa bagi mereka, menang bukanlah, sebagaimana yang dikatakan oleh pelatih grup sepak bola Vince Lombardi, “segala-galanya.” Mereka menginginkan semua orang untuk menang. Mereka menghargai pertemanan mereka dengan tetangga. Yang harus mereka lakukan, pertama, mereduksi kesalahpahaman yang ada dan mengklarifikasikan isu. Seringkali tindakan semacam ini sudah cukup untuk menghasilkan persetujuan. Jika itu memang tidak cukup, mereka dapat melakukan kompromi. Namun seringkali tindakan pertama sudah cukup. Jika memang tidak dapat berjalan sama sekali, dewan dapat menunda isu, selama isu ini tidak membutuhkan keputusan yang cepat, agar keseluruhan komunitas dapat merefleksikannya dan mendiskusikan masalah tersebut di pertemuan selanjutnya. Jika benar-benar gagal, komunitas yang harus menemukan jalan apakah masih ada jalan bagi mayoritas dan minoritas untuk berpisah dalam sementara waktu, maka keduanya harus mengajukan apa yang mereka inginkan mengenai hal tersebut.

Apabila semua itu telah dilakukan, dan memang gagal, jika masyarakat memiliki perbedaan isu yang tidak dapat disatukan, maka minoritas memiliki dua pilihan. Dapat bergabung dengan mayoritas, untuk kali ini, karena keharmonisan komunitas lebih penting dari isu yang di perjuangkan. Mungkin mayoritas dapat menegosiasikan keputusan minoritas mengenai hal yang lain. Jika ini gagal juga, dan jika isunya memang sangat penting bagi minoritas, solusi yang mungkin adalah memisahkan diri, seperti yang dilakukan oleh Negara-negara bagian Amerika (Connecticut, Rhode Island, Vermont, Kentucky, Maine, Utah, West Virginia, etc ). Apabila pemisahan diri mereka ini bukanlah sebuah alasan menentang statisme, maka ini tidak menentang anarki. Ini bukanlah kegagalan bagi anarki, karena komunitas yang baru akan menciptakan kembali anarki. Anarki bukanlah sistem yang sempurna – hanya saja lebih baik dari yang lainnya.

Kita tidak dapat memuaskan kepentingan dan kemauan kita pada level lokal saja

Mungkin tidak semuanya, tapi ada bukti dari arkeologi bahwa pernah terjadi perdagangan jarak-jauh, lebih dari ratusan bahkan ribuan mil, di era prasejarah yang anarkis di Eropa. Masyarakat primitif anarkis pernah dikunjungi oleh ahli anthropologi di abad 20, seperti para ‘hunter-gatherer’ San ( Bushmen) dan suku tribal Trobriand, melakukan perdagangan semacam ini dalam hubungan dagang antar individu – meskipun hubungan semacam ini lebih seperti saling memberi daripada yang kita pikir sekarang sebagai kepentingan dagang. Anarki yang telah dipraktekan tidak pernah bergantung pada self-suffiisiensi lokal yang total. Namun banyak dari anarkis modern menegaskan bahwa komunitas dan daerah-daerah, harus bisa menjadi seself-suffisien mungkin, agar tidak bergantung pada bagian yang luar yang jauh. Bahkan dengan teknologi modern, yang seringkali di desain untuk memperbesar pasar komersil dengan menghancurkan self-suffisiensi, sebagaimana pemerintah dan korporasi menginginkan lemahnya self-suffisiensi lokal lebih dari yang kita tahu.

Satu definisi dari “anarki” adalah kekacauan. Bukankah seperti itu wajah anarki yang sebenarnya—kekacauan?

Pierre-Joseph Proudhon, orang pertama yang mengaku dirinya seorang anarkis, menulis bahwa “kebebasan adalah ibu, bukanlah anak perempuan dari tatanan.” Tatanan anarkis lebih superior daripada tatanan Negara karena anarki bukanlah sebuah sistem hukum yang koersif, tatanan ini sesimpel bagaimana masyarakat dapat mengenal satu sama lain dan memutuskan bagaimana mereka akan hidup bersama-sama. Tatanan anarkis berdasarkan persetujuan dan perspektif bersama.

Kapan sih filosofi anarkisme diformulasikan?

Beberapa anarkis berpendapat bahwa ide-ide anarkis telah diekspresikan oleh Diogenes kaum Cynic pada peradaban Yunani Kuno, oleh Lao Tse di era China Kuno, dan beberapa mistik medieval juga selama abad 17 di Inggris ketika terjadi perang sipil. Namun anarkisme modern dimulai dengan William Godwin dengan tulisannya Political Justice yang diterbitkan di Inggris di tahun 1793. Di bangkitkan kembali oleh Proudhon di tahun 1840 ( dalam tulisan What is Property? ). Dia menginspirasikan gerakan anarkis diantara pekerja-pekerja Perancis. Max Stirner dengan tulisan The Ego and His Own (1844) dipertimbangkan sebagai pencerahan dari egoisme yang menjadi basis mendasar nilai-nilai anarkis. Seorang Amerika, Josiah Warren, secara independen mencapai ide yang sama di jaman yang sama dan menginspirasikan sebuah gerakan skala besar untuk mencapai komunitas utopian. Ide-ide anarkis dikembangkan oleh revolusioner Russia Mikhail Bakunin dan juga oleh ilmuwan Russia Peter Kropotkin. Para anarkis berharap ide-ide mereka berkembang seiring berubahnya dunia.

Para revolusioner ini terkesan mirip sekali dengan Komunisme, yang tidak diinginkan orang banyak.

Kaum anarkis dan Marxis telah menjadi musuh semenjak tahun 1860. Meski kadang-kadang mereka bekerja sama melawan musuh bersama-sama seperti Czarist selana revolusi Russia dan fasis Spanyol selama perang sipil Spanyol, dan para komunis selalu mengkhianati anarkis. Dari Karl Marx sampai Joseph Stalin, kaum Marxis selalu mencela anarkisme.

Beberapa anarkis, pengikut Kropotkin, menjuluki diri mereka sebagai “komunis” – namun bukan Komunis. Namun mereka membedakan komunisme yang mereka praktikan, yang di organisasikan dari bawah – pengambil-alihan tanah, fasilitas dilakukan secara sukarela dan mereka bekerja di komunitas lokal dimana orang-orang saling mengenal satu sama lain – Berbeda dengan Komunisme yang dipaksa melalui Negara, menasionalisasi tanah dan fasilitas produksi, menolak semua bentuk otonomi lokal, dan mereduksi para pekerja menjadi pegawai-pegawai Negara. Apakah kedua sistem ini kurang berbeda?

Kaum anarkis menerima dan bahkan berpartisipasi di dalam kejatuhan Komunisme Eropa. Beberapa anarkis dari luar membantu para oposisi blok timur – sebagaimana yang tidak pernah dilakukan oleh pemerintah AS – selama bertahun-tahun. Para anarkis sekarang justru banyak aktif di Negara-negara bekas pendudukan Komunis.

Kejatuhan Komunis memang banyak menjatuhkan imej kiri-Amerika, tapi bukan para anarkis, banyak dari para anarkis sendiri tidak menganggap diri mereka sebagai orang kiri. Anarkis sudah ada sebelum Marxisme dan masih ada setelahnya.

Bukankah para anarkis menggunakan kekerasan?

Kaum anarkis tidak sebrutal kaum demokrat, republikan, liberal dan konservatif. Orang-orang ini tampak tidak berbahaya karena mereka menggunakan Negara untuk melaksanakan semua pekerjaan kotornya – untuk menggunakan kekerasan demi kepentingan mereka. Kekerasan tetaplah kekerasan. Menggunakan seragam atau mengibarkan sebuah bendera tidak dapat merubah definisinya. Negara adalah defiinisi dari kekerasan itu sendiri. Tanpa menggunakan kekerasan yang mereka gunakan kepada leluhur anarkis kita – para ‘hunter-gatherers’ dan petani – tidak akan pernah ada yang namanya Negara sekarang ini. Beberapa anarkis memang menghalalkan kekerasan – tapi seluruh bentuk Negara melakukan kekerasan setiap harinya.

Beberapa anarkis, di dalam tradisi Tolstoy, adalah pasifis dan menolak kekerasan secara prinsip. Sejumlah kecil anarkis percaya strategi untuk melawan Negara dengan kekerasan. Kebanyakan anarkis percaya akan mekanisme mempertahankan diri juga menghalalkan beberapa tingkat penggunaan kekerasan di dalam situasi revolusioner.

Isu sebenarnya bukanlah pro kekerasan melawan anti-kekerasan. Tapi aksi langsung. Para anarkis percaya bahwa masyarakat – seluruh masyarakat – harus memutuskan nasib mereka ke tangan mereka sendiri, secara individu maupun kolektif, entah melakukan sesuatu yang legal ataupun illegal, entah itu harus dicapai dengan kekerasan atau tanpa-kekerasan.

Apa sih struktur sosial sebenarnya dari sebuah masyarakat yang anarkis?

Kebanyakan anarkis belum benar-benar “yakin.” Karena dunia akan menjadi sangat berbeda setelah pemerintahan telah dihapuskan.

Kaum anarkis tidak biasanya menawarkan cetak biru, tapi mereka menawarkan cara-cara menuju hal tersebut. Mereka berpendapat bahwa ‘mutual aid’ – kerjasama dibanding kompetisi – adalah basis yang utama di dalam kehidupan sosial. Mereka adalah individualis di dalam sudut pandang dimana mereka berpendapat bahwa masyarakat eksis demi kepentingan individual, bukannya sebaliknya. Mereka menawarkan desentralisasi, yang berarti fondasi dari masyarakat haruslah lokal, komunitas yang berhubungan langsung. Komunitas seperti ini lalu difederasikan – di dalam hubungan saling menguntungkan – namun hanya untuk mengkoordinasikan aktifitas-aktifitas yang bisa dikerjakan oleh komunitas lokal. Desentralisasi anarkis memutar-balikan hirarki atas-kebawah. Sekarang ini, semakin tinggi level dari pemerintahan, semakin besar kekuasaannya. Dibawah anarki, level tinggi dari organisasi bukanlah pemerintah sama sekali. Mereka tidak memiliki kekuatan koersif, dan semakin tinggi levelnya, semakin sedikit tanggung jawab yang akan di delegasikan ke mereka dari bawah. Namun tetap, para anarkis tetap waspada apabila federasi berubah menjadi birokratik dan statis. Kita semua adalah utopian tapi juga realis. Karena itu kita harus memonitor federasi sedekat-dekatnya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Thomas Jefferson, “kewaspadaan yang abadi adalah harga dari kemerdekaan.”

Kata-kata akhir?

Winston Churchill, seorang politisi alkoholik penyakitan dari Inggris dan penjahat perang, pernah menulis bahwa “demokrasi adalah sistem terburuk bagi pemerintah, kecuali untuk yang lainnya.” Anarki adalah sistem terburuk bagi masyarakat – kecuali yang lainnya. Sejauh ini, semua peradaban (masyarakat Negara) telah runtuh dan disukseskan oleh masyarakat anarkis. Masyarakat Negara tidak stabil secara inheren. Cepat atau lambat, peradaban kita juga akan runtuh. Tidaklah terlalu dini untuk mulai berpikir mengenai pengganti dari masyarakat ini. Para anarkis telah memikirkannya lebih dari 200 tahun. Kami punya sebuah awal. Kami mengundangmu untuk mengeksplorasi ide-ide kami – dan untuk bergabung dengan kami di dalam usaha untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.

Dari: http://anarkia.blogdrive.com/

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: