Jurnal Anarki edisi 1

Posted on May 22, 2008. Filed under: JURNAL ANARKI |

“So turn to yourselves rather than to your Gods or to your idols. Find what hides in yourselves; bring it to light; show yourselves!”

DILEMA KITA

jurnal1Anarkisme di Indonesia lebih mirip sebuah “brand” daripada sebuah ide ataupun teori revolusioner untuk menghadapi alienasi dari kehidupan sehari-hari. Jikalau di Negara-negara kapitalisme liberal, anarkisme mendapatkan tempatnya di dalam liberalisme modern, seperti para libertarian maupun “anarcho-cappies” (sebuah sebutan untuk kaum anarkis yang mempercayai ide kapitalisme tanpa Negara), di Indonesia, di dalam sumpek-munafiknya budaya timur, anarkisme teradaptasi dan terdistorsi, bahkan dikompromikan. Atau memang itu adalah salah satu dari kelemahan dari teori anarkisme sendiri? sebegitu bebasnya dia, sampai-sampai tidak dapat menyatakan dimana ia berdiri dan berpijak. Anarkisme menjadi moderat. Dari yang nasionalis, agamis, bahkan kapitalis dapat mengklaim anarkisme. Siapa sih yang tidak bisa mengklaim anarkisme sebagai miliknya? Bukankah untuk menentukan apa anarkisme itu sudah menjadi asas yang dilarang anarkisme? Tapi saya juga tidak bisa bicara terlalu banyak mengenai subjek ini di sini, mengingat peran anarkisme di Indonesia sendiri masih terbatas. Budaya punk/hc tidak bisa dipungkiri merupakan salah-satu faktor utama dalam perkembangan “ideologi” ini. Kelompok-kelompok kecil seperti food not bombs, kolektif pembajak kontra-kultura, peniti-pink, Affinitas dan kelompok-kelompok kecil lainnya yang mungkin mempraktekan anarkisme di dalam aktifitas sehari-hari mereka, ini semua merupakan “outcome” dari menyebarnya budaya hc/punk di Indonesia. Hanya saja, kenapa ide ini hanya berkembang pesat di budaya punk/hc? Kenapa anarkisme tidak bisa subur di ranah budaya yang lain? Dan kenapa juga, kebanyakan para anarkis (seenggaknya yang benar-benar mengaku diri mereka anarkis dan mempraktekan anarki di kehidupan sehari-hari mereka) adalah kaum lelaki. Kemana semua para “riotgirl,” para Kathleen Hanna ataupun Emma Goldman yang bereinkarnasi di dalam jiwa para perempuan di Indonesia (kalau kalian memang masih percaya bahwa perbatasan Negara bisa benar-benar menjadi sebuah perbatasan budaya)?

Ini adalah dilemma yang saya yakini menjadi masalah kita. Masalah yang bukan untuk didesas-desuskan begitu saja, tapi dicoba untuk dipahami dan di analisa, karena kebanyakan dari kalian juga sering mengeluh bahwa konteks Indonesia dan Eropa memiliki banyak perberdaan. Jadi, tinggal bagaimana sekarang kita menganalisa permasalahan tersebut, mencoba mencari jalan keluarnya, dan sama-sama menyikapi hal tersebut dengan mengagendakan sebuah “gerakan BERSAMA” untuk mengatasinya.

Peringatan: Jurnal ini tidak bermaksud untuk membuatmu jauh dari kehidupan sehari-hari. Tapi justru di peruntukan untuk memahami ide “anarki” di dalam kehidupan sehari-hari: bagaimana mempraktekannya dan menyebarkannya. Bagi kalian yang sekiranya tidak dapat menemukan adanya “passion” dalam mempraktekan anarki dan lebih memilih “gaya lama” dalam berhubungan juga merasa bahwa kalian baik-baik saja di dalam tatanan masyarakat yang kita hidupi sekarang ini.

MAKA KALIAN BOLEH MEMBUSUK DENGAN DUNIA TUA KALIAN DAN PATUH HINGGA TUHAN KALIAN DATANG UNTUK YANG KEDUA KALINYA!!!! YOU MAY AS WELL ROT IN HEAVEN!

Anarki anti-utopia

Kesalahpahaman yang sering ditemui di dalam ide-ide anarkis adalah kepercayaan bahwa ide anarki dapat berlangsung dengan adanya suatu kesempurnaan. Di dalam kata lain, orang-orang menyalah-artikan anarki sebagai “utopia.”

Sebaliknya, anarki adalah anti-utopia, lebih dari itu anarki adalah anti-tesisnya. Sekarang kita hidup di dalam mimpi Plato akan masyarakat yang sempurna. Bukannya kita memang tinggal disebuah masyarakat yang sempurna, tapi karena kita selalu berjuang mencari kesempurnaan itu, entah sebagai individu ataupun sebagai sebuah masyarakat. Selalu ada teknologi baru yang diciptakan sebagai usaha untuk menyempurnakan diri kita sebagai manusia, sebagai mahkluk hidup: operasi kecantikan, obat-obatan penyambung hidup, terapi genetik, dan lainnya. Dan selalu ada usaha untuk mengkreasikan kembali atau membenahi pilar yang kita sebut sebagai demokrasi – sebuah ideologi dari sebuah masyarakat sempurna yang diatur oleh mayoritasnya. Setiap lima tahun di Indonesia, kita mencoba membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik dengan memilih orang-orang untuk memerintah kita. Maka sekarang, apabila kita ingin menyalah artikan utopia, coba pikir sekali lagi, bukankah masyarakat kita sendiri merupakan contoh utopia yang menyedihkan. Masyarakat kita mencoba bereksperimen, berjuang untuk menuju masyarakat yang sempurna, tapi hanya bisa menuai kegagalan demi kegagalan. Singkat kata, masyarakat sempurna kita adalah visi utopia yang paling menyedihkan.

Kesempurnaan juga bermakna bahwa sebuah imaji yang sempurna itu ada. Perjuangan untuk menjadi sempurna tidak lebih menjadi perjuangan untuk sebuah monokultur replikasi mahkluk hidup. Di dalam kesempurnaan, tidak ada tempat bagi individualitas dan perbedaan hasrat, keinginan, kebutuhan, dan mimpi. Yang tampaknya dunia menjadi semakin dekat dan dekat menuju gol kesempurnaannya sebagaimana dunia itu sendiri berkembang menjadi monoton secara ekologi dan kultural.

Anarki tidak memiliki landasan atau visi dari masyarakat. Tidak ada sebuah ide untuk diperjuangkan; tidak pula sebuah imaji kesempurnaan. Sebagai anarkis, kami tidak mengenal adanya kesempurnaan, tidak pula dengan alam. Justru malah ketidaksempurnaan yang kami percayai, karena itu berlawanan dengan pandangan untuk “memperjuangkan sebuah ideal yang diluar dari diri kita.” Ketidaksempurnaan bagi kami, adalah perbedaan dan keindahan. Kami sadar bahwa, dengan tipe apapun kami hidup, itu tidak akan menjadi sempurna, dan dengan tipe apapun kami berusaha membangun komunitas, kami yakini, tidak mungkin menjadi sempurna. Entah itu masyarakat yang sempurna dan yang tidak sempurna, masalah selalu datang, mau yang besar atau yang kecil. Di dalam masyarakat yang sempurna, setiap masalah ditangani dengan ideal yang sama; sedangkan di dalam masyarakat yang tidak sempurna, permasalahan ditangani menurut permasalahan itu sendiri: karena semua permasalahan itu berbeda, dan membutuhkan sebuah solusi yang berbeda juga.

Jika seorang manusia memperjuangkan kesempurnaan, maka ia terus bergerak semakin menjauhi sisi manusia yang sejati dan otentik – seekor binatang yang tidak sempurna di dalam sebuah dunia yang tidak sempurna. Kami tidak menginginkan adanya sebuah dunia yang sempurna – kami meinginginkan sebuah dunia bebas yang sejati – dimana manusia telah mengerti berkali-kali bahwa kesempurnaan itu tidak ada. Kami menginginkan sebuah dunia dimana kami dapat bebas untuk mengeksplorasi pengalaman dan merangkul ketidaksempurnaan kami, jati diri kami yang sejati sebagai manusia.

Anarchy means freedom, and it is only in an imperfect world that we can be free from the ideal or perfection

diambil dari: http://anarkia.blogdrive.com/

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: