Jurnal Anarki edisi 2

Posted on May 22, 2008. Filed under: JURNAL ANARKI |

Anarki, masa lalu dan sifat alami manusia

jurnal21

Sadar atau tidak, kebanyakan dari kita, pada dasarnya memegang kepercayaan yang sama mengenai sifat alami manusia. Kepercayaan pada sifat alami manusia berputar di dalam satu kesimpulan kepercayaan akan “insting hewani” dari sifat manusia atau sifat alami manusia yang berada diantara “perseteruan yang baik dan buruk.” Bagaimanapun keyakinan akan sifat alami manusia menemukan muara yang lain, idenya akan selalu didasari dengan sifat-sifat manusia di masa lalu. Apabila sifat alamiah manusia kita dikarakteristikan dengan cara-cara manusia hidup di masa lalu, maka anarki mengkarakteristikan insting internal dari manusia – sifat alami kita – karena manusia telah hidup di dalam suatu “state of anarchy” selama ratusan sampai ribuan tahun.

Apabila kita mengaplikasikan definisi dari “anarki” kedalam kehidupan manusia sebelum 10,000 tahun yang lalu, kita dapat melihat bahwa anarki telah menjadi karakteristik bagi kehidupan manusia: mereka hidup tanpa eksistensi Negara; egalitarian secara sosial, politis, dan ekonomi; kekuasaan dan otoritas di sebarkan keseluruh penduduk, meskipun beberapa “pemimpin-pemimpin” temporer muncul ke permukaan karena memiliki keahlian ataupun pengetahuan tertentu; masyarakat ini telah mempraktekan teknik pengambilan keputusan secara konsensus; dan mempraktekan pemerataan yang menyeluruh, seperti gotong royong dan saling berbagi satu sama lain. Fakta masa lalu manusia ini sangat sesuai dengan definisi anarki, dan berbagai karakter seperti ini telah di praktekan oleh kebanyakan masyarakat manusia sebanyak 99 persen dari sejarah umat manusia.

Dengan demikian, dengan 99 persen dari sejarah manusia, yang menjelaskan pada kita bahwa manusia dulunya adalah para “hunter-gatherers” (gerombolan pemburu) yang hidup di dalam anarki. Kebanyakan dari pandangan arkeologi dan antropologi mendukung klaim ini, juga klaim bahwa kehidupan para “hunter-gatherers” ini lebih sehat, damai, dan egaliter.

Untuk meperhitungkan fakta-fakta diatas, maka kita seharusnya bisa memasukan egalitarianisme, kerja-sama, saling membantu dan kemampuan hidup secara sosial sebagai “sifat alami” dari manusia. Sepuluh ribu tahun yang lalu, semua umat manusia adalah anarkis – namun sesuatu terjadi dan memasukan egosentrisme, otoritarianisme, kehendak untuk berkuasa, demikian juga dengan kompetisi. Perkembangan ini bisa diselidiki dari masa lalu manusia yang dihubungkan dengan domestifikasi tanaman, hewan, dan manusia itu sendiri.

Semua bukti mengarah pada pandangan bahwa, seiring dimulainya era agrikultur (dan juga menjadi akhir dari peradaban) yang diikuti dengan terciptanya Negara yang menyebabkan terjadinya sentralisasi kekuasaan, ketidakmerataan sosial, kemiskinan, malnutrisi dan pengrusakan alam yang sebelumnya tidak pernah terjadi dimuka bumi ini. Pada masa agrikultur munculah para despot (pemuka-pemuka agama, raja-raja, presiden) yang memiliki kekuasaan untuk menindas kebebasan para anarkis yang bersamaan dengan itu, merubah nasib kemanusiaan dan bumi selamanya. Perkembangan ini menandakan berakhirnya peradaban manusia yang bebas – para anarkis. Kecuali beberapa contoh kasus temporer yang tidak mati dimakan zaman, dimana manusia tidak akan melupakan sifat alami mereka yang sebenarnya. Dan semua itu tidak mungkin terjadi tanpa ada perlawanan. Selalu ada kehendak untuk melawan, dan berontak terhadap kemungkinan-kemungkinan yang despotik dan egosentrik dari manusia, yang berarti, masih ada perjuangan diantara despot-despot baru yang bermunculan dengan sisi anarkis yang ingin bebas di dalam diri kia semua.

Post skrip anarki anti-utopia

Keinginan akan kesempurnaan menutupi semua ketakutan manusia atas diri mereka sendiri. Manusia menginginkan kesempurnaan, karena mereka sadar bahwa diri mereka tidak pernah sempurna. Penciptaan imaji surga dan tuhan mencerminkan manifestasi ketidaksempurnaan manusia. Teknologi diciptakan dengan tujuan untuk mempertahankan kelangsungan manusia sekaligus mempermudah arus hidup: mengatasi bencana, hama, memperlancar produksi. Namun seiring berkembangnya teknologi yang dikuasai penggunaannya oleh segelintir birokrat dan pemodal, pencarian akan kesempurnaan dikondisikan oleh kompetisi antara penguasa. Perkembangan diantaranya seperti: rekayasa genetika, nanoteknologi, dan intelejensi artifisial. Ketiga perkembangan pesat teknologi ini adalah bukti-bukti dari keinginan manusia untuk menciptakan kesempurnaan. Era mesin menjadi awal dari pencarian manusia akan sebuah keabadian yang secara bersamaan merongrong evolusi yang alami. Walau sebenarnya, fungsi dari perkembangan teknologi sepanjang sejarah, selalu digunakan untuk memojokan sebagian besar manusia untuk melayani kepentingan segelintir manusia. Ini yang dapat kita lihat setelah perkembangan pasca-perang dunia kedua dan agenda neo-liberal yang didukung oleh kemajuan teknologi informasi yang pesat.

Filosofi modern, dimana konsep Negara daulat tercipta, demikian juga dengan demokrasi representatif (atau demokrasi borjuis) bertujuan untuk mengakhiri feodalisme yang gagal. Feodalisme adalah kesempurnaan imaji dengan kerajaan-kerajaan besar yang mewah, kemurnian raja, kemakmuran, dan mapannya konstitusi keagamaan. Namun dibalik itu semua, terdapat perbudakan; kemiskinan, represi akan kebebasan, penjajahan dan pembantaian. Lalu datang demokrasi representatif, yang diharapkan dapat menyempurnakan konsep kekuasaan. Dengan segala impian kesempurnaannya, bentuk demokrasi ini juga gagal dalam menciptakan masyarakat yang lebih baik. Menumbangkan dan mencangkok kembali pemimpin-pemimpin baru, mengharapkan di dalam “sistem yang sempurna,” ketidaksempurnaan manusia dapat membuat kehidupan menjadi lebih baik. Disisi lain masyarakat sempurna kita juga memegang filosofi bahwa “manusia adalah mahkluk yang selalu haus yang tidak akan pernah bisa mencapai dahaga.” Filosofi modern ingin melepaskan kita dari belenggu tirani raja-raja dan menggantinya dengan negara, yang sebenarnya adalah kegagalan dari karakter kekuasaan yang sama, dimana masih terciptanya kelas-kelas yang tidak pernah berdamai. Pada intinya, demokrasi borjuis menggantikan ide kesempurnaan dari feodalisme dengan sistem yang sempurna yang tidak tersentuh.

Anarki, disisi yang berlawanan, adalah kekacauan bagi kemajuan modern. Karena anarki berarti ketiadaan kekuasaan. Ini yang perlu dipahami. Di dalam masyarakat yang sempurna, kita menciptakan sistem yang sempurna dimana kita bisa hidup secara lebih baik. Tapi kenapa justru, seiring berjalannya sistem sempurna ini, kita hanya mengalami kegagalan demi kegagalan? Perang dunia pertama dan kedua telah berlangsung, yang juga menjadi sejarah gelap dunia dimana pembantaian dan imperialisme masih terjadi, apakah kita akan menunggu terciptanya perang dunia selanjutnya lagi untuk menyadari kegagalan dari “impian sempurna” kita. Ini bukti bahwa kombinasi diantara manusia dan kekuasaan adalah konsep yang gagal. Konsep yang juga membuat kita melupakan satu hal: kekuatan kita sendiri. Karena dengan sistem yang sempurna ini, kita lupa bahwa sistem ini tidak lebih sempurna dari kita; karena kitalah yang menciptakan dan menjalankan ide kesempurnaan ini. Dan kita berakhir mempercayakan ide kesempurnaan ini untuk menuntun kita.

Para aktivis dalam varian ideologinya, terutama mereka yang mengaku kiri sekalipun masih berkutat di dalam ide kesempurnaan. Kita dapat melihat fakta sejarah kaum kiri dengan pengaruh Leninisme dan konsep Negara pekerjanya. Kepercayaan Leninisme akan sebuah sistem Negara pekerja yang sempurna yang suci, berakhir melahirkan Stalinisme dan Maoisme, juga omong kosong sosialisme ala Gorbachev.

Anarki adalah negasi dari segala bentuk kesempurnaan: Hirarki, otoritas, birokrasi, modal, dan ideologi, serangkaian fetisisme yang manusia ciptakan untuk memperbudak diri mereka sendiri. Manusia modern telah sedemikian rupa dan terbiasa diatur, sehingga untuk memutuskan bertindak, ataupun berpikir diluar dari logika kesehariannya, mereka menjadi bingung. Mereka perlu dituntun, di bimbing, disederhanakan dari kompleksitas ketidaksempurnaan mereka, agar tampak sempurna. Kebanyakan pertanyaan yang seringkali memusingkan dan tidak mengarah kemana-mana mengenai ide anarki adalah, bagaimana jadinya kalau anarki direalisasikan dan kekuasaan sudah tidak ada, bagaimana masyarakat dapat berjalan, kekacauankah? Ada satu contoh kasus menarik di dalam ironi dari masyarakat yang sempurna: “diantara perempatan lampu merah yang mati, semua kendaraan bermotor bergerak dalam anarki, dalam sekejap seluruh kendaraan yang berlawanan arah ini tidak tau harus memulai dari mana dan memutuskan untuk seenaknya menentukan arah; alhasil, semua kendaraan ini mampet hanya karena lampu merah di perempatan mati.” Dari kasus ini, mana yang kalian pilih, diantara masyarakat yang tidak bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri yang berlindung di dalam “ilusi kesempurnaan” dengan masyarakat yang memegang kendali penuh atas diri mereka sendiri, dan mencoba mengerti ketidaksempurnaan mereka dengan mempelajari kesalahan demi kesalahan?

Perlu disadari juga bahwa, konsep-konsep sosial yang didasari atas metode dialektis bukanlah sesuatu yang tidak tersentuh, karena konsep-konsep inipun mengandung kontradiksinya sendiri. Dan apabila sekarang pertanyaannya adalah bagaimana masyarakat akan hidup di dalam sebuah masyarakat yang terbebaskan? Karl Marx, yang seringkali dituduh oleh para anarkis sebagai karakter yang otoritarian, menulis pendapatnya mengenai pertanyaan ini di dalam sebuah suratnya kepada Kautsky: “it will be up to those people to decide if, when and what they want to do about it, and what means to employ. I don’t feel qualified to offer them any advice on this matter. They will presumably be at least as clever as we are” (surat kepada Kautsky, 1 februari 1881).

Karena itu, perlu disadari, bahwa anarki dalam artian sebenarnya, bukanlah secara mentah yang sering didengungkan sebagai: kekerasan, kekacauan, dan aksi terror. Tapi suatu ide, dimana kita dibebani moral untuk memegang kendali atas diri kita, hidup kita, dan menyadari ketidaksempurnaan yang kita miliki berbarengan, merangkulnya sebagai diri kita.

Dan kini, pertanyaannya akan saya balikan, “siapkah kamu memegang kendali atas dirimu sendiri?”

Mengorganisir Komunitas

PERINGATAN: apabila kamu melakukan pengorganisiran komunitas, lakukanlah di dalam komunitas sendiri, jangan menjadi misionaris!!!

Penelitian dan Persiapan

Coba amati komunitasmu dan perhatikan, isu apa kira-kira yang mendekati permasalahan mereka. Ngobrol dengan tetangga mengenai isu apa yang sedang dihadapi oleh komunitas. Tentukan proyek apa yang bisa diselenggarakan atau aksi langsung bagaimana yang akan mengakomodir kepentingan dari komunitas tersebut. Cari tahu juga apabila telah ada organisasi maupun individu yang telah melakukan ini lebih dulu untuk komunitasmu, dan lihat apa yang bisa kamu pelajari dari situ. Cari segala macam bantuan ataupun sumber-daya yang kira-kira bisa digunakan untuk proyek yang ditentukan.

Berpartisipasi atau Membuat organisasimu sendiri

Apabila ada kelompok maupun organ di dalam komunitasmu yang telah bergerak lebih dulu dan efektif menurut kamu, akan menjadi pengalaman yang berharga untuk bergabung dengan mereka. Namun, jika tidak ada satupun grup yang melakukan sesuatu untuk isu yang penting menurut kamu, atau mungkin grup yang sudah ada tidak efektif, inilah saatnya untuk mengorganisir grup kamu sendiri. Tapi juga tetap menjaga hubungan antar grup, yang juga bukan berarti selalu menyesuaikan diri apabila kamu merasa ada sesuatu yang harus dikatakan dan ditegaskan. Ingat, seringkali kontradiksi yang ditajamkan dapat membuat masalah yang kabur menjadi lebih jelas, tapi ini juga dapat berakhir menjadi isolasi maupun separasi antar grup.

Perencanaan

Buatlah sebuah gol ataupun tujuan apa yang akan diraih. Pikirkan strategi dan objektif-objektif lainnya untuk mencapai tujuan ini. Buat perhitungan dari aksi yang akan dilakukan.

Proyek Pembangunan Komunitas

Rencanakan apa yang kamu lakukan di dalam komunitas agar dapat memberdayakan seluruh komunitasmu untuk terlibat bersama-sama. Buat semacam pembelajaran ataupun kelas bagi mereka yang belum sadar secara politis agar dapat berpartisipasi di dalam proyek dan aktif. Singkatnya, lakukan proyekmu agar tidak hanya menjadi sesuatu yang akan membantu komunitas tersebut, tapi juga bagaimana proyek tersebut bisa mempererat “sense” akan komunitas.

Lawan semua prasangka dan patriarki

Jadikan organisasimu sebagai sebuah wadah yang menentang terang-terangan rasisme, seksisme maupun etnisisme di dalam komunitas. Jadikan isu tersebut sebagai politik dan kebijakan dari organisasi.

Ciptakan Perhatian

Biarkan organisasimu terlihat di dalam komunitas, lakukan usaha-usaha yang dapat mengundang perhatian dari komunitasmu. Selenggarakan mediamu sendiri, usahakan terbit secara berkala. Cari perhatian dari Masyarakat luas dan media massa ketika kamu melakukan aksi. Tapi tetap mempublikasikannya di dalam mediamu sendiri untuk menghindari distorsi dari media borjuis.

DAN YANG PALING UTAMA, JANGAN MENJUAL KOMUNITASMU!! HINDARI PROYEK DARI USAHA UNTUK MENCARI PROFIT! MENJUAL SESUATU BUKANLAH PROGRESS!

AMATI PARA KARIRIS DAN MANIPULATOR YANG MENGEMIS KONFORMITAS, KICK HARD ON THEIR ASS!

Apa yang Anda dan Saya Butuhkan?!

(oleh Jicek/AFFINITAS)

Banyak orang merasa pesimis bahkan menjadi paranoid jika lembaga pengontrol yang bernama pemerintah tak lagi eksis dalam lingkungan sosial. Cukup beralasankah ketakutan tersebut? Jawabannya adalah IYA! Karena tanpa lembaga pengontrol, maka segala sesuatu yang menjadi keinginan dari tiap-tiap orang menuntut untuk dilaksanakan, dan secara intuitif, hal tersebut berarti sebuah perang antar manusia dalam melaksanakan keinginan-keinginannya. Yang menjadi masalah kemudian adalah—saking takutnya—orang-orang tersebut menyerahkan keputusan-keputusan yang seharusnya bisa diambil dan dilaksanakan oleh orang-orang tersebut kepada lembaga yang ironisnya malah tak bisa dikontrol. Dan secara tak langsung menyerahkan dirinya untuk diperintah dan menuruti perintah.

Kenyataan membuktikan bahwa pemerintah, dalam definisinya yang paling baik: sebagai wakil dari rakyat, tak pernah bisa mengakomodir keinginan-keinginan dan kebutuhan-kebutuhan dari rakyatnya. Bahkan di negara yang paling demokratis sekalipun, hak-hak rakyat untuk berdemokrasi dibatasi. Itulah salah satu alasan mengapa seharusnya anda dan saya menolak pemilu dan secara tegas menolak kontrol pemerintah atas hidup anda dan saya. Ketika anda dan saya merasa muak dengan kinerja pemerintah yang hanya itu-itu saja—belum termasuk membuat keputusan lewat undang-undang yang menyesengsarakan anda dan saya serta yang lainnya, mungkin—sebenarnya anda dan saya mencoba untuk mengambil alih (kembali) hidup anda dan saya yang tercuri. Tapi ketika anda dan saya hanya ‘berhasil’ menurunkan pemerintahan yang lama untuk diganti dengan yang baru—dengan pemilu misalnya—sebenarnya anda dan saya belum berhasil, karena yang terjadi adalah pengulangan-pengulangan saja dan keadaan akan tetap sama: undang-undang yang baru akan tetap menyengsarakan anda dan saya. Itulah kompensasi nyata ketika anda dan saya menyerahkan hasrat-keinginan kepada orang lain lewat kotak-kotak suara.

Dan bagaimanapun massifnya suatu demontrasi massa untuk menuntut penurunan harga BBM (misalnya) pada lembaga pemerintahan, takkan pernah dapat menemui titik terang: BBM akan terus naik! Bisa ditunda, tapi tidak bisa tidak naik. Kenapa subsidi untuk anda dan saya dipangkas, sementara subsidi untuk militer dinaikkan? Karena militer mampu melayani kepentingan segelintir orang-orang yang tercatat sebagai agen pemerintah dan yang paling penting: dapat melayani dengan loyal kepentingan pasar (pemodal) dalam kerja mereka untuk terus memiskinkan anda dan saya. Hal ini terjadi terutama sekali di negara dunia ketiga atau negara berkembang. Mengambil alih lahan atau produksi yang seharusnya menjadi milik publik dan mendistribusikannya untuk publik mungkin lebih nyata dari sekedar marah-marah terhadap orang-orang yang telinganya telah tuli di gedung-gedung pemerintahan. Kenapa tidak direbut juga gedung-gedung tersebut untuk dijadikan tempat tinggal bersama bagi anda dan saya yang tidak memiliki tempat tinggal?

Lalu apa alternatif setelah matinya pemerintah, agar kehidupan sosial tetap dapat dikontrol (dalam artian tetap terus berlangsung) dan tidak terjadi chaos (kerusuhan) dan tindakan-tindakan yang dapat merugikan kepentingan anda dan saya, serta kepentingan bersama?

Apa yang ada dalam benak anda, ketika bahaya mengancam anda? Tentu saja, tanpa komando dari siapapun anda akan menyelamatkan diri. Atau, ketika anda merasa kesusahan untuk mengerjakan suatu tugas dari guru atau dosen anda, dan anda mengajak kawan-kawan anda untuk membentuk kelompok belajar dan setelah berdiskusi panjang lebar, berhasil mengerjakan tugas tersebut secara bersama-sama, bukankah anda membuktikan bahwa anda tidak memerlukan komando atau hirarki atau apapun untuk mengontrol hidup anda? Kontrol sepenuhnya ada di tangan anda! Bukan di tangan pemerintah, partai, atau siapapun.

Lalu bagaimana untuk menghindari bentroknya kepentingan tiap-tiap personal? Ketika hidup anda dan saya tak lagi berorientasi semata-mata pada uang dan meninggalkan prasangka-prasangka buruk terhadap orang lain, maka anda dan saya akan mengerti bahwa pada dasarnya setiap personal hanya ingin untuk dapat memenuhi kebutuhan primernya: sandang, pangan, papan. Uang pun tak lagi memberi ilusi bahwa hanya uanglah yang mampu memberi kebahagiaan pada tiap-tiap personal. Hubungan antar manusia menjadi lebih penting dan lebih menarik untuk dijalani. Satu-satunya ukuran kesuksesan adalah kebahagiaan, bukan karena kaya, mendapat hak istimewa, atau pun gengsi.

Dari uraian singkat di atas, secara jauh saya tidak menafikan akan perlunya kontrol. Yang pertama sekali menjadi pengontrol adalah diri anda dan saya masing-masing. Jika hal tersebut masih belum menghasilkan sesuatu yang maksimal, maka kontrol ke dua adalah sosial. Bukan norma apalagi pemerintah, tapi hubungan simbiosis mutualisme. Pernahkah anda melihat hubungan kerbau dan burung yang sangat akrab? Hal tersebut terjadi karena burung tersebut memakan kutu-kutu (sebagai sebuah simbol yang merugikan) yang bersarang di badan kerbau. Kerbau senang karena tubuhnya tak lagi gatal, sementara burung pun ikut senang karena perutnya terisi.

Sampai di sini, masih perlukah alasan bagi adanya pemerintah?

Kamu mungkin sudah menjadi seorang anarkis…

Memang benar, ketika kamu memiliki gagasan bahwa hubungan manusia yang sehat adalah makan malam bersama para sahabat dimana semua orang menikmati kebersamaan, tanggung jawab dibagi-bagi secara informal dan sukarela, dan tidak satupun orang yang memberikan perintah ataupun menjual sesuatu, maka kamu sudah menjadi seorang anarkis. Semudah itu. Satu-satunya pertanyaan yang tertinggal hanyalah, bagaimana kamu dapat mengatur interaksi yang lebih luas dengan model semacam ini.

Setiap saat kamu beritindak tanpa harus menunggu perintah dan perizinan yang resmi, maka kamu adalah seorang anarkis. Setiap saat kamu melanggar peraturan yang remeh ketika tidak ada siapapun yang melihat, kamu adalah seorang anarkis. Apabila kamu tidak mempercayai pemerintah, sistem sekolah, Hollywood, atau aturan-aturan (yang akan mempengaruhi hidupmu) yang mengklaim lebih mengetahui hidupmu dibanding dirimu sendiri, itu adalah anarkisme. Dan kamu adalah seorang anarkis ketika kamu membangun ide, inisiatif, dan solusimu sendiri.

Seperti yang kamu lihat, anarkisme yang membuat segala sesuatunya di dalam hidup ini menjadi bekerja dan menarik. Ketika kita menunggu otoritas dan para spesialis juga ahli-ahli untuk mengurus semuanya, kita tidak hanya akan memperburuk dunia, tapi juga membuat hidup kita menjadi sangat membosankan. Sekarang ini kita hidup di dunia seperti itu (yang sangat membosankan), dunia yang penuh masalah—masalah yang datang karena kita menyerahkan semua tanggung jawab dan kontrol kepada para otoritas.

Anarkisme eksis di setiap hubungan manusia yang sehat. Anarkis tidaklah selalu melempar bom, memakai topeng hitam, walau kamu juga sering melihatnya di televisi (apa kamu selalu mempercayai apa yang kamu lihat di televisi? Itu bukanlah anarkis!). Akar dari anarkisme sebenarnya adalah bagaimana kamu melakukannya secara mandiri, semua keputusan dari hidupmu: semuanya berangkat darisini.

Disini aku berbicara, tentunya, sebagai seorang anarkis—dan ketika orang-orang bertanya mengenai politik macam apa yang sedang aku perjuangkan, maka aku akan mengatakan pada mereka: alasan terbaik untuk menjadi seorang revolusioner adalah karena itu adalah cara yang lebih baik untuk menjalani hidup. Hukum menjaminkan kita hak untuk tetap diam, kerja memberi kita hak untuk mendapatkan uang, negara dan kapitalisme menjamin hak kita untuk terus patuh dan bekerja sebagai budak (uang, kapital, komoditi). Tapi bagaimana dengan hak untuk menjalani hidup yang hanya sekali ini sepenuhnya, untuk mempunyai alasan bangun di tengah malam di dalam percakapan yang buru-buru, untuk melihat ke belakang di dalam keseharian kita tanpa penyesalan dan rasa pahit? Hak semacam ini yang hanya dapat kita klaim oleh diri kita sendiri—Sesuatu yang seharusnya menjadi perhatian utama kita, bukannya hak untuk patuh terhadap aturan yang remeh dan sesaknya hak untuk survive. Kita semua yang lahir ke dalam sebuah pemenjaraan yang di jaga oleh darah dan keringat para orang-orang yang juga terkekang, tantangan untuk memimpin hidup yang layak dijalani, hidup yang layak dituturkan sebagai sebuah cerita adalah sebuah proyek seumur hidup yang penuh dengan resiko. Tantangan untuk menghadapi dan menghancurkan setiap bentuk pemenjaraan ini di dalam setiap saat yang sekiranya memungkinkan.

Karena itu, ketika kita berjuang, kita berjuang demi hidup kita.

Dari: http://anarkia.blogdrive.com/

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

2 Responses to “Jurnal Anarki edisi 2”

RSS Feed for ANARKO99 Comments RSS Feed

banyak pencerahan. saya masih buta akan kolektif2 yang ada saat ini, mohon bimbingan suhu agar saya punya kacamata dan bisa bergabung.😀

ditunggu🙂


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: