Konflik dan Ide Jurnalisme Perdamaian

Posted on February 8, 2009. Filed under: BUKU PERGERAKAN |

OLEH
Stanley

Download klick di sini

ABSTRAKSI
Masalah SARA adalah sebuah hal yang masih asing bagi pers Indonesia. Masih banyak wartawan yang merasa kikuk bila harus meliput persoalan ini. Hal ini bisa dimengerti mengingat wartawan selama puluhan tahun terlanjur tak terbiasa dengan pola penyelidikan (investigation). Wartawan Indonesia juga sama sekali tak mengenal provetic journalism sebagaimana diterapkan para wartawan di negara maju. Dalam meliput konflik, wartawan lebih banyak mengutip ucapan pejabat (sipil maupun militer) dan data resmi yang disodorkan aparat negara.

Lantas bagaimana kewajiban pers dalam menyampaikan informasi yang jujur dan benar kepada masyarakat? Tidak gampang menjawabnya. Kebanyakan pers kita tergolong masih merupakan industri yang miskin, yang tak bisa mendanai para wartawannya untuk turun langsung ke lapangan. Banyak di antara laporan yang diturunkan media kita lebih merupakan kompilasi berita. Keadaan ini belum lagi ditambah kenyataan bahwa selama 33 tahun kita terlanjur menerima kebenaran bahwa sebaiknya pers memang tak usah memberitakan persoalan SARA. Padahal kita tahu bahwa masyarakat berhak mendapatkan informasi yang benar, dan tugas wartawan adalah menyajikan fakta.

Memang, dalam masyarakat yang majemuk dan negara yang tengah dilanda krisis seperti negara-bangsa Indonesia sekarang ini masalah struktural (vertikal) yang menyangkut penghasilan (ekonomi), kedudukan sosial-politik, pendidikan dan lain-lain bisa tiba-tiba meledak dan berkembang menjadi masalah (horisontal) etnik, agama, asal kedaerahan, sikap perilaku dan sebagainya. Pers dalam hal ini memliki kewajiban untuk menjaga ketentraman masyarakat dan memulihan keadaan.

Wartawan tentu saja harus punya kiat tersendiri untuk meliput peristiwa yang berhubungan dengan SARA. Melalui tulisannya, ia tak boleh “menyiramkan bensin dalam kobaran api”. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain dengan menunda detil kejadian dan menghindari membawa-bawa agama dan asal-usul etnis dalam kerusuhan biasa, apalagi yang hanya berdimensi “kriminal”. Apa yang bisa dilakukan wartawan untuk meredam sebuah pertikaian menjadi aksi perusuhan SARA yang besar? Dalam makalah ini juga dibahas perbedaan jurnalisme damai dan jurnalisme perang.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: