The Right to be Lazy

Posted on February 8, 2009. Filed under: BUKU PERGERAKAN |

51peizmllvl_bo2204203200_pisitb-sticker-arrow-clicktopright35-76_aa240_sh20_ou01_

Karya: Paul Lafargue
Hak untuk Malas

“Dunia yang lebih baik, lebih adil dan lebih indah, itu mungkin”

Kata Pengantar dari Penulis

M. Thiers, dalam sebuah sesi tertutup pertemuan komisi pendidikan dasar pada tahun 1849, mengatakan: “Saya berharap untuk membuat pengaruh jajaran kependetaan menjadi sangat kuat, karena saya mengandalkannya untuk mempropagandakan bahwa, filsafat yang baik adalah yang mengajarkan kepada manusia bahwa mereka hidup di dunia ini untuk menderita, bukan filsafat lainnya yang, sebaliknya, menawarkan kepada manusia untuk bersenang-senang.” M. Thiers sedang menyatakan etika kelas kapitalis, yang egoisme ganas dan kepicikan intelijensinya menjelma dalam dirinya.

Borjuasi mengibarkan bendera pemikiran bebas dan atheisme ketika mereka berjuang melawan kaum ningrat yang didukung jajaran kependetaan. Namun begitu berjaya, mereka merubah nada suara serta caranya, dan sekarang menggunakan agama untuk mendukung supremasi ekonomi dan politiknya. Pada abad ke lima belas dan enam belas, borjuasi dengan senang hati mengusung tradisi pagan dan mengagung-agungkan tubuh serta hasrat-hasratnya, yang ini dikecam oleh agama Kristiani. Di masa kita sekarang, yang dijejali barang-barang dan kesenangan, borjuasi menyangkal ajaran para pemikirnya seperti Rabelais dan Diderot, dan mengkhotbahkan ajaran pengekangan nafsu kepada pekerja upahan. Etika kapitalis—parodi menyedihkan dari etika Kristen—menyayat tubuh buruh dengan laknatnya. Cita-citanya adalah mereduksi sang produsen ke jumlah kebutuhan yang paling sedikit, menindas kesenangan dan hasrat buruh, dan mengutuk buruh untuk memainkan bagian dari mesin yang menggerakkan kerja tanpa istirahat dan tanpa terima kasih.

Kaum sosialis revolusioner harus mengobarkan kembali pertempuran melawan para filusuf dan jago-jago propaganda borjuasi. Mereka harus bergerak menyerang etika itu serta teori-teori sosial kapitalisme. Mereka harus membongkar—apa yang bersarang di kepala-kepala kelas yang mereka serukan untuk bertindak—prasangka-prasangka yang ditebarkan ke dalam diri mereka oleh kelas penguasa. Mereka harus memproklamirkan—di hadapan kaum munafik dari segala sistem etik—bahwa bumi tak akan lagi menjadi lembah air mata bagi buruh; bahwa dalam masyarakat komunis di masa depan, yang akan kita dirikan “secara damai kalau mungkin, atau dengan kekerasan kalau terpaksa harus begitu,” dorongan hati manusia akan bebas dari pengekangan, karena “semua dorongan hati ini pada dasarnya baik, tidak ada yang perlu kita hindari selain penyalahgunaan dan ekses-eksesnya,” dan hal-hal buruk itu tak akan terhindarkan kecuali oleh kontra-penyeimbangannya secara mutual, oleh perkembangan harmonis organisme manusia, karena seperti yang dikatakan Dr. Beddoe, “Hanya ketika suatu ras mencapai perkembangan fisiknya yang maksimal-lah, baru ia tiba di titik tertinggi energi dan kekuatan moralnya.” Demikian pula pendapat sang naturalis besar, Charles Darwin.

Penyangkalan terhadap “Hak untuk Bekerja” ini, yang sekarang saya terbitkan kembali dengan beberapa catatan tambahan, pernah dimuat di koran mingguan Egalité, 1880, edisi kedua.

***

P.L.

Penjara Sainte-Pélagie, 1883.

“Marilah kita malas dalam segala hal, kecuali untuk urusan cinta dan minum, kecuali untuk bermalas-malasan.”

– Lessing –

1. Dogma yang Membawa Malapetaka

Suatu khayalan aneh merasuki kelas pekerja di bangsa-bangsa dimana peradaban kapitalis mencengkeramkan kekuasaannya. Khayalan ini selalu membawa serta rangkaian kesengsaraan individual dan sosialnya yang selama dua abad telah menganiaya umat manusia yang berduka. Khayalan ini adalah kecintaan kepada kerja, hasrat mati-matian akan kerja, yang didesakkan bahkan sampai habisnya kekuatan vital individu serta anak-cucunya. Bukannya menentang penyimpangan mental ini, para pendeta, ekonom dan kaum moralis justru menuangkan pemujaan sakral terhadap kerja. Orang-orang yang buta dan terbatas, mereka berharap untuk lebih bijak daripada Tuhan mereka sendiri; manusia yang lemah dan hina, mereka mengira bisa merehabilitasi apa yang telah dikutuk oleh Tuhan mereka. Saya, yang tidak mendeklarasikan diri sebagai seorang Kristen, ekonom ataupun moralis, saya naik banding dari penghakiman mereka ke penghakiman Tuhan mereka; dari pengajaran-pengajaran agama, ekonomi ataupun etika pemikiran bebas mereka, ke konsekuensi-konsekuensi yang mengerikan dari kerja dalam masyarakat kapitalis.

Dalam masyarakat kapitalis, kerja merupakan penyebab dari segala kemerosotan intelektual, penyebab segala cacat organik. Bandingkan sosok kuda pacuan Keluarga Rothschild1 yang dipelihara dengan teliti, dilayani oleh mahluk perawatnya yang berkaki dua, dengan sosok kuda yang sangat kasar di pertanian Normandia yang membajak tanah, menarik kereta pengangkut pupuk, mengangkut hasil panen. Lihatlah kaum liar yang mulia, yang belum digerogoti—oleh para misionaris perdagangan dan para pedagang agama—dengan Kristianitas, sipilis dan dogma kerja. Lalu lihatlah budak-budak mesin yang sengsara di masa kita sekarang.2

Kalau di Eropa kita yang beradab ini kita ingin menemukan jejak kecantikan asli manusia, kita harus mencarinya di dalam bangsa-bangsa dimana prasangka-prasangka ekonomi belum melepaskan orang dari kebencian terhadap kerja. Spanyol, yang kini merosot, duh, mungkin masih menyombongkan diri karena memiliki lebih sedikit pabrik daripada penjara dan barak yang kita punyai; namun sang seniman kegirangan mengagumi kuda Andalusian yang gagah, coklat seperti kuda-kuda pribuminya, lurus dan lentur seperti sebatang baja; dan hati melompat mendengarkan si pengemis, yang berpakaian rapi dengan baju yang compang-camping, merundingkan perihal kesetaraan dengan Duke of Ossuna. Bagi orang Spanyol, yang di dalam dirinya naluri kebinatangan primitif belum dihentikan pertumbuhannya, kerja merupakan bentuk perbudakan yang paling buruk.3 Orang-orang Yunani di era kebesarannya memandang jijik terhadap kerja: hanya budak-budak mereka yang diperbolehkan bekerja: orang bebas hanya mengenal latihan/olahraga untuk tubuh dan pikiran. Maka di era inilah orang-orang seperti Aristoteles, Phidias, Aristophanes, bergerak dan bernafas di dalam masyarakat. Inilah masa ketika sejumlah kecil pahlawan di Marathon melibas kelompok-kelompok besar Asia, yang segera akan ditundukkan oleh Alexander. Para filusuf zaman kuno mengajarkan kemuakan terhadap kerja, bahwa ia merupakan kemerosotan manusia bebas. Para penyair menyanyikan kebersantaian, bahwa ia merupakan pemberian dewa:

O Melibae Deus nobis haec otia fecit.

Yesus, dalam khotbahnya di atas bukit, mengkhotbahkan kebersantaian: “Perhatikanlah bunga bakung di ladang, bagaimana bunga-bunga itu tumbuh: mereka tidak bekerja keras, juga mereka tidak berputar: namun kukatakan kepada kalian bahwa, bahkan Solomon sekalipun dalam segala kebesarannya tidaklah tersusun bagus seperti salah satu dari bunga-bunga ini.” Jehovah, sang dewa yang berjenggot dan pemarah, memberikan contoh utama kepada para penyembahnya tentang kemalasan yang ideal; setelah bekerja selama enam hari, dia beristirahat untuk selamanya.

Di sisi lain, ras mana yang memiliki kerja sebagai kebutuhan organiknya? Orang-orang Auvergny; orang-orang Skotlandia, yakni kaum Auvergny-nya Kepulauan Britania; orang-orang Galicia, yakni kaum Auvergny-nya Spanyol; orang-orang Pomerania, yakni kaum Auvergny-nya Jerman; orang-orang Cina, yakni kaum Auvergny-nya Asia. Dalam masyarakat kita sekarang, kelas mana yang mencintai kerja demi kerja itu sendiri? Para petani pemilik tanah, para penjaga toko kecil. Yang pertama tadi membungkuk-bungkuk di ladangnya, yang berikutnya meringkuk di dalam tokonya, mengais-ngais seperti tikus mondok di lorong bawah tanahnya dan tak pernah bangkit untuk menatap alam dengan santai.

Sementara itu proletariat, kelas besar yang mencakup semua produsen di bangsa-bangsa beradab, kelas yang dalam membebaskan dirinya akan membebaskan umat manusia dari kerja rendahan membanting tulang dan akan membuat binatang manusia menjadi mahluk bebas; proletariat, dengan mengkhianati nalurinya, meremehkan misi sejarahnya, telah membiarkan dirinya disesatkan oleh dogma kerja. Hukuman baginya pun keras dan kejam. Segala kesengsaraan individual dan sosialnya terlahir dari hasratnya akan kerja.

2. Pemberkatan Kerja

Pada tahun 1770 di London, sebuah pamflet anonim muncul dengan judul An Essay on Trade and Commerce (Sebuah Essai tentang Pekerjaan dan Perdagangan). Pamflet ini cukup menggemparkan di masanya. Penulisnya, seorang filantropis besar, berang bahwa “populasi pabrik di Inggris telah mencamkan—di kepala mereka—ide baku bahwa dalam kualitas mereka sebagai orang Inggris, semua individu yang merupakan orang Inggris memiliki privilese sejak lahir untuk menjadi lebih bebas dan lebih independen daripada buruh-buruh di negeri manapun di Eropa. Ide ini mungkin berguna bagi para serdadu, karena ia merangsang keberanian mereka, namun makin kecil pekerja pabrik terilhami oleh ide ini, akan lebih baik bagi diri mereka dan negara. Buruh hendaknya jangan sampai melihat dirinya independen dari majikannya. Sangat berbahaya kiranya bila mendorong ketergila-gilaan seperti itu di sebuah negara perdagangan seperti negara kita, dimana barangkali tujuh per delapan penduduknya hanya punya sedikit properti atau malah tidak punya sama sekali. Pengobatannya tidak akan tuntas sampai buruh industri kita berpuas diri dengan bekerja enam hari untuk jumlah penghasilan sama yang kini mereka dapatkan dari kerja selama empat hari.” Jadi, hampir satu abad sebelum Guizot, kerja dikhotbahkan secara terbuka di London sebagai pengekang bagi hasrat-hasrat mulia manusia. “Semakin banyak rakyatku bekerja, semakin sedikit kejahatan yang akan mereka lakukan”, tulis Napoleon pada 5 Mei 1807, dari Osterod. “Akulah sang penguasa… dan aku hendak menentukan untuk memerintahkan bahwa pada hari Minggu, setelah jam kebaktian berakhir, toko-toko harus buka dan para buruh harus kembali ke pekerjaannya.” Untuk memberantas kemalasan dan mengekang sentimen harga diri serta independensi yang muncul darinya, penulis The Essay on Trade mengusulkan untuk memenjarakan kaum miskin dalam “rumah-rumah kerja” yang ideal, yang hendaknya menjadi “rumah-rumah teror, dimana mereka harus bekerja empat belas jam dalam sehari sedemikian rupa sehingga bila dikurangi dengan waktu istirahat makan, harus tetap berlaku dua belas jam kerja yang penuh dan lengkap.”

Dua belas jam kerja dalam sehari, itulah yang diidealkan oleh para filantropis dan moralis abad ke delapan belas. Bagaimana kita mengatasi hal yang sudah sejauh ini! Pabrik-pabrik modern telah menjadi rumah-rumah ideal rehabilitasi dimana massa yang bekerja membanting-tulang dipenjarakan, dimana mereka dihukum untuk bekerja paksa selama dua belas atau empat belas jam, bukan hanya para lelaki, tetapi juga perempuan dan anak-anak.4 Dan dipaksa menganggap bahwa putra-putra para pahlawan Terror5 telah menyerahkan diri mereka untuk direndahkan oleh agama kerja, sampai ke titik menerima sejak 1848—sebagai suatu kemenangan revolusioner—hukum yang membatasi kerja pabrik sampai dua belas jam. Mereka memproklamirkan Hak untuk Bekerja sebagai suatu prinsip revolusioner. Proletariat Perancis yang memalukan! Hanya budak yang akan bisa menerima kehinaan seperti itu. Seorang Yunani di masa-masa heroik akan mengajukan syarat dua puluh tahun peradaban kapitalis sebelum dia bisa menerima kebusukan seperti itu.

Dan bila kesengsaraan karena kerja paksa serta siksaan kelaparan telah menimpa proletariat lebih banyak jumlahnya dibandingkan para belalang Injil, itu karena proletariat sendirilah yang mendatangkannya. Kerja ini, yang pada Juni 1848 dituntut oleh para buruh dengan senjata di tangannya, telah mereka timpakan kepada keluarga-keluarganya. Mereka telah mengirim istri dan anak-anaknya kepada raja-raja industri. Dengan tangannya sendiri mereka telah menghancurkan pondasi rumah tangganya. Dengan tangannya sendiri mereka telah mengeringkan air susu istri mereka. Para perempuan yang tak bahagia, yang sedang mengandung dan menyusui bayi-bayinya, dipaksa pergi ke pertambangan dan pabrik untuk membungkukkan punggungnya dan meletihkan syarafnya. Dengan tangannya sendiri mereka telah menghancurkan kehidupan dan semangat anak-anak mereka. Kaum proletar yang memalukan! Dimana nyonya-nyonya rumah yang ramah itu, yang diceritakan dalam fabel dan dongeng lama kita, yang berani dan terus-terang dalam berbicara, para pecinta Bacchus. Dimana gadis-gadis montok yang selalu bergerak itu, selalu memasak, selalu bernyanyi, selalu menebarkan kehidupan, memunculkan kesenangan hidup, melahirkan—tanpa rasa sakit—anak-anak yang sehat dan kuat?… Yang kita punya sekarang adalah para remaja putri dan perempuan pabrik, bunga-bunga yang layu terkulai, dengan darah yang lesu, dengan perut yang terganggu, dengan tangan dan kaki yang lemah… Mereka tidak pernah mengenal kesenangan dari suatu hasrat yang sehat, juga tidak mampu menceritakan kesenangan itu dengan sukaria! Dan anak-anak itu? Dua belas jam kerja untuk anak-anak! 0h, kesengsaraan. Tapi bukanlah segala Jules Simon dari kalangan Akademi Ilmu Moral dan Politik, bukan segala orang Jerman dari kalangan Jesuitisme, yang telah menciptakan suatu kejahatan yang lebih memerosotkan intelijensi anak-anak itu, yang lebih menggerogoti naluri mereka, yang lebih merusak organisme mereka, dibandingkan kerja dalam lingkungan pabrik kapitalis yang merusak.

Ada yang menyebut zaman kita sekarang sebagai abad kerja. Kenyataannya, ini adalah abad kelukaan, kesengsaraan dan korupsi.

Sementara itu para filusuf, para ekonom borjuis (mulai dari Auguste Comte yang rancu menyedihkan, sampai Leroy Beaulieu yang jelas menggelikan), orang-orang literatur borjuis (dari Victor Hugo yang romantik gadungan sampai Paul de Kock yang aneh dan kurang ahli) semuanya menyanyikan lagu-lagu memualkan untuk menghormati Dewa Kemajuan, anak sulung Kerja. Dengarkanlah mereka, dan kamu akan mengira bahwa kebahagiaan akan segera bertahta di muka bumi, bahwa kedatangannya telah dirasakan. Mereka mengais-ngais debu abad-abad masa lalu untuk membawa kembali kesengsaraan-kesengsaraan feodal untuk bertindak sebagai kekontrasan suram bagi kesenangan-kesenangan masa kini. Apakah mereka telah jemu kepada kita, orang-orang yang puas ini, para pensiunan masa lalu di meja bangsawan, pen-valets6 masa kini dari kelas kapitalis dan orang-orang yang dibayar secara subur? Sudahkah mereka memperhitungkan bahwa kita jemu akan petani, seperti yang digambarkan oleh La Bruyere? Ya, inilah gambaran cemerlang tentang kegembiraan kaum proletar pada tahun kemajuan kapitalis, 1840, yang ditulis oleh salah satu dari orang mereka sendiri, Dr. Villermé, anggota Institut itu, orang sama yang pada tahun 1848 merupakan anggota masyarakat ilmiah (Thiers, Cousin, Passy, Blanqui, akademisi, termasuk di dalamnya), yang menyebar-luaskan—kepada massa—ilmu ekonomi dan etika borjuis yang tidak masuk akal.

Tentang pembangunan Alsace7 itulah Dr. Villermé bicara—Alsace-nya Kestner dan Dollfus, para bunga filantropi industri dan republikanisme. Tetapi sebelum si doktor ini mengangkat kesengsaraan kaum proletar ke hadapan kita, marilah kita mendengarkan seorang pengusaha Alsace, Mr. Th. Mieg dari perusahaannya Dollfus, Mieg & Co., yang melukiskan kondisi pekerja tangan di masa lalu: “Di Mulhouse8 lima puluh tahun yang lalu (tahun 1813, ketika industri mekanika modern sedang bangkit), para buruhnya semuanya adalah anak-anak tanah itu, yang mendiami kota dan desa-desa di sekitarnya, dan hampir semuanya memiliki rumah dan sering juga sebidang kecil ladang.”9 Ini adalah masa keemasan buruh. Namun pada waktu itu, industri Alsace belum membanjiri dunia dengan katunnya, juga belum menghasilkan milyarder dari Dollfus dan Koechlin-nya. Tetapi dua puluh lima tahun kemudian, ketika Villermé mengunjungi Alsace, Minotaur10 modern (pabrik kapitalis) telah menguasai negeri itu. Dalam nafsunya yang tak kunjung kenyang akan kerja manusia, ia telah menyeret para pekerja dari kehidupan di rumah mereka, bahkan mencengkeram mereka dan memeras tenaga kerja yang terkandung dalam diri mereka. Ribuan buruh bergerombol tiap kali dibunyikan sinyal peluit dari mesin uap.

Sejumlah besar, kata Villermé, lima ribu dari tujuh belas ribu buruh, terpaksa harus tinggal di desa-desa tetangga karena tingginya biaya sewa. Beberapa di antara mereka tinggal sejauh lima atau tujuh kilometer dari pabrik tempat mereka bekerja.

Di Mulhouse di Dornach, kerja dimulai pukul lima pagi dan berakhir pada pukul delapan malam, baik di musim panas maupun musim dingin. Sungguh memilukan melihat mereka tiba setiap pagi di kota dan berangkat tiap malam. Di antara mereka ada banyak perempuan yang pucat, seringkali berjalan bertelanjang kaki melewati lumpur, dan mereka yang tidak punya payung di saat hujan atau salju turun memakai celemek atau roknya untuk menutupi kepalanya. Juga ada sejumlah besar anak yang sama kotornya, sama pucatnya, dibalut dengan pakaian rombeng, berminyak karena terkena oli mesin yang jatuh ke tubuhnya saat mereka bekerja. Dulu mereka terlindungi lebih baik dari hujan karena pakaian mereka tahan air; namun, berbeda dengan para perempuan yang baru disebutkan tadi, mereka tidak membawa bekalnya untuk hari itu dalam sebuah keranjang, melainkan membawa di tangannya atau menyembunyikan di balik pakaiannya sebisa mereka beberapa potong roti yang akan berguna bagi mereka untuk makanan sampai saatnya mereka pulang ke rumah.

Jadi, terhadap tegangnya hari panjang yang tak tertanggungkan (sedikitnya lima belas jam) ini, masih ditambahkan lagi bagi orang-orang malang itu letihnya perjalanan setiap hari yang menyakitkan. Konsekuensinya, mereka sampai di rumah dengan dipenuhi kebutuhan untuk tidur, dan keesokan harinya mereka bangun sebelum penuh istirahatnya agar bisa mencapai pabrik saat jam buka.

Kini lihatlah lubang-lubang dimana berjejalan orang-orang yang mondok di kota itu: “Saya lihat di Mulhouse di Dornach, dan rumah-rumah di sekitarnya, beberapa dari kamar-kamar kontrakan yang menyedihkan itu dimana dua keluarga masing-masing tidur di sudutnya, di atas jerami yang dihamparkan di atas lantai dan disangga dengan dua papan… kemalangan di kalangan buruh industri katun di wilayah Rhine atas begitu ekstrem hingga mengakibatkan hasil yang menyedihkan seperti ini, sehingga bila di keluarga-keluarga pengusaha, pedagang, penjaga toko atau mandor pabrik, separuh dari anak-anak mereka mencapai usia dua puluh satu tahun, maka di keluarga-keluarga penenun dan pemintal kapas separuh jumlah yang sama ini berhenti hidup sebelum mencapai usia dua tahun.”

Bicara tentang kerja di pabrik, Villermé menambahkan: “Itu bukan kerja, bukan tugas, itu adalah penyiksaan dan ia ditimpakan kepada anak-anak berusia enam sampai delapan tahun. Hari demi hari siksaan panjang inilah yang menggerogoti para buruh di pabrik-pabrik pemintalan kapas”. Dan mengenai lamanya jam kerja, Villermé mengamati bahwa para pesakitan di penjara-penjara bekerja tak kurang dari sepuluh jam, budak-budak di Hindia Barat11 bekerja tak kurang dari sembilan jam, sedangkan di Perancis setelah Revolusinya pada tahun 1789, yang telah memproklamairkan Hak-hak Manusia yang angkuh, ada “pabrik-pabrik dimana hari kerja adalah enam belas jam, yang di dalamnya buruh hanya diberi satu setengah jam untuk waktu makan.”12

Sungguh aborsi yang menyedihkan terhadap prinsip-prinsip revolusioner borjuasi! Betapa pemberian yang menyedihkan dari Dewa Kemajuannya! Para filantropis mengelu-elukan—sebagai dermawan kemanusiaan—orang-orang yang tidak melakukan apa-apa untuk menjadi kaya, memberi kerja kepada kaum miskin. Jauh lebih baik menebarkan sampar dan meracuni mata air daripada mendirikan pabrik kapitalis di tengah suatu populasi pedesaan. Perkenalkanlah kerja pabrik, lalu ucapkan selamat tinggal kepada kesenangan, kesehatan dan kebebasan; selamat tinggal kepada semua hal yang membuat hidup menjadi indah dan berharga.13

Dan para ekonom terus saja mengulang-ulang pernyataannya kepada buruh, “Bekerjalan untuk meningkatkan kesejahteraan sosial.” Walaupun begitu, seorang ekonom, Destutt de Tracy, menjawab: “Di bangsa-bangsa miskinlah justru orang-orang hidup dengan nyaman; di bangsa-bangsa kaya mereka biasanya miskin.” Dan muridnya, Cherbuliez, melanjutkan: “Para buruh sendiri, dalam kerjasamanya menuju akumulasi modal produktif, turut menyumbang bagi kejadian yang cepat atau lambat pasti akan merenggut dari mereka sebagian upahnya”. Namun, karena ditulikan dan terbius oleh teriakannya sendiri, para ekonom itu menjawab: “Bekerjalah, bekerjalah selalu, untuk menciptakan kemakmuranmu.” Dan atas nama kelembutan hati Kristen, seorang pendeta Gereja Anglikan, Rev. Mr. Townshend, menyanyikan: Bekerjalah, bekerjalah siang dan malam. Dengan bekerja, kamu membuat kemiskinanmu meningkat, dan kemiskinanmu melepaskan kami dari keharusan untuk memaksakan kerja terhadapmu dengan kekuatan hukum. Pemaksaan kerja berdasarkan hukum “mendatangkan terlalu banyak masalah, memerlukan terlalu banyak kekerasan, dan membuat terlalu banyak kegaduhan. Kelaparan, sebaliknya, bukan hanya suatu tekanan yang bersifat damai, sunyi dan tak putus-putus, tetapi, karena merupakan dorongan yang paling alami kepada kerja dan industri, ia juga memicu pengerahan upaya yang paling kuat.” Bekerjalah, bekerjalah kaum proletar, untuk meningkatkan kemakmuran sosial dan kemiskinan individualmu. Bekerjalah, bekerjalah agar, karena menjadi lebih miskin, kalian bisa punya lebih banyak alasan untuk bekerja dan menjadi sengsara. Begitulah hukum produksi kapitalis yang tak bisa ditawar-tawar.

Karena, dengan mendengarkan secara seksama kata-kata yang menyesatkan dari para ekonom, kaum proletar telah menyerahkan dirinya, badan dan jiwanya kepada kebiasaan buruk kerja, maka mereka menghempaskan seluruh masyarakat ke dalam krisis industri berupa produksi berlebihan yang mengguncang organisme sosial. Kemudian karena ada keberlimpahan barang dan kurangnya pembeli, toko-toko pun tutup, dan kelaparan merundung kaum pekerja dengan deraan seribu cambuk. Kaum proletar, yang digilakan oleh dogma kerja, yang tidak memahami bahwa kerja berlebihan, yang telah mereka timpakan kepada diri mereka sendiri selama masa kemakmuran pura-pura, adalah penyebab kesengsaraan mereka yang sekarang ini, tidak berlari ke lumbung-lumbung gandum dan berteriak: “Kami lapar, kami ingin makan! Benar bahwa kami tak punya uang sepeser pun, namun pengemis seperti kami inilah yang memanen gandum dan memetik anggur.” Mereka tidak menyerbu gudang milik Bonnet ataupun Jujurieux, sang penemu biara industri, dan berteriak: “Tuan Bonnet, inilah para perempuan pekerjamu, para pekerja sutra, pemintal, penenun; mereka menggigil mengenaskan dibalik pakaian katunnya yang sudah penuh tambalan, namun merekalah yang telah memintal dan menenun jubah sutra para perempuan modis dari semua umat Kristen. Mahluk-mahluk miskin yang bekerja tiga belas jam sehari ini tidak punya waktu untuk memikirkan toilet mereka. Kini mereka lepas dari kerja dan punya waktu untuk bergemerisik di dalam sutra-sutra yang mereka buat. Sejak kehilangan gigi susunya, mereka telah mengabdikan dirinya untuk kemujuranmu dan hidup berpantang. Kini mereka dalam keadaan luang dan ingin menikmati sedikit buah dari kerjanya. Ayo Tuan Bonnet, berilah mereka sutramu, Tuan Harmel akan memberikan katun halusnya, Tuan Pouyer-Quertier memberikan kain citanya, Tuan Pinet memberikan sepatu boot-nya untuk kaki kecil yang mengenaskan, kedinginan dan lembab. Berpakaian dari atas hingga ke ujung kaki dan riang gembira, sehingga mereka akan terlihat menyenangkan dipandang mata. Ayo, jangan menghindar, engkau ini sahabat kemanusiaan kan, dan juga seorang Kristiani kan? Bagilah kepada gadis-gadis pekerjamu keberuntungan yang telah mereka bangun untukmu dari daging mereka. Engkau ingin mengembangkan bisnis, ingin mengedarkan barang-barangmu, inilah para konsumen yang siap sedia. Berilah mereka kredit yang tak terbatas. Selama ini engkau melulu terpaksa memberi kredit kepada para pedagang yang tidak engkau kenal dari Adam atau Hawa, yang tidak pernah memberimu apa-apa, bahkan tak segelas air pun. Para perempuan pekerjamu akan membayar hutang semaksimal yang mereka mampu. Jika, pada puncaknya, mereka meninggalkan surat singkat yang memberitahu bahwa mereka berangkat untuk melakukan protes, dan tidak melampirkan apa-apa, maka engkau bisa menuntut agar mereka membayarmu dengan doa. Mereka akan mengirimmu ke surga dengan lebih baik daripada para pendetamu yang berjubah hitam dan dijejali tembakau.”

Bukannya mengambil keuntungan pada masa-masa krisis untuk melakukan pendistribusian umum produk-produk mereka dan memberlakukan hari libur universal, para buruh, yang sekarat akibat kelaparan, berangkat dan membenturkan kepalanya ke pintu-pintu pabrik. Dengan wajah-wajah pucat, tubuh kurus kering dan nada bicara yang menyedihkan, mereka mengerumuni para pengusaha: “Tuan Chagot yang baik, Tuan Schneider yang murah hati, berilah kami pekerjaan. Bukan kelaparan, tapi nafsu akan kerjalah yang menyiksa kami”. Dan orang-orang malang ini, yang nyaris tak memiliki kekuatan untuk berdiri tegak, menjual dua belas dan empat belas jam kerja dengan dua kali lebih murah dibandingkan ketika mereka makan roti di meja. Dan para filantropis industri mengeruk laba dengan mengunci14 mereka ke dalam kerja manufaktur dengan biaya rendah.

Kalau krisis industri datang menyusul masa-masa kerja berlebihan, sama tak terelakkannya seperti malam mengikuti siang, hingga mengakibatkan lockout dan kemiskinan tanpa akhir, itu juga akan menggiring pada terjadinya kebangkrutan yang tak terhindarkan. Selama pengusaha punya kredit, dia membebaskan kekangan atas ketergila-gilaan akan kerja. Dia meminjam dan meminjam lagi untuk menyediakan bahan mentah bagi para buruhnya, dan terus memproduksi tanpa mempertimbangkan bahwa pasar mulai jenuh dan bahwa jika barang-barangnya tidak terjual, catatan-catatan hutangnya tetap akan jatuh tempo. Karena bingung kehabisan akal, dia pun memohon-mohon kepada si bankir. Dia bersujud di kaki si bankir, menawarkan darahnya, kehormatannya: “Sedikit emas akan membantu bisnis saya.” Lalu jawab Rothschild: “Kamu punya 20.000 pasang sepatu di gudangmu; masing-masing berharga 20 sen. Saya akan mengambil semuanya dengan harga masing-masing 4 sen.” Si bankir mendapatkan kepemilikan barang itu dan menjualnya dengan harga 6 atau 8 sen, dan mengantongi sejumlah dolar penuh keriangan yang tidak berhutang apapun kepada siapapun: namun si pengusaha telah melangkah mundur untuk menyusun suatu lompatan yang lebih baik. Akhirnya, krisis datang dan gudang-gudang itu pun muntah. Kemudian begitu banyak barang dagangan dilemparkan keluar jendela, sehingga anda tak bisa membayangkan bagaimana barang-barang itu sebelumnya bisa masuk lewat pintunya. Barang-barang yang dihancurkan itu pastilah bernilai ratusan juta. Di abad kemarin, barang-barang itu dibakar atau dibuang ke laut.15

Tetapi sebelum mencapai keputusan ini, para pengusaha itu bepergian ke berbagai penjuru dunia, mencari pasar untuk barang-barang yang makin bertumpuk. . Mereka mendesak pemerintah mereka untuk menganeksasi Kongo, merebut Tonquin, menggempur Tembok Cina dengan tembakan meriam, untuk membuat toko bagi barang-barang katun mereka. Di abad-abad sebelumnya, ini merupakan pertarungan habis-habisan antara Perancis dan Inggris mengenai siapa yang akan memiliki privilese eksklusif untuk melakukan penjualan ke Amerika dan Hindia. Ribuan orang yang muda belia dan penuh semangat telah memerahkan laut dengan darah mereka selama perang-perang kolonial di abad ke enam belas, tujuh belas dan delapan belas.

Terdapat surplus modal maupun barang. Para juru keuangan tidak tahu lagi kemana harus menempatkannya. Kemudian mereka mendatangi bangsa-bangsa yang berbahagia, yang tumbuh ceria di bawah sinar mentari sambil merokok, lalu mereka menggelar jalan-jalan kereta api, mendirikan pabrik-pabrik dan mengimpor kutukan kerja. Dan pengeksporan modal Perancis ini pun berakhir dengan komplikasi-komplikasi diplomatik pada suatu pagi yang cerah. Di Mesir, misalnya, Perancis, Inggris dan Jerman bercakar-cakaran untuk memutuskan rentenir mana yang akan dibayar terlebih dahulu. Atau ia berakhir dengan perang, seperti yang terjadi di Meksiko, dimana serdadu-serdadu Perancis dikirim untuk memainkan peran sebagai polisi guna menagih hutang yang berlarut-larut.16

Kesengsaraan individual dan sosial ini, betapapun besar dan tak terhingganya, betapapun abadi tampaknya, akan sirna seperti hyena dan jackal saat didekati singa, ketika kelak proletariat berkata “pasti aku akan”. Tetapi untuk bisa sampai pada pewujudan kekuatannya, proletariat harus menginjak-injak prasangka-prasangka etika Kristen, etika ekonomi dan etika pemikiran bebas. Proletariat harus kembali ke naluri alaminya; mereka harus memproklamirkan Hak-hak Kemalasan, seribu kali lebih mulia dan lebih suci daripada Hak-hak Manusia yang lesu darah, yang dibuat oleh para pengacara metafisik dari revolusi borjuis. Proletariat haruslah membiasakan diri untuk tidak bekerja, kecuali hanya tiga jam sehari, dan menyediakan seluruh waktu lainnya siang dan malam untuk bersantai dan berpesta.

Sejauh ini tugas saya mudah. Saya tidak punya tugas apa-apa selain memaparkan kejahatan sesungguhnya yang telah dikenal baik oleh kita semua, duh! Tak punya tugas apa-apa selain meyakinkan proletariat bahwa etika yang disuntikkan kepada mereka itu jahat; bahwa kerja tak terkontrol, yang kepadanya mereka telah menyerahkan diri selama ratusan tahun terakhir, adalah bencana paling mengerikan yang pernah menghantam umat manusia. Bahwa kerja hanya akan menjadi sekedar bumbu bagi senangnya kebersantaian, suatu olahraga yang bermanfaat bagi organisme manusia, suatu hasrat yang berguna bagi organisme sosial hanya bila diatur secara bijak dan dibatasi maksimal hanya tiga jam sehari—ini adalah tugas sulit yang di luar kemampuan saya. Hanya ahli fisiologi komunis, ahli kesehatan komunis dan ekonom komunis yang bisa melakukannya. Di halaman-halaman berikutnya, saya hanya akan coba menunjukkan bahwa dengan adanya alat produksi modern dan kekuatan reproduktifnya yang tak terbatas, maka perlu kiranya mengekang hasrat para buruh yang berlebihan akan kerja dan mengharuskan mereka mengkonsumsi barang-barang yang mereka produksi.

3. Konsekuensi dari Keberlebihan Produksi

Maka bernyanyilah Antiparos, seorang penyair Yunani di masa Cicero, tentang penemuan kincir air (untuk menggiling biji-bijian), yang dimaksudkan untuk membebaskan para perempuan budak dan mengembalikan Zaman Keemasan:

“Istirahatkanlah lengan yang memutar gilingan, duhai para pekerja penggilingan, dan tidurlah dengan tenang. Biarlah ayam jantan sia-sia berusaha mengingatkanmu bahwa fajar telah merekah. Demeter17 telah membebankan kerja budak kepada para peri, dan lihatlah mereka melompat-lompat dengan riang di atas roda, lihatlah poros roda itu bergerak, berputar dengan ruji-rujinya dan membuat batu yang berat itu berputar menggelinding. Mari kita menjalani hidup seperti yang dijalani nenek moyang kita, dan mari kita bergembira dalam kebersantaian dengan pemberian yang telah dianugerahkan dewa kepada kita.”

Duh! Waktu luang yang dinyatakan oleh penyair pagan itu belum juga datang. Hasrat akan kerja yang buta, keras kepala dan bisa membunuh itu telah mentransformasikan mesin pembebas ini menjadi alat untuk memperbudak manusia bebas. Daya produktifnya justru memiskinkan mereka.

Seorang pekerja perempuan yang bagus dengan jarum-jarumnya hanya mampu membuat lima lubang jala dalam waktu satu menit, sedangkan mesin rajut khusus yang berbentuk bundar bisa menghasilkan 30.000 lubang jala dalam waktu yang sama. Jadi, setiap menit kerja mesin ini setara dengan seratus jam kerja buruh perempuan itu, atau sekali lagi, setiap menit kerja mesin ini memberi perempuan pekerja itu sepuluh hari waktu untuk istirahat. Yang berlaku dalam industri perajutan lebih-kurang juga berlaku di semua industri yang direkonstruksi oleh permesinan modern. Tetapi apa yang kini kita lihat? Seiring mesin disempurnakan dan mampu melakukan kerja manusia dengan kecepatan dan ketepatan yang semakin meningkat, buruh, bukannya memperpanjang waktu istirahat dari yang sebelumnya, malah melipat-gandakan semangatnya seolah ingin menyaingi mesin. Oh, kompetisi yang absurd dan mendatangkan kematian!

Bahwa persaingan antara manusia dan mesin bisa berlangsung secara bebas, kaum proletar telah menghapuskan hukum-hukum bijak yang membatasi kerja pekerja tangan di gilda-gilda zaman kuno; mereka telah meniadakan hari libur.18 Karena para produsen pada waktu itu tidak bekerja selain pada lima dari tujuh hari, apakah kita akan mempercayai cerita-cerita yang dikisahkan oleh ekonom-ekonom pembohong bahwa mereka hidup tak lain hanya dengan udara dan air minum? Tidak begitu, mereka punya waktu luang untuk merasakan kesenangan duniawi, untuk bercinta dan bersuka ria, berpesta dengan gembira untuk menghormati dewa kebersantaian yang baik hati. Inggris yang suram, yang tenggelam dalam agama Protestan, pada waktu itu disebut “Inggris yang Ceria.” Rabelais, Quevedo, Cervantes dan para penulis kisah cinta lainnya yang tak dikenal membuat kita ngiler dengan gambaran-gambaran mereka tentang pesta-pesta monumental itu,19 dimana para lelaki di masa itu menjamu diri mereka di antara dua peperangan dan dua kehancuran, dimana segala sesuatu “berlangsung dalam jumlah besar.” Jordaens dan Flemish School telah mengisahkan cerita tentang pesta-pesta ini dengan gambarannya yang sangat menyenangkan. Dimana, Oh, dimanakah perut-perut besar yang agung di hari-hari itu; dimanakah otak-otak agung yang melingkari semua pikiran manusia? Kita sesungguhnya telah menjadi kerdil dan lemah. Daging sapi dan kentang awetan, anggur palsu dan schnapps20 Prusia, yang dengan bijak dipadukan dengan kerja wajib, telah melemahkan tubuh kita dan menyempitkan pikiran kita. Dan saat-saat ketika manusia mengekang perutnya, dan mesin memperbesar hasil kerjanya, persis adalah saat ketika para ekonom mengkhotbahkan kepada kita teori Malthusian, agama keberpantangan dan dogma kerja. Sungguh akan lebih baik kalau kita membetot lidah-lidah seperti itu, lalu melemparkannya untuk dimakan anjing.

Karena kelas pekerja, dengan kepercayaan baiknya yang sederhana, telah menyerahkan diri untuk diindoktrinasi, karena dengan sifat bawaannya yang selalu tergesa-gesa telah dengan buta melemparkan dirinya ke dalam kerja dan berpantang, maka kelas kapitalis pun mendapati dirinya terkutuk ke dalam kemalasan dan kesenangan yang terpaksa, ke dalam ketidak-produktifan dan konsumsi berlebihan. Tetapi bila kerja-berlebihan buruh ini mememarkan daging tubuh mereka dan menyiksa syaraf mereka, ternyata ini juga mendatangkan suburnya penderitaan bagi kapitalis.

Keberpantangan, ke dalam mana kelas produktif ini mengutuk dirinya, memaksa para kapitalis untuk mengabdikan diri mereka kepada konsumsi-berlebihan produk-produk yang dibuat sedemikian liarnya oleh buruh. Pada permulaan produksi kapitalis sekitar satu atau dua abad yang lalu, kapitalis adalah seorang lelaki kokoh yang memiliki kebiasaan-kebiasaan yang wajar dan tenang. Dia berpuas diri hanya dengan satu istri atau jumlah yang hanya sekitar itu. Dia minum hanya bila haus dan makan hanya bila lapar. Dia membiarkan hanya para tuan dan nyonya istana saja yang menikmati keutamaan ningrat berupa kesenangan sensual yang berlebihan. Di masa kini setiap putra keluarga kaya baru mengharuskan dirinya untuk mengembangkan penyakit yang mana air raksa merupakan sesuatu yang spesifik untuk mengesahkan kerja yang dipaksakan kepada para pekerja di tambang-tambang air raksa. Setiap kapitalis menjejali dirinya dengan ayam jago yang dikebiri, yang diisi jamur dan anggur merk pilihan untuk menyemangati peternak unggas yang kejam dan para petani Bordelais.21 Dalam pekerjaan ini, organisme dengan pesat menjadi rusak, rambut rontok, gusi merenggang dari gigi, badan menjadi rusak, perut menonjol secara abnormal, pernafasan susah, gerakan menjadi sulit, sendi-sendi kaku, jari-jari pun keriput. Yang lainnya, terlalu lemah tubuhnya untuk menanggung keletihan akibat kesenangan sensual berlebihan, namun dihadiahi benturan diskriminasi filantropis, mengeringkan otaknya dengan ekonomi-politik, ataupun filsafat yuridis dalam mengelaborasi buku-buku pengantar tidur yang tebal demi menghabiskan jam-jam luang para penyusun buku dan orang percetakan. Para perempuan yang gandrung mode menjalani hidup seperti martir saat mencoba dan memamerkan pakaian-pakaian yang seperti dalam dongeng, yang para perempuan penjahitnya sampai mati saat membuatnya. Mereka selalu berganti pakaian seperti kumparan benang mulai pagi sampai malam, dari satu gaun ke gaun lainnya. Selama berjam-jam mereka menyerahkan kepala kosong (kepala yang tidak biasa dipakai berpikir) mereka kepada para seniman rambut, yang dengan konsekuensi apapun bersikeras untuk meredakan hasratnya untuk membuat keriting (ikal) palsu. Dengan terikat dalam korsetnya, kakinya tertekan dalam sepatu boot-nya dan dengan mengenakan pakaian yang belahan dadanya sangat rendah hingga membuat wajah para lelaki yang memandangnya memerah malu, mereka berkeliling sepanjang malam pesta amal untuk mengumpulkan beberapa sen bagi orang-orang miskin—jiwa-jiwa yang disucikan!

Untuk memenuhi fungsi sosialnya yang ganda berupa non-produsen dan konsumen-berlebihan, kapitalis bukan hanya harus melanggar seleranya yang sederhana, menghilangkan kebiasaan bekerja kerasnya dari dua abad yang lalu dan menyerahkan dirinya kepada kemewahan yang tanpa batas, makanan berlebihan yang bahkan tak bisa dicerna dan pesta seks berlebihan yang mendatangkan penyakit kelamin, tetapi juga harus menarik sejumlah besar orang dari jajaran tenaga kerja produktif agar bisa memasukkan mereka ke dalam daftarnya sebagai pelayan.

Berikut ini adalah beberapa angka untuk membuktikan betapa kolosal penyia-nyiaan tenaga produktif ini. Menurut sensus tahun 1861, penduduk Inggris dan Wales berjumlah 20.066.244 orang, terdiri dari 9.776.259 laki-laki dan 10.289.965 perempuan. Kalau kita mengambil mereka yang terlalu tua dari yang terlalu muda untuk bekerja, para perempuan yang tidak produktif, anak-anak laki-laki dan perempuan, lalu “profesi-profesi ideologis” seperti gubernur, polisi, jajaran kependetaan, hakim, prajurit, pelacur, seniman, ilmuwan dan lain-lain, kemudian orang-orang yang secara eksklusif sibuk memakan hasil kerja orang lain dalam bentuk sewa tanah, bunga, dividen dan lain-lain…, maka tinggal ada sejumlah total delapan juta individu dari kedua jenis kelamin dan dari segala usia, termasuk para kapitalis yang berperan dalam produksi, perdagangan, keuangan dan lain-lain. Dari delapan juta ini, angka-angkanya secara berurutan sebagai berikut:

Pekerja pertanian, termasuk para penggembala, pelayan dan putri petani yang tinggal di rumah

1.098.261 orang

Buruh Pabrik di bidang perajutan kain katun, wol, rami dan sutra linen

642.607 orang

Buruh Tambang

565.835 orang

Buruh Logam (tanur-tanur pembakaran, kilang-kilang yang berputar dan lain-lain)

396.998 orang

Pekerja domestik

1.208.648 orang

“Kalau kita menjumlahkan buruh tekstil dan buruh tambang, maka kita mendapatkan angka 2.208.442; kalau kita tambahkan buruh logam ke jumlah buruh tekstil tadi, maka kita mendapatkan jumlah total 1.039.605 orang; maksudnya, dalam masing-masing kasus jumlahnya di bawah jumlah budak domestik modern. Lihatlah hasil yang luarbiasa dari eksploitasi kapitalis terhadap mesin-mesin.”22 Terhadap kelas pekerja domestik ini, yakni ukuran yang menunjukkan tahap yang dicapai oleh peradaban kapitalis, masih harus ditambahkan lagi kelas yang jumlahnya sangat besar yang terdiri dari orang-orang kurang beruntung yang mengabdikan dirinya khusus untuk memuaskan selera yang sia-sia dan mahal dari kelas-kelas kaya: para pemotong intan, pembuat renda, penyulam, para penjilid buku mewah, para perempuan penjahit yang dipekerjakan di villa-villa untuk menghias gaun-gaun yang mahal, dan lain-lain.23

Begitu menetap dalam kemalasan absolut dan terdemoralisasi oleh kesenangan yang terpaksa, maka kelas kapitalis—kendati ada kepedihan dalam jenis kehidupan barunya—bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan baru ini. Segeralah mereka mulai melihat setiap perubahan dengan kengerian. Pemandangan berupa kondisi-kondisi kehidupan sengsara yang dengan tunduk diterima oleh kelas pekerja, dan pandangan tentang kemerosotan organik yang disebabkan oleh hasrat bejatnya akan kerja, meningkatkan keengganannya terhadap semua kerja wajib dan segala pembatasan terhadap kesenangan-kesenangan mereka. Persis di saat itulah, tanpa mempertimbangkan demoralisasi yang telah dipaksakan oleh kelas kapitalis kepada dirinya sendiri sebagai sebuah tugas sosial, kaum proletar mencamkan ke kepala mereka untuk membebankan kerja kepada kaum kapitalis. Tanpa pretensi sebagaimana adanya, mereka menganggap serius teori-teori tentang kerja yang diproklamirkan oleh para ekonom dan para moralis, dan menyiapkan punggungnya untuk membebankan praktek dari teori-teori ini kepada para kapitalis. Proletariat pun membentangkan spanduk: “Siapa yang tidak mau bekerja, dia juga Tidak akan Makan”. Lyons pada tahun 1831 bangkit untuk peluru ataukah kerja. Para buruh yang berfederasi pada bulan Maret 1871 menyebut kebangkitan mereka sebagai “Revolusi Kerja”. Kepada letusan-letusan kemarahan barbar yang destruktif terhadap segala kesenangan dan kemalasan kapitalis, para kapitalis tidak memiliki jawaban selain represi yang ganas, namun mereka tahu bahwa kalau mereka telah bisa merepresi ledakan revolusioner ini, mereka belum tenggelam dalam darah dari pembantaian besar-besaran ini, ide absurd tentang proletariat yang berharap untuk membebankan kerja kepada kelas-kelas yang santai dan menjaga nama baik, dan untuk menghindari kemalangan inilah kiranya mereka menjaga dirinya dengan dikelilingi para penjaga, polisi, hakim dan sipir penjara, yang didukung dalam ketakproduktifan yang susah payah. Tak ada ruang lagi bagi ilusi mengenai fungsi tentara modern. Mereka dipertahankan secara permanen tidak lain hanya untuk membungkam “musuh di dalam”. Jadi, benteng-benteng di Paris dan Lyons bukan dibangun untuk mempertahankan kota dari pihak asing, melainkan untuk melibas kalau-kalau ada pemberontakan. Dan kalau hendak disebutkan sebuah contoh yang tak terjawab, maka kita menyebutkan tentara Belgia, surga kapitalisme itu. Netralitasnya dijamin oleh kekuasaan-kekuasaan Eropa, namun tentaranya merupakan salah satu yang terkuat bila dibandingkan dengan jumlah penduduknya. Medan-medan tempur yang gemilang bagi tentara Belgia yang gagah berani ini adalah dataran Borinage dan Charleroi. Pada darah para pekerja tambang dan buruh yang tak bersenjatalah para perwira Belgia menempa pedangnya dan meraih lencana kepangkatannya. Bangsa-bangsa Eropa di masa itu belum mempunyai tentara nasional, melainkan hanya tentara bayaran. Mereka melindungi kaum kapitalis dari kemarahan rakyat yang akan mengutuk mereka ke dalam sepuluh jam kerja menambang atau memintal. Sekali lagi, di saat mengencangkan perut mereka sendiri, kelas pekerja telah mengembangkan secara abnormal perut kelas kapitalis yang terkutuk untuk mengkonsumsi secara berlebihan.

Untuk meringankan kerjanya yang menyakitkan ini, kelas kapitalis telah menarik—dari kelas pekerja—sekian banyak orang yang jauh lebih superior dibandingkan mereka yang masih mengabdikan diri kepada produksi yang berguna, dan mengutuk mereka untuk masuk ke dalam ketakproduktifan dan konsumsi berlebihan. Namun pasukan yang terdiri dari mulut-mulut tak berguna ini, meski memiliki kerakusan yang tak pernah kenyang, tidaklah cukup untuk mengkonsumsi semua barang yang diproduksi oleh para buruh yang digilakan oleh dogma kerja—memproduksinya seperti orang kesetanan, tanpa berharap untuk mengkonsumsi barang-barang itu, bahkan tanpa berpikir apakah akan ada orang yang akan mengkonsumsinya.

Dihadapkan dengan kegilaan ganda para buruh yang membunuh dirinya sendiri dengan produksi berlebihan dan hidup pasif dengan berpantang, maka masalah besar produksi kapitalis bukan lagi pada bagaimana mencari produsen-produsen baru untuk melipatgandakan kekuasaannya, melainkan bagaimana menemukan konsumen untuk digairahkan seleranya dan menciptakan kebutuhan-kebutuhan fiktif bagi mereka. Karena para buruh Eropa, yang menggigil kedinginan dan kelaparan, menolak untuk memakai kain yang mereka tenun, menolak meminum anggur dari kebun-kebun anggur yang mereka rawat, maka para pengusaha yang malang itu dengan kebaikan hatinya harus berlari ke ujung-ujung dunia untuk mencari orang-orang yang akan memakai pakaian dan meminum anggur tersebut: Setiap tahun Eropa mengekspor barang-barang yang mencapai jumlah milyaran dolar ke empat penjuru dunia, kepada bangsa-bangsa yang tidak membutuhkan barang-barang itu.24 Tetapi benua-benua yang dijelajahi itu tak lagi cukup besar. Negeri-negeri perawan dibutuhkan. Para pengusaha Eropa bermimpi siang dan malam tentang Afrika, tentang sebuah danau di gurun Sahara, tentang jalan kereta api ke Sudan. Dengan gelisah mereka mengikuti gerak maju Livingston, Stanley, Du Chaillu; mereka mendengarkan dengan mulut menganga kisah-kisah hebat tentang para penjelajah yang gagah berani ini. Betapa banyaknya keajaiban yang belum terungkap yang terkandung di dalam “benua gelap” itu! Ladang-ladang bertaburkan gading gajah, sungai-sungai minyak kelapa berhiaskan emas, jutaan pantat, setelanjang wajah Dufaure dan Girardin, menunggu barang-barang katun untuk mengajarkan kepada mereka kesopanan, dan botol-botol schnapps dan buku-buku referensi yang dari ini mereka bisa belajar tentang keutamaan-keutamaan peradaban.

Tapi itu semua berjalan tanpa arah tujuan: kapitalis yang kekenyangan, kelas pelayan yang jumlahnya lebih besar daripada kelas produktif, bangsa-bangsa asing dan barbar, dijejali dengan barang-barang Eropa; tak ada, tidak ada yang bisa melumerkan gunungan produk-produk yang makin tinggi dan makin besar melebihi piramid-piramid Mesir. Keproduktifan buruh Eropa menantang segala konsumsi, segala pemborosan.

Para pengusaha itu telah kehilangan arah dan tidak tahu kemana harus berbalik. Mereka tidak bisa lagi menemukan bahan mentah untuk memenuhi hasrat bejat yang tak kenal patuh dari para buruh mereka akan kerja. Di distrik-distrik kita yang kaya wol, kain-kain rombeng yang kotor dan setengah hancur dibongkar lagi untuk digunakan dalam membuat pakaian-pakaian tertentu yang dijual dengan nama renaisans, yang memiliki daya tahan kira-kira sama dengan janji-janji yang diberikan kepada para pemilih dalam pemilu. Di Lyons, serat sutra bukannya dibiarkan dalam kesederhanaan dan kelenturan alaminya, tetapi malah diisi dengan garam-garam mineral, yang meski menambah beratnya, namun membuat bahan ini menjadi rapuh dan jauh dari tahan lama. Semua produk kita dipalsukan (dicampur bahannya) untuk mempermudah penjualan dan memperpendek umur produk itu. Masa kita akan disebut “Zaman Pemalsuan”, persis seperti masa-masa pertama umat manusia mendapat nama “Zaman Batu”, “Zaman Perunggu”, dari karakter produksinya. Orang-orang tertentu yang bodoh menuduh para pengusaha kita yang saleh banyak melakukan penipuan, padahal kenyataannya, pikiran yang menggerakkan mereka adalah menyerahkan kerja kepada para buruh mereka, yang tidak bisa mengundurkan diri untuk kemudian menjalani hidup dengan tangan terlipat (bersantai). Pemalsuan ini, yang motif satu-satunya adalah sentimen kemanusiaan, namun yang juga mendatangkan laba sangat besar bagi pengusaha yang mempraktekkannya, kalaupun bersifat merusak bagi kualitas barang, dan kalaupun merupakan sumber yang tak habis-habisnya akan penyia-nyiaan kerja manusia, justru membuktikan filantropi lugu para kapitalis, dan penyelewengan yang mengerikan oleh para buruh, yang—demi memuaskan kebiasaan buruknya akan kerja—memaksa para pengusaha untuk membungkam teriakan suara hatinya dan bahkan melanggar hukum-hukum kejujuran perdagangan.

Namun, kendati terjadi keberlebihan produksi barang, kendati terjadi pemalsuan dalam pembuatannya, buruh terus saja membebani pasar dalam jumlah yang tak terhitung dengan memohon-mohon: Kerja! Kerja! Keberlimpahan mereka yang bertumpuk-tumpuk itu memaksa mereka untuk mengekang hasratnya; dan sebaliknya, kerja membawa mereka ke titik serangan hebat. Beri saja kesempatan kepada kerja untuk menghadirkan dirinya, maka mereka pun akan tergesa-gesa menuju ke sana. Lalu mereka akan menuntut dua belas, empat belas jam untuk melimpahi nafsu mereka akan kerja, dan keesokan harinya mereka kembali dilemparkan ke jalanan dengan tak ada lagi makanan bagi kebiasaan buruk mereka. Setiap tahun di semua industri, pemecatan sementara terjadi dengan regularitas musim. Kerja berlebihan, yang merusak organisme, diikuti dengan istirahat total selama dua atau empat bulan, dan ketika kerja berhenti, keserba-kekurangan pun berhenti. Karena kebiasaan buruk kerja dilekatkan secara kejam ke hati para buruh, karena pemenuhannya melumpuhkan semua naluri alami lainnya, karena kuantitas kerja yang diperlukan masyarakat niscaya dibatasi oleh konsumsi dan oleh pasokan bahan mentah, mengapa kerja untuk satu tahun dilahap dalam enam bulan; mengapa tidak membaginya secara rata selama dua belas bulan dan memaksa setiap pekerja untuk berpuas diri dengan enam atau lima jam sehari sepanjang tahun ketimbang hanya menimbulkan ketaksanggupan mencerna akibat dua belas jam kerja dalam sehari selama enam bulan? Begitu terjamin porsi kerja hariannya, para buruh tidak akan lagi iri terhadap satu sama lain, tidak akan lagi bertarung untuk merebut pekerjaan dari tangan satu sama lain dan roti dari mulut satu sama lain. Dan kemudian, karena badan dan pikirannya tak lagi kepayahan, mereka akan mulai mempraktekkan keutamaan-keutamaan kemalasan.

Digilakan oleh kebiasaan buruknya, para buruh tidak mampu bangkit untuk memahami fakta ini, bahwa agar ada pekerjaan bagi semua orang, perlulah membaginya seperti air di sebuah kapal yang sedang oleng. Sementara itu pengusaha-pengusaha tertentu, atas nama eksploitasi kapitalis, telah lama meminta adanya pembatasan legal atas hari kerja. Di hadapan komisi pendidikan profesional pada tahun 1860, salah satu pengusaha paling hebat dari Alsace, M. Bourcart dari Guebwiller, menyatakan: “Hari kerja sepanjang dua belas jam itu berlebihan dan hendaknya dikurangi menjadi sebelas jam, sedangkan kerja haruslah dihentikan pada pukul dua pada hari Sabtu. Saya menyarankan agar ditempuh langkah ini, meski sekilas mungkin nampak sulit. Kami telah mencobanya di struktur-struktur industri kami selama empat tahun dan mendapati diri kami menjadi lebih baik, sedangkan produksi rata-rata, bukannya berkurang, justru meningkat.” Dalam kajiannya tentang mesin-mesin, M. F. Passy mengutip surat berikut ini dari seorang pengusaha besar Belgia, M. Ottevaere: “Mesin-mesin kami, meski sama dengan mesin di pabrik-pabrik pemintalan Inggris, tidak memproduksi apa yang seharusnya bisa—atau apa yang diproduksi oleh—mesin-mesin yang sama di Inggris, walaupun para pemintal di sana bekerja dua jam lebih sedikit dalam sehari. Kita semua bekerja dua jam lebih lama. Saya yakin bahwa kalau kita bekerja hanya sebelas jam, bukan tiga belas jam, kita akan menghasilkan produk yang sama dan konsekuensinya kita akan memproduksi secara lebih ekonomis.” Kembali M. Leroy Beaulieu menegaskan, adalah pernyataan seorang pengusaha besar Belgia bahwa minggu-minggu saat masa libur menghasilkan produk yang tidak lebih sedikit dibandingkan minggu-minggu biasa.25

Sebuah pemerintahan aristokratik telah berani melakukan apa yang sebuah bangsa—yang dalam keluguannya dibohongi oleh para moralis—tidak pernah berani melakukannya. Dengan membenci pertimbangan-pertimbangan hebat penuh moral industrial dari para ekonom yang—seperti burung-burung dengan firasat buruk—berkoar-koar bahwa pengurangan satu jam kerja di pabrik-pabrik berarti menetapkan keruntuhan industri Inggris, pemerintah Inggris telah melarang—dengan sebuah hukum yang ditegakkan secara ketat—kerja yang lebih dari sepuluh jam dalam sehari. Dan sebagaimana sebelumnya, Inggris tetap saja menjadi bangsa Industri nomor satu di dunia.

Percobaan yang diupayakan dengan skala begitu hebat itu tercatat; pengalaman kapitalis-kapitalis cerdas tertentu itu tercatat. Mereka membuktikan diluar keraguan bahwa untuk memperkuat produksi manusia, perlulah kiranya mengurangi jam kerja dan melipatgandakan hari gajian dan hari pesta, namun bangsa Perancis belum yakin. Tetapi jika pengurangan dua jam yang menyengsarakan itu telah meningkatkan produksi Inggris sebesar hampir sepertiganya dalam sepuluh tahun, betapa kecepatan susah-payah yang akan diberikan kepada produksi Perancis bila ada pembatasan hukum tentang hari kerja menjadi tiga jam. Tidak bisakah para buruh memahami bahwa dengan kerja yang berlebihan itu berarti mereka menghabiskan kekuatannya sendiri dan kekuatan anak-cucunya, bahwa mereka sudah kepayahan dan, lama sebelum tiba waktunya, mereka tidak akan mampu lagi melakukan kerja apapun sama sekali, bahwa karena disedot dan digilakan oleh satu kebiasaan buruk ini, mereka bukan lagi manusia, melainkan kepingan-kepingan manusia, bahwa mereka membunuh di dalam dirinya sendiri segala indera/bakat yang indah, hingga mengakibatkan tak ada apa-apa lagi yang hidup dan tumbuh subur selain kegilaan yang ganas akan kerja. Seperti burung beo, mereka mengulangi pelajaran si ekonom: “Marilah kita bekerja, mari kita bekerja untuk meningkatkan kemakmuran nasional.” Oh para idiot, justru karena kalian terlalu banyak bekerja, maka peralatan industri lambat berkembang. Berhentilah meringkik dan mendengarkan ekonom, tak terkecuali M. L. Reybaud, orang yang kita cukup beruntung telah kehilangan dia beberapa bulan lalu. “Secara umum, berdasarkan kondisi-kondisi kerja tanganlah revolusi dalam hal metode kerja diatur. Selama kerja tangan menyediakan jasanya dengan harga rendah, ia akan diboroskan, namun upaya-upaya akan dilakukan untuk mengekonomiskan kerja tangan bila jasanya menjadi lebih mahal.”26

Untuk memaksa kapitalis menyempurnakan mesin-mesinnya yang terbuat dari kayu dan besi, perlulah kiranya menaikkan upah dan mengurangi jam kerja mesin-mesin yang berwujud daging dan darah ini. Apakah kalian minta bukti? Ada ratusan contoh yang dapat membuktikannya. Dalam pemintalan, mesin pemintal otomatis ditemukan dan digunakan di Manchester karena para pemintal menolak bekerja dalam jam-jam yang begitu panjang sebagaimana sebelumnya. Di Amerika, mesin menyerbu semua cabang produksi pertanian, mulai dari pembuatan mentega sampai penyiangan gandum. Mengapa? Karena orang Amerika, yang bebas dan malas, akan lebih memilih seribu kematian daripada hidup ala petani Perancis yang monoton seperti hewan ternak. Kerja membajak tanah, yang begitu perih dan membuat pincang si pekerja di Perancis kita yang gemilang, di kalangan orang Barat Amerika adalah suatu pengisi waktu luang yang menyenangkan, yang dia praktekkan dalam postur duduk sambil menghisap pipa dengan acuh tak acuh.

4. Lagu Baru untuk Musik Baru

Kita telah melihat bahwa dengan mengurangi jam kerja, tenaga-tenaga mekanik baru akan dikuasai untuk produksi sosial. Lebih jauh lagi, dengan mewajibkan para buruh untuk mengkonsumsi produk-produk mereka, tentara pekerja akan meningkat dengan sangat besar. Kelas kapitalis, begitu dilepaskan dari fungsinya sebagai konsumen universal, akan bersegera membubarkan barisannya yang terdiri atas serdadu, hakim, wartawan, perantara/agen, yang dulu ditariknya dari kerja yang berguna untuk membantunya dalam mengkonsumsi dan memboroskan. Lalu pasar kerja akan membludak. Kemudian akan diperlukan hukum besi untuk memberlakukan suatu batas atas kerja. Akan mustahil untuk menemukan lapangan kerja bagi sekawanan mantan orang tak produktif, yang jumlahnya lebih banyak daripada serangga parasit. Dan setelah mereka, harus pula dipertimbangkan semua orang yang menyediakan kebutuhan-kebutuhan mereka serta selera mereka yang mahal dan tak berguna. Bila tak ada lagi penjilat dan jenderal untuk diberi medali kehormatan, maka tak akan ada lagi pelacur yang bebas dan yang menikah untuk dibalut dengan renda-renda; tak akan ada lagi meriam untuk dilubangi; tak akan ada lagi istana yang perlu dibangun; akan diperlukan hukum-hukum yang keras untuk memaksa para perempuan dan laki-laki pekerja yang dipekerjakan untuk membuat renda-renda bordir, dipekerjakan di tambang-tambang besi, bangunan, untuk melakukan latihan-latihan yang sehat dan gerak badan yang dibutuhkan untuk memulihkan kesehatan mereka dan memperbaiki ras mereka. Begitu kita mulai mengkonsumsi produk-produk Eropa di rumah sendiri, bukannya mengirim produk-produk itu ke mana-mana, akan perlulah kiranya para pelaut, pekerja dermaga dan pekerja transporasi pelabuhan untuk duduk dan belajar memutar-mutar ibu jarinya. Lalu orang-orang Polinesia yang berbahagia bisa bercinta sesuka mereka tanpa perlu takut kepada Venus dan khotbah-khotbah beradab dari kaum moralis Eropa.

Dan itu belum semuanya: Untuk bisa menemukan pekerjaan bagi semua non-produsen di masyarakat kita sekarang, agar bisa memberikan ruang bagi peralatan industri untuk terus berkembang secara tak terbatas, kelas pekerja akan dipaksa, seperti halnya kelas kapitalis, untuk melakukan kekerasan terhadap selera berpantangnya dan mengembangkan kapasitas konsumsinya secara tak terbatas. Bukannya memakan satu atau dua ons daging alot sekali dalam sehari (kalau memang ada yang dimakan), mereka malah akan memakan steak daging sapi segar sebanyak satu atau dua pon; bukannya meminum sedikit anggur berkualitas rendah, mereka malah akan menjadi lebih ortodoks daripada Paus dan meminum berliter-liter Bordeaux dan Burgundy tanpa perlu baptis komersial, dan akan membiarkan air untuk diminum binatang.

Kaum proletar telah mencamkan di kepalanya untuk membebankan kepada kaum kapitalis sepuluh jam di bengkel dan pabrik; itulah kesalahan besar mereka dikarenakan antagonisme-antagonisme sosial dan perang sipil. Kerja seharusnya dilarang, bukan dipaksakan. Keluarga Rothschild dan para kapitalis lainnya hendaknya diperkenankan mengungkapkan kesaksian tentang fakta bahwa selama keseluruhan hidupnya, mereka telah menjadi pengembara yang sempurna, dan jika mereka bersumpah bahwa mereka berharap untuk terus hidup sebagai pengembara yang sempurna meski ada keranjingan umum akan kerja, mereka seharusnya dipensiunkan dan setiap pagi di balai kota harus menerima sekeping emas lima dolar untuk uang saku mereka. Pertikaian-pertikaian sosial akan sirna. Para pemegang obligasi dan kapitalis akan menjadi yang pertama-tama berlari mendatangi partai popular begitu mereka yakin bahwa, bukannya ingin melukai mereka, tujuan partai itu justru adalah hendak melepaskan mereka dari kerja berupa konsumsi-berlebihan dan pemborosan yang telah menyelubungi mereka sejak mereka lahir. Adapun bagi para kapitalis yang tidak mampu membuktikan dirinya untuk menyandang gelar pengembara, mereka akan diperkenankan mengikuti nalurinya. Ada banyak pekerjaan menjijikkan yang bisa menampung mereka. Dufaure mungkin bisa ditempatkan untuk membersihkan wc-wc umum, Gallifet27 mungkin bisa melakukan operasi pembedahan pada kuda dan anjing yang sakit. Para anggota komisi amnesti mungkin bisa dikirim ke tempat-tempat penyimpanan ternak untuk mengambil sapi dan domba yang akan dijagal. Para senator mungkin bisa memainkan peran sebagai pengurus dan kacung dalam prosesi penguburan. Adapun bagi yang lainnya, pekerjaan bisa ditemukan untuk mereka sesuai dengan tingkat kecerdasannya. Lorgeril dan Eroglie bisa memasang sumbat botol-botol champagne, hanya saja mereka harus diberangus untuk mencegah keracunan. Ferry, Freycinet dan Tirard bisa membasmi kutu dan hama di departemen-departemen negara dan rumah-rumah masyarakat. Namun demikian, akan perlu kiranya menyimpan dana publik di luar jangkauan para kapitalis dikarenakan adanya kebiasaan-kebiasaan baru mereka itu.

Tetapi pembalasan dendam yang pahit dan panjang akan ditimpakan kepada kaum moralis yang telah memutar-balikkan sifat alami manusia—para bigot, orang taat gadungan, orang-orang munafik, dan sekte-sekte manusia lainnya yang menyembunyikan diri mereka seperti masker untuk menipu dunia. Karena sementara mereka menunjukkan kepada orang banyak untuk memahami bahwa mereka tidak sibuk tentang apapun selain kontemplasi dan beribadah puasa serta mengekang sensualitas mereka, dan bahwa mereka hanya makan-minum sedikit saja sekedar untuk bertahan hidup, yang terjadi justru sebaliknya, Tuhan mengetahuinya, kesenangan apa yang mereka perbuat; et Curies simulant, sed Bacchanalia vivunt (Mereka berpura-pura seperti Curius, namun hidup seperti kaum pemuja Bacchus).28 Anda bisa membacanya di surat-surat agung, dalam warna merah moncong mulut mereka, dan perut mereka yang membuncit seperti tong, kecuali jika mereka menyemprot tubuhnya dengan sulfur.29 Pada hari-hari pesta besar, rakyat tidak lagi akan menelan debu seperti yang terjadi pada tanggal 15 Agustus dan 14 Juli di bawah kapitalisme. Kaum komunis dan kolektivis akan makan, minum dan menari sepuas hatinya, para anggota akademi ilmu moral dan politik, para pendeta yang berjubah dan yang mengenakan jas, baik dari kalangan ekonomi, Katholik, Protestan, Yahudi, maupun gereja positivis dan pemikiran bebas; para propagandis Malthusianisme dan propagandis Kristen, altruistik, etika independen ataupun dependen, yang berpakaian dengan warna kuning, akan dipaksa memegang sebatang lilin sampai lilin itu membakar jarinya, akan kelaparan di hadapan meja-meja yang dipenuhi daging, buah-buahan dan bunga-bunga, dan akan sangat menderita menanggung dahaga di hadapan bergentong-gentong minuman. Empat kali dalam setahun, seiring pergantian musim, mereka akan diikat dan dibekap seperti anjing pemutar gerinda asahan dalam roda-roda besar dan dihukum untuk memutar gerinda selama sepuluh jam.

Para pengacara dan pembuat hukum akan mengalami hukuman yang sama. Di bawah rezim kebersantaian, untuk membunuh waktu yang biasanya membunuh kita detik demi detik, akan ada berbagai pertunjukan dan pementasan teater terus-menerus. Dan persis di sinilah kita akan mendapatkan pekerjaan untuk para pembuat hukum borjuis kita. Kita akan mengorganisir mereka dalam kelompok-kelompok keliling untuk mendatangi acara-acara pasar malam dan kampung-kampung, menampilkan pertunjukan legislatif. Para jenderal yang memakai sepatu penunggang kuda, dada mereka yang cemerlang dihiasi medali dan lencana, akan menelusuri jalan-jalan dan lapangan, melakukan perekrutan di antara orang-orang yang baik. Gambetta dan kawannya, Cassagnac, akan menjaga pintu. Cassagnac, dalam kostum duellist lengkap, memutar-mutar matanya dan memilin-milin kumisnya, melakukan akrobat semburan api, akan mengancam setiap orang dengan pistol bapaknya30 dan segera membenamkan dirinya ke dalam lubang begitu mereka memperlihatkan potret Lullier kepadanya. Gambetta akan berceramah tentang politik luar negeri dan tentang Yunani Kecil, yang membuat dirinya menjadi doktor, dan akan membakar Eropa untuk menjarah Turki. Gambetta menjadi gila karena membayangkan janji Rusia Raya yang akan menghancur-leburkan Prussia dan akan senang melihat pergolakan muncul di sebelah barat Eropa sehingga menghias sarangnya di timur dan mencekik nihilisme di dalam negeri; tentang Tuan Bismarck yang cukup baik dengan mengizinkan dirinya mengumumkan amnesti … kemudian menanggalkan pakaiannya untuk menunjukkan perutnya yang membuncit dan dicat dengan warna merah, putih dan biru, ketiga warna kebangsaan, dia akan membubuhkan tato ke atasnya, dan merinci ayam kampung yang enak, jamur yang sangat mahal dan bergelas-gelas anggur Margaux dan Y’quem (merk anggur merah dan anggur putih yang paling mahal di dunia—penerj.) untuk menggiatkan pertanian, dan untuk menjaga agar para pemilihnya di Belleville tetap berada dalam semangat yang bagus.

Di barak-barak, pertunjukan akan dibuka dengan parodi pemilu.

Dengan hadirnya para pemilih yang berkepala batu dan bertelinga keledai, para kandidat borjuis yang berpakaian seperti badut akan menarikan tarian kebebasan politik, mengecat tubuh mereka di bagian depan dan belakang dengan program-program pemilu yang mereka janjikan secara muluk, dan dengan air mata di matanya mereka bicara tentang penderitaan rakyat, dan dengan lantang mereka bicara tentang kejayaan Perancis. Kemudian para ketua pemilih tersebut akan meringkik dengan suara serentak: Horee! Horee!

Kemudian akan dimulailah drama besar, Pencurian Harta Bangsa.

Perancis yang kapitalis, seorang perempuan yang sangat besar, wajahnya berbulu dan kepalanya botak, gemuk, kendor, terengah-engah dan pucat, dengan mata yang cekung, mengantuk dan menguap, meregangkan tubuhnya di sofa beludru. Di kakinya ada Kapitalisme Industri, suatu organisme raksasa yang terbuat dari besi, memakai topeng seperti kera, secara mekanik mengganyang para lelaki, perempuan dan anak-anak, yang tangisannya yang melengking dan menyayat hati memenuhi udara; bank dengan moncong musang; sesosok badan hyena dan tangan monster, dengan cepat menjentikkan koin-koin dari sakunya. Kumpulan-kumpulan proletar yang sengsara dan kurus kering, yang berpakaian compang-camping, dikawal oleh polisi yang mengacungkan pedang, dan dikejar-kejar oleh hantu yang mencambuki mereka dengan cambukan kelaparan, membawa ke kaki Perancis kapitalis tumpukan barang, bergentong-gentong anggur, berkarung-karung emas dan gandum. Langlois, celana panjangnya di satu tangan, surat wasiat Proudhon di tangan lainnya, dan buku tentang anggaran nasional di antara gigi-giginya, tertanam di kepala para pembela properti nasional dan garda penjaga. Ketika para buruh, yang dipukuli dengan popor senapan dan ditusuk dengan bayonet, telah menurunkan beban yang dipanggulnya, mereka diusir dan pintu pun terbuka bagi para pengusaha, pedagang dan para bankir. Mereka menceburkan diri ke dalam hiruk-pikuk keberlimpahan, berebut melahap barang-barang katun, berkarung-karung gandum, batangan emas, mengosongkan bergentong-gentong anggur. Begitu mereka telah melahap segala yang mereka bisa, mereka limbung sampai jatuh, sosok-sosok yang kotor dan menjijikkan di antara tinja dan muntahan mereka. Kemudian terus bergemuruh, bumi bergetar dan merekah, Takdir Historis pun muncul, dengan kaki besinya dia menggilas kepala para kapitalis yang tersedak, berjalan terhuyung, jatuh dan tak bisa melarikan diri. Dengan tangannya yang besar dia melemparkan Perancis kapitalis, yang kaget dan berkeringat dingin ketakutan.

Jika—setelah kebiasaan buruk yang mendominasinya dan memerosotkan sifat alaminya dicabut dari hatinya—kelas pekerja mau bangkit dengan kekuatannya yang payah, bukan untuk menuntut Hak-hak Manusia, yang tak lain adalah hak-hak eksploitasi kapitalis, bukan untuk menuntut Hak untuk Bekerja yang tak lain adalah Hak untuk Menderita, melainkan untuk menempa sebuah hukum keras yang melarang setiap orang untuk bekerja lebih dari tiga jam dalam sehari, maka bumi, bumi yang tua ini, sambil bergetar kegirangan akan merasakan suatu semesta baru berjingkrak di dalamnya. Namun bagaimana kita hendak meminta proletariat, yang telah digerogoti oleh etika kapitalis, untuk mengambil sebuah keputusan yang gagah berani…

Seperti Kristus, personifikasi menyedihkan dari perbudakan kuno, para lelaki, perempuan dan anak-anak dari kalangan proletariat telah mendaki bukit Golgotha penderitaan selama seabad. Selama seabad kerja berat wajib telah mematahkan tulang-tulang mereka, melebamkan daging mereka, menyiksa syaraf mereka. Selama seabad kelaparan telah merobek usus dan otak mereka. Duhai Kemalasan, kasihanilah penderitaan kami yang panjang ini! Duhai Kemalasan, ibunda dari seni dan segala keutamaan yang mulia, jadilah engkau obat bagi penderitaan manusia!

APPENDIX

Kaum moralis kita adalah orang-orang yang sangat sopan. Kalaupun mereka menemukan dogma tentang kerja, mereka masih punya keraguan akan keampuhannya dalam menenteramkan jiwa, menggelorakan semangat, dan menjaga agar usus dan organ-organ lainnya berfungsi secara baik. Mereka berharap untuk mencoba keberfungsiannya pada rakyat jelata, pada animca vili, sebelum mengalihkannya kepada para kapitalis, yang mana memberi alasan dan mengesahkan kejahatan-kejahatannya adalah misi mereka yang aneh.

Tetapi kalian, hai filusuf-filusuf kacangan, mengapa kalian sedemikian memeras otak untuk merumuskan sebuah etika yang prakteknya tidak berani kalian sarankan kepada bos-bos kalian? Dogma kalian tentang kerja, yang begitu kalian banggakan, apakah kalian berharap untuk melihat dogma ini dicaci-maki, direndahkan? Mari kita buka sejarah masyarakat-masyarakat kuno dan tulisan-tulisan para filusuf serta para pembuat hukum mereka. “Saya tidak bisa menegaskan,” kata bapak sejarah, Herodotus, “apakah bangsa Creek mewarisi dari bangsa Mesir rasa jijik yang mereka miliki terhadap kerja, karena saya mendapati rasa jijik yang sama tertanam kuat di kalangan bangsa Thracia, Cythia, Persia dan bangsa Lydia. Singkat kata, karena di kalangan sebagian besar masyarakat barbar, orang-orang yang mempelajari keterampilan mekanik, bahkan termasuk anak-anaknya, dianggap sebagai yang paling buruk di antara warga mereka. Semua masyarakat Yunani telah diasuh berdasarkan prinsip ini, khususnya orang-orang Lacedaemon.”31

“Di Athena, para warga adalah orang-orang yang sungguh mulia, yang tidak mencurahkan perhatian untuk apapun selain pertahanan dan pengelolaan komunitas, seperti halnya prajurit-prajurit barbar yang merupakan nenek moyang mereka. Karena dengan demikian mereka harus meluangkan seluruh waktunya untuk mengawasi kepentingan-kepentingan republik, dengan kekuatan mental dan fisiknya, maka mereka menyerahkan semua kerja kepada para budak. Serupa dengan itu, di Lacedaemon para perempuan bahkan tidak diperbolehkan memintal atau menenun agar tidak merosot dari kemuliaannya.”32

Bangsa Romawi tidak mengakui selain hanya dua bidang pekerjaan yang mulia dan bebas, yakni pertanian dan persenjataan. Semua warga berhak untuk hidup dari pengeluaran kas kerajaan tanpa harus melakukan kerja keras apapun—yang secara sah memang milik para budak—untuk mendapatkan penghidupan mereka (begitulah mereka menunjuk kerja-kerja itu). Untuk membangkitkan rakyat, Brutus menuduh Tarquin, sang tiran, telah melakukan kebiadaban khusus, yakni merubah warga bebas menjadi pekerja tangan dan tukang batu.33

Para filusuf kuno bertikai tentang asal-usul ide-ide, namun mereka bersepakat ketika sampai pada kebencian terhadap kerja. “Alam,” kata Plato dalam utopia sosial-nya, model republiknya, “Alam tidak pernah menghasilkan pembuat sepatu ataupun pandai besi. Pekerjaan seperti itu merendahkan martabat orang-orang yang melakukannya. Orang-orang upahan yang hina, orang-orang malang yang tak dikenal, yang persis karena kondisi merekalah kemudian dikucilkan dari hak-hak politik. Adapun para pedagang yang terbiasa berbohong dan menipu, mereka akan diperbolehkan berada di dalam kota hanya sebagai setan yang diperlukan. Warga yang merendahkan martabat dirinya dengan perdagangan di toko akan dituntut karena pelanggaran ini. Kalau dinyatakan bersalah, dia akan dihukum penjara selama satu tahun. Hukuman ini akan dilipatgandakan untuk setiap pelanggaran yang diulangi.”34

Dalam Economics-nya, Xenophon menulis, “Orang-orang yang menyerahkan dirinya kepada kerja manual tidak pernah dipromosikan ke kantor-kantor publik, dan ini dengan alasan yang baik. Sebagian besar dari mereka terkutuk untuk duduk sepanjang hari, sebagian bahkan harus menahankan panas api terus-menerus, sehingga tak terhindarkan meninggalkan bekas di tubuhnya, dan nyaris tak terhindarkan bahwa pikiran juga akan terpengaruh.” “Hal terhormat apa yang bisa muncul dari sebuah toko?” tanya Cicero. “Apa yang bisa dihasilkan secara terhormat oleh perdagangan? Segala sesuatu yang disebut toko itu tidak layak bagi orang yang terhormat. Pedagang tidak bisa mendapatkan keuntungan tanpa berbohong, dan apa yang lebih memalukan daripada kebohongan? Sekali lagi, kita harus memandang sebagai sesuatu yang rendah dan hina usaha orang-orang yang menjual kerja keras dan kerajinannya, karena siapapun yang memberikan tenaga-kerjanya untuk mendapatkan uang berarti menjual diri dan memasukkan dirinya ke dalam jajaran budak.”35

Kaum proletar, yang digilakan oleh dogma kerja, dengarkanlah suara para filusuf ini, yang telah disembunyikan dari kalian dengan sangat hati-hati: Seorang warga yang memberikan tenaga-kerjanya untuk mendapatkan uang berarti memerosotkan dirinya ke dalam jajaran budak, dia melakukan suatu kejahatan yang patut dikenai hukuman penjara selama bertahun-tahun.

Kemunafikan Kristen dan utilitarianisme kapitalis belumlah menyesatkan para filusuf dari republik-republik kuno ini. Berbicara untuk kepentingan orang-orang bebas, mereka mengungkapkan pikiran mereka secara naif. Plato, Aristoteles, para raksasa intelektual itu—yang bila disandingkan dengan mereka, para filusuf di masa kita sekarang ini tak lebih selain kekerdilan—berharap agar para warga di republik-republik mereka yang ideal hidup dalam keadaan yang seluang-luangnya, karena sebagaimana yang diamati Xenophon, “Kerja menyita seluruh waktu, dan dengan kerja orang menjadi tidak punya waktu luang untuk republik dan teman-temannya.” Menurut Plutarch, penegasan hebat dari Lycurgus (tokoh yang paling bijaksana di antara manusia, yang menjadi kebanggaan anak-cucunya) ialah bahwa dia telah menganugerahkan waktu luang kepada warga Sparta dengan melarang mereka melakukan pekerjaan apapun. Namun kaum moralis Kristen dan kaum moralis kapitalisme kita akan menjawab, “Para pemikir dan filusuf ini memuji-muji lembaga perbudakan.” Benar sekali, tetapi bisakah ada lainnya, mengingat kondisi-kondisi ekonomi dan politik di masa mereka? Perang merupakan keadaan normal dalam masyarakat-masyarakat kuno. Orang bebas terpaksa harus mencurahkan waktunya untuk membahas masalah-masalah kenegaraan dan mengawasi pertahanannya. Usaha ketika itu begitu primitif dan janggal bagi mereka yang mempraktekkannya untuk melakukan hak yang telah dibawanya sejak lahir sebagai serdadu dan warga negara. Dengan demikian, para filusuf dan pembuat hukum, bila berharap untuk mempunyai prajurit dan warga negara dalam republiknya yang heroik, terpaksa harus mentolerir adanya budak. Tetapi, bukankah kaum moralis dan para ekonom kapitalisme memuji-muji kerja upahan, yakni perbudakan modern. Dan kepada siapa perbudakan kapitalis ini memberikan waktu luang? Kepada orang-orang seperti Rothschild, Schneider dan Madame Boucicaut—orang-orang yang tak berguna dan berbahaya karena kejahatan-kejahatannya dan karena pelayan-pelayan domestiknya. “Prasangka tentang perbudakan mendominasi pikiran Pitagoras dan Aristoteles,”—ini ditulis dengan penuh hinaan. Namun demikian, Aristoteles meramalkan: “bahwa jika setiap alat bisa dengan sendirinya menjalankan fungsinya yang sesuai, sebagaimana mahakarya Daedalus bergerak sendiri, atau seperti tripod-tripod Vulcan36 yang mengatur dirinya sendiri secara spontan untuk kerjanya yang suci. Kalau saja, misalnya, alat-alat pemintal bisa menenun sendiri, maka mandor di bengkel kerja tidak akan memerlukan pembantu lagi, begitu pula majikan para budak.”

Impian Aristoteles adalah kenyataan kita sekarang. Mesin-mesin kita, dengan nafas dari api, dengan kaki dan tangan dari baja yang tak kenal lelah, dengan kaya hasil, hebat tak kenal lelah, penuh kepatuhan menyelesaikan sendiri kerjanya yang suci. Namun demikian, kejeniusan filusuf-filusuf besar kapitalisme tetap didominasi oleh prasangka tentang sistem upahan, yakni yang terburuk dari segala perbudakan. Mereka belum juga mengerti bahwa mesin adalah penyelamat umat manusia, sang dewa yang akan melepaskan manusia dari kerja kasar dan kerja upahan, sang dewa yang akan memberi manusia waktu luang dan kebebasan.

1 Rothschild Family adalah yang paling terkenal di antara semua dinasti perbankan Eropa, yang selama sekitar 200 tahun berpengaruh sangat besar terhadap sejarah ekonomi—dan secara tidak langsung juga sejarah politik—Eropa. Perusahaan ini didirikan oleh Mayer Amschel Rothschild dan lima putranya (Amschel Mayer, Salomon Mayer, Nathan Mayer, Karl Mayer, dan Jakob atau James). Memulai dengan sebuah perusahaan perbankan di Frankfurt, Mayer dan anak-anaknya ini kemudian menjadi bankir internasional, mendirikan cabang-cabang perusahaannya di London, Paris, Vienna dan Naples pada era 1820-an. (Sumber: Encyclopaedia Britannica Deluxe Edition 2004)
2 Para penjelajah Eropa tertegun saat melihat kecantikan fisik dan pembawaaan orang-orang dari ras-ras primitif yang mempesona, tidak terkotori oleh apa yang oleh Paeppig disebut “nafas peradaban yang beracun.” Berbicara tentang orang-orang Aborigin di Kepulauan Oceanik, Lord George Campbell menulis: “Tidak ada satu masyarakat pun di dunia ini yang mencolok mata pada pandangan pertama secara lebih menyenangkan daripada mereka. Kulit mereka yang mulus dan terang seperti warna tembaga, rambut mereka yang keemasan dan keriting, wajah mereka yang cantik dan bahagia. Singkat kata, keseluruhan sosok mereka membentuk suatu spesimen yang baru dan cantik dari ‘genus homo’; tampilan fisik mereka memberi kesan suatu ras yang lebih unggul dibandingkan kita.” Orang-orang beradab di Romawi kuno menyaksikan Caesar dan Tacitus yang memandang, dengan kekaguman yang sama, orang-orang Jerman dari suku-suku komunis yang menyerbu imperium Romawi. Menyusul Tacitus, Salvien, pendeta abad ke lima yang mendapat nama belakang Uskup Agung, menganggap kaum barbar sebagai contoh orang Kristen yang beradab: “Kita ini tidak layak/kurang ajar di hadapan kaum barbar yang lebih bersih dibandingkan kita. Bahkan lebih dari itu, kaum barbar sakit hati karena kurangnya kesopanan kita. Kaum Goth tidak mengizinkan para debauchee [orang yang diserahkan untuk sebuah pesta pora, yang biasanya juga ada pesta seks/orgy di dalamnya—sumber: Encarta Dictionary dan Merriam-Webster’s 11th Collegiate Dictionary] dari bangsanya sendiri untuk tetap berada di antara mereka. Sendirian di tengah-tengah mereka, dengan privilese menyedihkan tentang kebangsaan dan namanya, bangsa Romawi punya hak untuk berperilaku kotor (Praktek hubungan seks oleh pria terhadap bocah laki-laki pada waktu itu merupakan tren puncak baik di antara kaum Pagan maupun kaum Kristen). Orang-orang tertindas berlari mendatangi kaum barbar untuk mencari belas kasihan dan perlindungan.” (De Gubernatione Dei) Peradaban lama dan Kristianitas yang kini bangkit menggerogoti kaum barbar dunia kuno, sebagaimana Kristianitas lama dan peradaban kapitalis modern kini menggerogoti kaum liar dunia baru.

M.F. LePlay, orang yang bakatnya dalam bidang pengamatan harus diakui, meski kita menolak kesimpulan-kesimpulan sosiologisnya yang dicemari dengan farisaisme filantropis dan Kristen, mengatakan dalam bukunya, Les Ouvriers Europeans (1885): “Kecenderungan kaum Bachkir kepada kemalasan (kaum Bachkir adalah para gembala semi-nomaden di lereng pegunungan Ural di Asiatik); santainya kehidupan nomaden, kebiasaan meditasi, yang ini melahirkan individu-individu dengan karunia terbaik – semua ini sering memberi mereka suatu kekhasan dalam hal tata cara, suatu ketajaman intelijensi dan penilaian yang jarang terlihat dengan kadar sosial yang sama di peradaban yang lebih maju… Hal yang paling menjijikkan bagi mereka adalah kerja pertanian: mereka akan melakukan apapun, asalkan bukan menerima kerja sebagai seorang petani.” Pada kenyataannya, pertanian merupakan contoh pertama kerja rendahan dalam sejarah umat manusia. Menurut tradisi Injil, pelaku kriminal pertama, Cain, adalah seorang petani.
3 Peribahasa Spanyol mengatakan: Descanzar es salud. (Bersantai itu sehat.)
4 Pada Kongres Amal (Congress of Charities) pertama yang diselenggarakan di Brussels pada tahun 1817, salah satu pengusaha terkaya di Marquette, dekat Lille, M. Scrive, di hadapan sorak pujian para anggota kongres, menyatakan dengan kepuasan yang mulia tentang sebuah tugas yang telah selesai dilaksanakan: “Kami telah memperkenalkan metode-metode pengalihan tertentu untuk anak-anak. Kami mengajari mereka untuk bernyanyi selama bekerja, juga mengajari mereka untuk berhitung di saat bekerja.” Cara ini bisa mengalihkan pikiran mereka dan membuat mereka menerima dengan berani “dua belas jam kerja itu, yang memang perlu untuk mendapatkan sarana kehidupan mereka.” Dua belas jam kerja, dan kerja seperti itu, dipaksakan kepada anak-anak yang berumur kurang dari dua belas tahun! Kaum materialis akan selalu menyesal bahwa tidak ada neraka sebagai tempat untuk membalas pembunuhan filantropis Kristen terhadap masa kanak-kanak ini.
5 Periode dalam Revolusi Perancis dari September 1793 sampai Juli 1794, dimana ribuan orang dieksekusi karena dianggap musuh revolusi. (Sumber: Encarta Dictionary)
6 Pelayan yang dikurung dan dikontrol, tidak boleh ke mana-mana, selalu hanya bertugas melayani majikan.
7 Wilayah dan bekas propinsi Perancis, terletak di sebelah barat sungai Rhine. (Sumber: Encarta Dictionary)
8 Kota industri di bagian Haut-Rhin, wilayah Alsace, timur-laut Perancis. (Sumber: Encarta Dictionary)
9 Pidato yang disampaikan di hadapan International Society of Practical Studies in Social Economics (Masyarakat Internasional Kajian-kajian Praktis Ilmu Ekonomi Sosial) di Paris pada bulan Mei 1863, dan diterbitkan dalam French Economist di masa yang sama.
10 Dalam mitologi Yunani, sesosok monster bertubuh manusia dan berkepala banteng yang hidup di labirin Crete dan selalu diberi makan dengan manusia yang dikorbankan, sampai ia dibunuh oleh Theseus. (Sumber: Encarta Dictionary)
11 Penyebutan di masa lalu untuk pulau-pulau di Karibia. (Sumber: Encarta Dictionary)
12 L.R. Villermé. Tableau de L’état physique et moral des ouvriers dans les fabriques de coton, de laine et de soie (1840). Bukan karena Dollfus, Koechlin dan pengusaha-pengusaha Alsacian lainnya adalah kaum republikan, patriot dan filantropis protestan hingga mereka memperlakukan buruh mereka dengan cara seperti ini, karena Blanqui, akademisi, Reybaud, prototipe Jerome Paturot, dan Jules Simon telah mengamati keramah-tamahan yang sama untuk kelas pekerja di kalangan pengusaha yang sangat Katholik dan monarkis di Lille dan Lyons. Ada keutamaan-keutamaan kapitalis yang berselaras secara menyenangkan dengan semua keyakinan politik dan agama.
13 Orang-orang Indian dari suku-suku yang suka berperang di Brasil membunuh warga mereka yang cacat dan yang lanjut usia. Mereka menunjukkan kasih sayangnya kepada warga mereka itu dengan mengakhiri hidup yang tak lagi dihidupi dengan pertempuran, pesta dan tarian. Semua masyarakat primitif telah memberikan bukti kasih sayang ini kepada kerabatnya: kaum Massagetae dari Laut Kaspia (Herodotus), juga kaum Wen dari Jerman dan kaum Celt dari Gaul. Bahkan di gereja-gereja Swedia akhir-akhir ini, mereka mengelola klub-klub yang disebut klub keluarga, yang berfungsi untuk melepaskan para orang tua dari dukacita usia lanjut. Betapa rendahnya kaum proletar modern yang mau menerima dengan sabar kesengsaraan yang sangat parah dari kerja pabrik!
14 ’Lockout’ juga bisa berarti: diberhentikannya pekerja oleh majikan sampai syarat-syarat tertentu disepakati.
15 Dalam Kongres Industri yang diselenggarakan di Berlin pada tanggal 21 Januari 1879, kerugian industri besi Jerman selama krisis yang lalu ditaksir sebesar 109.056.000 dolar.
16 Hakim Clemenceau mengatakan di departemen keuangannya pada tanggal 6 April 1880: “Kami telah mendengar opini ini dipertahankan, bahwa tanpa tekanan pun Perancis akan tetap mengalami kerugian sebesar milyaran dolar pada perang tahun 1870, yakni dalam bentuk pinjaman-pinjaman yang secara periodik dikeluarkan untuk menyeimbangkan anggaran negeri-negeri manca; ini jugalah opini kami.” Kerugian modal Inggris untuk pinjaman bagi Republik-republik Amerika Selatan ditaksir sebesar satu milyar dolar. Buruh-buruh Perancis bukan hanya menghasilkan milyaran dolar yang dibayarkan kepada Bismarck, melainkan juga terus membayar bunga atas ganti rugi perang kepada Ollivier, Girardin, Bazaine dan para penarik pendapatan lainnya yang bertanggung jawab atas terjadinya perang dan kekacauan. Namun demikian, mereka masih punya sekeping pelipur lara: milyaran dolar ini tidak akan membawa pada terjadinya sebuah perang pembalasan.
17 Dalam agama Yunani, Demeter adalah putri dari pasangan dewa Cronus dan Rhea, merupakan adik dan istri Zeus (raja para dewa), dan dewi kesuburan. Namanya bisa berarti “ibu kesuburan” atau “ibu pertiwi.” (Sumber: Encyclopaedia Britannica Deluxe Edition 2004)
18 Di bawah rezim lama, perundang-undangan gereja menjamin adanya sembilan puluh hari istirahat bagi buruh, lima puluh dua hari Minggu dan tiga puluh delapan hari libur, yang selama masa itu mereka dilarang keras untuk bekerja. Ini adalah kesalahan besar agama Katholik, penyebab utama ketidakberagamaan borjuasi industri dan komersial: di bawah revolusi, begitu berada dalam posisi pengontrol, mereka menghapuskan hari-hari libur dan mengganti pekan yang terdiri atas tujuh hari dengan pekan sepuluh hari, agar orang-orang tidak bisa lagi punya lebih dari satu hari istirahat dalam sepuluh hari. Borjuasi membebaskan buruh dari cengkeraman gereja justru agar bisa menundukkan mereka ke dalam cengkeraman kerja.

Kebencian terhadap hari libur ini belum muncul hingga borjuasi industri dan komersial modern mewujud bentuk pastinya, yakni antara abad ke lima belas dan enam belas. Henry IV meminta kepada Paus agar hari-hari libur itu dikurangi. Dia menolak karena “salah satu bid’ah di masa kini yang berasal dari masa itu adalah mengenai pesta” (Surat-surat Cardinal d’Ossat). Tetapi pada tahun 1666, Uskup Agung Paris, Perefixus, membungkam tujuh belas orang di antara mereka di dalam keuskupannya. Agama Protestan, yang merupakan agama Kristen yang diadaptasikan dengan kebutuhan-kebutuhan industri dan perdagangan baru borjuasi, tidak begitu cemas akan kebersantaian masyarakat. Agama ini menurunkan para santo dan santa dari tahtanya di langit agar bisa menghapuskan hari-hari pesta mereka di bumi.

Pembaharuan agama dan pemikiran bebas filosofis tak lain hanyalah dalih yang memperbolehkan borjuasi yang berwatak jesuitikal dan gemar merampok untuk merampas hari-hari pesta masyarakat.
19 Pesta-pesta raksasa ini berlangsung selama berminggu-minggu. Don Rodrigo de Lara memenangkan pengantinnya dengan mengusir bangsa Moor dari Calatrava lama, dan romancero [sastra rakyat Spanyol yang berbentuk puisi balada] mengisahkan cerita ini:

les bodas fueron en Burgos

Las tornabodas en Salas:

En bodas y tornabodas

Pasaron slete semanas

Tantas vienen de las gentes

Que no caben por las plazas

(Pernikahan ini berlangsung di Bourges, pestanya di Salas. Acara pernikahan dan pesta ini menghabiskan waktu tujuh minggu. Begitu banyak orang datang sehingga kota itu tidak bisa menampungnya…)

Para lelaki dalam acara pernikahan selama tujuh minggu ini adalah serdadu-serdadu heroik di masa perang-perang kemerdekaan.
20 Sejenis minuman keras.
21 Sejenis anggur berkualitas tinggi
22 Kapital tulisan Karl Marx.
23 “Proporsi dimana penduduk negeri ini dipekerjakan sebagai pekerja domestik untuk melayani kelas kaya menunjukkan kemajuannya dalam kemakmuran dan peradaban nasional.” (R.M. Martin, Ireland Before and After the Union, 1818). Gambetta, yang telah menolak bahwa ada sebuah persoalan sosial baru sejak dia berhenti menjadi pengacara miskin atau Cafe Procope, tak ragu-ragu menyinggung kelas domestik yang senantiasa meningkat ini ketika dia mengumumkan munculnya strata sosial baru.
24 Dua contoh: Untuk memuaskan para petani India, yang kendati ada kelaparan-kelaparan periodik yang melanda negerinya tetap bersikukuh menanam opium, bukannya padi atau gandum, Pemerintah Inggris terpaksa menempuh perang-perang berdarah untuk memaksa Pemerintah Cina agar membolehkan masuknya opium India secara bebas. Orang-orang Polinesia yang tak beradab, kendati terjadi kematian yang diakibatkannya namun harus berpakaian dengan mode Inggris agar bisa mengkonsumsi produk-produk dari tempat-tempat penyulingan wiski Scotch dan pemintalan-pemintalan kapas Manchester.
25 Paul Leroy-Beaulieu, La Question Ouvrière au XIX siècle, 1872.
26 Louis Reybaud, Le coton, son regime, ses problèmes (1863).
27 Gallifet adalah jenderal yang bertanggung jawab langsung atas pembantaian ribuan orang pekerja Perancis pada hari-hari berakhirnya Komune Paris.
28 Curius Dentatus (sekitar 280 SM), pahlawan Romawi yang merupakan contoh orang yang bermoral tinggi; Bacchanalia, pesta pemujaan kepada Bacchus, Dewa Anggur.
29 Rabelais, Pantagruel, Buku II, Bab 34.
30 Paul de Cassagnac seperti bapaknya, Orsnier, adalah seorang politisi, wartawan dan petarung konservatif yang terkemuka.
31 Herodotus. Buku II.
32 Biot. De l’abolition de l’esclavage ancien en Occident, 1840.
33 Livy, Buku I.
34 Republik karya Plato, Buku V.
35 De Officilis karya Cicero, I, 42.
36 dalam agama Romawi adalah dewa api, khususnya dalam aspek-aspeknya yang merusak seperti gunung berapi atau kebakaran besar. Secara puitis, dia dianugerahi segala atribut dewa api Yunani, Hephaestus. Pemujaan terhadapnya sangatlah kuno, dan di Roma dia punya pendetanya sendiri (flamen). Festival utamanya, Volcanalia, diselenggarakan pada tanggal 23 Agustus dan ditandai dengan sebuah ritual yang tidak diketahui maknanya: para kepala keluarga-keluarga Romawi melemparkan ikan-ikan kecil ke dalam api. Karena dia adalah dewa api yang merusak, maka secara semestinya kuil-kuilnya terletak di luar kota. (sumber: Encyclopædia Britannica 2007 Ultimate Reference Suite)

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: