CORAT-CORET

PENGHIANATAN SANG KACANG

Oleh: Faries Baiquni

Hari ini adalah hari suciku, hari dimana aku kembali kemakam ku untuk bertemu sahabat-sahabatku. Riuh dan damai serasa Tuhan memberkati hari-hari ku. Sungguh bahagia, sahabat-sahabatku menyambutku dengan senandung kematian. “selamat datang sahabatku” sambut mereka dengan gembira, aku membalasnya dengan tawa seakan-akan aku telah terlahir kembali.

Saat itu laut hanya semata kaki dan bulan tergantung tepat di atas kepala. Kulangkahkan kaki menuju gerbang makamku, tapak demi tapak kususuri dan kupandangi untuk mengenang masa-masa yang telah berlalu. Namun langkah kaki ku terpaku, ketika melihat sebongkah kulit sedang menangis. Kulit itu menangis karena terjebak dalam lobang keabadian. Entah mengapa rasa iba menyapa dan memaksa rasa kasih ku untuk menolong sang kulit. Aku berpikir dan terus berpikir dan karena itu aku tetap ada. Dengan sedikit kuasa ku di hari yang suci ini, kucoba untuk menolong sang kulit. Kutatapkan kedua mata ku ke langit, dari kegelapan malam munculah seberkas cahaya. Cahaya itu berkata “hanya kematian yang dapat membebaskan sang kulit dari lobang keabadian.” Aku marah mendengarnya, dengan berteriak aku menjawabnya “apalah arti kematian jika hidup tak pernah nyata.” Cahaya itu malu mendengar kata-kataku, hingga dengan perlahan cahaya itu meredup dan akhirnya menghilang.

Rasa bimbangku semakin mendalam, seakan derita sang Kulit adalah deritaku. Kuambil seruling dari kotak kacaku, kutiup dan kumainkan nada-nada tanpa aksara, yang berarti ratapan dari segala yang hina. Entah apa syaratnya hingga angin terbangun dari tidurnya yang pulas. Tak lama kemudian angin berhembus kencang, berputar-putar dan berhenti tepat di depanku. Angin menyapaku dan berkata “berilah sang kulit sayap, maka dia akan terbang bebas seperti merpati.” “Benar” hatiku menjawab, tapi logikaku berteriak-teriak memberontak tak puas dengan kata hatiku. “Sang kacang akan terbang bebas seperti merpati, namun ketika sayap-sayapnya patah, ia akan terjatuh dan terjebak kedalam lobang yang lainnya” ujar logikaku.

Sungguh hari suciku telah ternoda, berevolusi menjadi malapetaka panjang dalam diriku. Riuh yang mendampingiku menjadi gelap dan sepi, sambutan hangat dari sahabat-sahabatku terasa dingin bagaikan es. Aku meratap, menangis dan marah hingga manusia-manusia ku hina, malaikat-malaikat kumaki, Tuhan pun ku kukutuk karena tak memberi solusi untuk masalah ini. Hatiku mengering, logikaku terhenti, darahku mendidih, mengukus tubuhku yang kurus ini. Aku berteriak-teriak bagai orang kesurupan.

“Adakah air yang mampu membasahi kemarau hatiku ini? Adakah awan yang menghantarkan logikaku yang keram didalam kotak otak ku ini? Aku hanya ingin menjadi mesin penolong, Bukan karena keagungan ku, tapi karena rasa kasihku. Wahai jiwa-jiwa yang tersesat di alam baka, berilah tetes sperma  untuk ku, hingga rahim pengetahuanku dapat berbuah dan menghasilkan jalan-jalan menuju pembebasan. Wahai Iblis yang ada di neraka, sudikah engkau membagi api untuk menerangi jalanku, jalan yang menerangiku menuju pembebasan”

Mendengar itu, bumipun bergoyang membuat seluruh makhluk tergoncang, semua berlari tunggang langgang sambil mengais benih-benih bidadari untuk di selamatkan. Aku tak perduli mereka berlari kesana kemari, aku tak perduli mereka menari tarian ketakutan untuk menghindari bumi yang sedang bergoyang. Menatap keributan itu bumi pun berteriak

“diam, diam kalian semua. Apa yang kalian takutkan dariku? Apa yang kalian cemaskan dari ku? Aku hanya bumi, ciptaan dari yang Esa. Aku tak pantas di takuti, aku tak pantas di cemaskan. Hanya Tuhan yang pantas di takuti, hanya dosa-dosa kalian lah yang pantas di cemaskan.”

Semua makhluk terdiam mendengar nyanyian malikat yang ada di atas kedua pundak mereka. Ku beranikan diriku untuk bangkit dari makam, dengan lantang ku bertanya “wahai bumi, sebijak inikah engkau? Pengetahuan apa yang kau miliki hingga berani berucap kata-kata suci ini? Apakah engkau tau rasa kalutku? Apakah engkau tau derita dari sang kulit?” Bumipun membuka tabir rahasia alam yang selama ini terpendam, yang selama ini terkunci di dalam lemari besi bersama mimpi-mimpi. Bumi bercerita tentang penghianatan sang kacang yang pergi meninggalkan kulitnya dan karena itu sang kulit terjebak di dalam lobang keabadian.

Bumi terus bercerita hingga di ujung perkara “aku bumi dan hanya tau apa yang tumbuh pada permukaan kulitku, aku hanya tau apa yang tertanam di dalam dagingku dan aku hanya tau apa yang ada di dalam perut ku.” Mendengar jawaban bumi akupun bertanya kembali “apakah engkau tau wahai bumi, apa yang dapat menghilangkan kutukan keabadian dari sang kacang?” Bumi tergelitik seakan mengejek apa yang aku tanyakan, tapi sesaat itu juga bumi menjawab “hanya ada satu cara untuk menolong sang kulit, yaitu dengan mengorbankan hati sang kacang.” Untuk ketiga kalinya aku bertanya kepada bumi ”wahai bumi siapakah sang kacang tersebut?” dengan suara lirih bumi berkata “engkau, engkau wahai pangeran kegelapan”.

Aku tersentak, dengan ribuan tetes air yang mengalir dari mataku. Kuangkat pedang yang menggantung di pinggangku, kubelah dadaku, kucabut hatiku, seketika kubakar bersama darah yang mengalir dari dalam dalam tubuhku. Kini aku tau akan teka-teki ini, kini aku tau misteri yang selama ini kucari, kini aku tau mengapa rasa ibaku membara saat menatap sang kulit. Inilah dosa masa laluku, dosa saat ku pergi meninggalkan makam ku yang terdahulu. Mungkin saat inilah aku harus menebus kesalahanku ini. Hingga waktunya telah tiba, aku tertidur dan bersemayam di makamku dengan penuh ketenangan.

MENUJU GELAP

Oleh: Faries Baiquni

Ini adalah satu tetes terakhir dari minumanku, ku tenggak dan kunikmati walau pahit terasa. Aku suka, maka tak perduli buruk rupa dan warnanya, walau kelam kuanggap suci dan kupuja. Saat itu aku pergi dari kursi milik sang penjaga, empuk dan sejuk walau hanya setengah masa. Sukur selalu ku ucap walau hati sangat kecewa, walau bimbang hanya senyum yang kubawa.

Matahari tak akan pernah tenggelam, mendampingiku di setiap jalan hingga terang benderang. Panas, hanya satu jengkal dari kepalaku, tapi aku bangga sang surya yang mengawalku. Ku terus berjalan. Disetiap perempatan ku jatuhkan sebutir telur, kutinggal pergi agar ia menetas dan tumbuh menjadi besar. Sungguh, aku berjalan hanya untuk menuju kelam, dimana tak ada cahaya yang menyilaukan. aku takut kegelapan namun aku benci akan cahaya yang menyilaukan. Hujan turun kebumi, tapi matahari tetap menemani. Kuminum setiap tetes air yang menjatuhiku, layaknya susu dari payudara sang ibu. Sejenak aku tertawa karna gembira, namun apa, semua mata memandangku dengan waspada.

Sampai di suatu masa yang tak bermakana, di sebuah tempat dimana air dan api bercumbu mesra, dimana hitam dan putih berbaur tanpa garis yang memisahkannya. Aneh memang, tapi tak ada yang mustahil jika langit yang berkata. Inikah kelam, inikah kegelapan, inikah kosong yang kutuju?

Aku berpikir dan terus berpikir, karena itu aku tetap ada. Ku coba meminum air itu, manis namun panas terasa. Lalu ku dekati api itu, hangat namun tidak menyejukkan hatiku. Tak cukup aku untuk tau, kubelalakan mataku untuk mancari hitam dan putih, kupilah-pilah namun tetap satu jua. Aku berkata Ini adalah sesat walapun nikmat, hingga akhirnya kupergi karena melihat dasar tak pondasi. Ku coba meninggalkan sebutir telur, namun tenggelam dalam air. ku meninggalkan lagi sebutir, iya terbakar menjadi abu. Aku tak menyesal karena aku tau, aku hanya benci karena tak dapat berbuat apa-apa.

Sudah sekian masa aku berjalan, lalu kucoba memandang kekiri. Merah, merah dan kokoh. inikah kebersamaan? Inikah kebebasan? Atau inikah kebenaran?. Ku datangi tempat itu, layaknya anjing yang berlari menuju tuannya. Sugguh menakjubkan, merah dan kokoh yang terajut dari butiran-butiran pasir yang termarjinalkan. Merapat dan merapat menjadi barisan yang tak terelakkan, bagaikan tembok baja yang tak termusnahkan. Aku disambut dengan gembira layaknya saudara, bebas berfikir, bebas berkarya untuk satu yang terjaga.

Untuk satu yang terjaga? Apa makna butiran-butiran pasir yang lainnya? yang menyokong hingga menjadi merah dan kokoh. Ini adalah pembodohan, tegas, kejam dan rapi. Lalu kupergi tanpa berniat meninggalkan sebutir telur disini, namun apa daya telurku terus berjatuhan di dalam lingkaran merah dan kokoh.

Kiri sungguh mengerikan lalu kutoleh kanan. Kali ini aku sungguh berhati-hati, kupandang pelan-pelan, indah memang, tapi aku ragu karena di sana sungguh menyenangkan. Kucoba kudekati langkah demi langkah, hingga di batas peralihan, kulihat mereka menari, bernyanyi, tertawa dan melepas seluruh hasratnya diatas tumpukan manusia yang menangis. Sungguh busuk, menjijikan, biadab, jancok, kontol yang terbungkus rapi bagai kado.

Lelah, aku lelah, tapi aku tak perduli. Aku terus berjalan, berjalan untuk melihat kebusukan-kebusukan, kerusakan, kehancuran dan sisi-sisi kebiadaban. Hingga mataku buta dan kegelapan menyambutku dengan bahagia.

.

BINGUNG???

pa lagi yang ku teriakan?

Semua telah ku caci, ku maki, ku ludahi, kuinjak- injak seraya tak berharga.

Semua telah ku nodai dengan kotoran- kotoran yang keluar dari mulutku ini.

Mengapa semua diam?

Mengapa mereka tak membalas mencaciku?

Mengapa mereka tak memakiku, atau menginjak- ijak kepalaku dan merobek mulutku

yang busuk ini?2vkj3mc

Apa mereka takut?

Apa mereka pengecut?

Ataukah mereka orang- orang yang sabar?

Bingung aku bingung…

Aku ingin memecahkan kepala manusia- manusia ini.

Aku ingin melihat dan merasakan isi otak mereka.

Aku ingin menjelma bersama kehidupannya.

Aku ingin………………..

.

MANUSIA=PARASIT DUNIA

Manusia.

Manusia adalah parasit dunia.

Menusuk dan menghisap sari-sari Bumi.

Meludahi Dunia dengan racun-racun Polusi.

Menginjak-injak dengan sejarah peperangan.

Apakah Manusia Diturunkan Menjadi Khalifah di Bumi?

Apakah Manusia Hanyalah Parasit-parasit Dunia?

Manusia terkutuk, tak lebih hina dari Binatang.

Rakus, Tamak, tanpa ada kepuasan yang mengahiri.

busuklah dalam neraka!!!

.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: